Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Keanehan Demi Keanehan


__ADS_3

Sungai di Negeri Alam Baka jelas selalu yang terbaik. Selain airnya yang jenis dan menyegarkan, ada banyak ikan yang hidup di dalamnya. Jadi Xiu Jimei terkejut ketika mendengar berita tersebut. Keluarga Fu juga tidak memberitahunya tentang ini.


Mungkin ada orang yang mencarinya hari itu tapi Xiu Jimei atau Xiu Jikai tidak ada. Jadi mungkin saja di saat keduanya tidak ada, utusan keluarga Fu mencarinya? Atau tidak? Jika ada yang mencarinya, kepala pelayan Istana Golden Lotus akan menyampaikan kabar tersebut.


Setelah mendengarkan diskusi orang-orang di kotak sebelah, Xiu Jimei berpikir untuk pergi ke Negeri Alam Baka besok.


“Apakah sungai yang terkenal di Negeri Alam Baka benar-benar mengering? