Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Karma Instan


__ADS_3

Dewa Binatang sangat menyukai wujud meraknya. Sekarang ekornya yang cantik dicakar singa roh dan beberapa bulu itu rontok. Di saat marah, merak yang tampak lemah di permukaan itu akan menunjuk jati dirinya sebagai kekuatan sejati.


Singa roh tidak mengerti arti keindahan. Dia hanya tidak suka merak itu menghalanginya. Namun entah kenapa, ada aura yang dia takuti pada sosok merak biru tua.


Tak perlu menunggu lama untuk pembalasan, mereka biru tua langsung melompat dan menggunakan kaki rampingnya untuk menendang singa roh hingga terpental dan menabrak pohon.


Singa roh itu mengaum kesakitan tapi tidak pingsan. Dia semakin terprovokasi dan merasa bahwa merak itu adalah lawan yang seimbang.


Membaca pikiran singa roh, Kin Wenqian memutar bola matanya. Sungguh layak disebut raja hutan!


Hasilnya, merak biru tua dan singa roh bertarung. Merak itu mematuk ekor singa roh. Dan singa roh mencoba mencakar ekor burung jelek itu. Keduanya sangat berisik sehingga Xiu Jimei mengerutkan kening.


Gadis itu melihat Dewa Binatang yang bermain-main dengan singa roh. "Tidakkah dia menyelesaikannya lebih awal? Kenapa mengatasi singa saja begitu susah?" gumamnya.


Ming Zise menggelengkan kepala, berbisik padanya. "Kultivasi Dewa Binatang ditekan setengahnya saat memasuki Dunia Langit. Tentu saja singa roh tidak terlalu kuat untuk bisa melihat aura dewa pada merak itu."


Jangan lihat singa roh yang tidak takut dengan merak biru tua, tapi Cip Cip saja tidak tahu. Ini wajar bagi Dewa Binatang untuk merasa terhina tapi tidak berdaya.


Tapi mau bagaimana pun juga merak biru tua menang. Singa roh yang melihat jika merak lebih kuat darinya langsung melarikan diri dengan tubuh terluka.


"Humph! Siapa yang begitu berani untuk melawan dewa ini! Cari mati!" Merak biru tua sombong. Saat ini ada banyak bulu merak berserakan, dia sangat tertekan.


"Baiklah, setelah berisik, kamu bisa diam sekarang dsn batu aku mematuk rumput!" Xiu Jimei menyipitkan mata ke arahnya.


"Mematuk rumput?! Apakah kamu gila memerintah dewa ini?"


"Kenapa? Tidak mau?" Xiu Jimei tidak takut dengannya.


"Lalu bagaimana dengannya?" Dewa Binatang berwujud merak menatap Cip Cip.


"..." Cip Cip awalnya ingin bersantai sebagai binatang. Dia tidak perlu menderita.


"Jangan khawatir, semua yang ikut perkemahan secara alami akan sibuk."


"..."

__ADS_1


Merak biru tua yang enggan untuk mematuk rumput akhirnya menyerah. Dia memandang beberapa rumput yang tumbuh lebih tinggi daripada rumput lain, lalu mematuknya. Tapi sungguh, rasa rumput itu tidak enak!


Ming Zise melihat Dewa Binatang yang dilecehkan oleh tunangannya, mau tidak mau terkekeh. Jarang-jarang Dewa Binatang menelan kemarahannya.


Setelah selesai mematuk, merak biru tua langsung meneguk air yang disediakan oleh Xiu Jimei.


"Rasanya sangat menyegarkan," katanya.


"Tentu saja. Air roh bermanfaat untuk tubuh jadi jangan khawatir untuk lelah."


"..." Dewa Binatang curiga jika Xiu Jimei menjadikan dirinya sebagai pekerja gratisan.


"Kupikir kamu suka makan rumput," ujar Xiu Jimei.


"Apa itu rumput? Bahkan jika aku makan rumput, rumput Alam Para Dewa masih enak."


"Oh." Xiu Jimei tidak tersinggung sama sekali karena ada belum pernah makan rumput juga.


Kin Wenqian serta yang lainnya membangun tenda. Yuu dan Poppy kembali dengan membawa kayu bakar untuk api unggun dan memasak. Sementara yang lain sibuk mengambil air, mengumpulkan beberapa sayur dan buah liat yang ada di alam.


Xiu Jimei mengumpulkan bumbu-bumbu untuk memasak. Merak biru tua muda tersinggung dan berulang kali marah pada Xiu Jimei.


"Kamu, manusia! Apakah kamu begitu tidak memiliki hati nurani? Kamu memerintah dewa ini berulang kali. Hati-hati untuk tidak dikutuk surga!" teriaknya.


Xiu Jimei sedang makan ayam panggang saat ini dan mau tidak mau menatap merak itu dengan ekspresi ketidaksenangan.


"Dikutuk surga? Kalau begitu, aku ingin surga menyambarmu dengan petir surga untuk menjernihkan otak pemarahmu."


Seketika, tanpa ada angin atau hujan, sebuah petir putih menyambar merak biru tua cukup keras hingga membuat semua bulunya menghitam.


"Ahh!!" Merak biru tua itu berteriak kesakitan dan tidak menyangka bahwa petir akan menyambutnya.


Semua orang di sana juga terkejut dan diam-diam lupa untuk makan. Cip Cip sudah berlindung di bawah pohon dengan harimau putih roh kuno. Ini menyeramkan. Harimau putih roh kuno diam-diam menelan salivanya dan ingin menggigit ekor.


Petir putih itu dipastikan hanya menyambar merak biru tua tapi membuat aura sekitarnya sedikit mencekik.

__ADS_1


Wang Xuyue, Lei Mo dan Huang Fu Shi menatap langit yang cukup cerah tanpa ada tanda-tanda hujan akan turun.


"Ini keajaiban. Apa yang dikatakan Xiao Mei pasti tidak pernah salah," gumam Wang Xuyue.


Lei Mo menyeka keringat dingin. Jika dirinya memiliki istri seperti itu, dia khawatir akan menderita sepanjang waktu. Huang Fu Shi sendiri tidak memiliki banyak perdebatan. Tapi dia juga terkejut.


Bulu merak biru tua menjadi hitam saat ini dan langsung terkapar seperti burung mati. Asap hitam mengepul dari tubuhnya dan menguarkan bau gosong daging yang cukup menyengat.


Xiu Jimei juga sedikit penasaran. Apakah surga begitu mudah untuk diajak bekerja sama? Batinnya.


Melihat Dewa Binatang yang belum pulih dari sambaran petir surga, Xiu Jimei merasa sedikit bersalah.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya.


Ming Zise sama sekali tidak khawatir. "Bahkan jika dia terkena sambaran petir surga, dia tidak bisa mati. Seret saja dia dan biarkan pulih sendiri," jawabnya.


"Yakin?" Xiu Jimei merasa hati nuraninya bersalah.


"Jangan khawatir. Denganku di sini, tidak akan terjadi apapun. Dia akan mulai menjaga mulutnya di masa depan."


Ming Zise masih tahu karakter Dewa Binatang. Memprovokasi orang yang dilindungi surga, pasti membuat nya tidak berdaya di masa depan. Sekarang Dewa Binatang terkena hukuman oleh kesombongan nya sendiri. Pantas didapat.


Pada akhirnya, Yuu menyeret merak yang gosong itu ke sisi lain seperti membuat bangkai.


Tak lama kemudian, merak biru tua sadarkan diri dengan tubuh kesakitan. Dia juga masih bisa merasakan energi listrik mengalir di tubuhnya dsn sangat tidak nyaman. Saat menyentuh air untuk membersihkan bulunya yang hitam, dia tersetrum.


"Ahh! Aku tahu itu salah! Aku tidak berani lagi." Dewa binatang sedikit tidak berdaya dan akhirnya mendapatkan kembali warna bulunya yang cantik.


Ketika bertemu dengan tatapan Xiu Jimei, dia tidak lagi berani untuk membuat lelucon. Surga benar-benar menghukumnya. Apa kata penghuni Alam Para Dewa saat tahu dirinya disambar petir surga?


Namun sayangnya, Ming Ming tidak bekerja sama dengannya sama sekali. "Sayangnya berita itu sudah sampai ke Alam Para Dewa dan beberapa binatang mulai menyembah Tuhan untuk keselamatan dewa mereka."


"..." Mendengar ini, Dewa Binatang ingin pingsan.


"Ternyata kamu adalah merak Alam Para Dewa. Tidak heran begitu sombong saat bicara dengan Xiao Mei," ujar Lei Mo.

__ADS_1


"..." Bisakah aku pura-pura tidak tahu? Batin merak biru tua.


__ADS_2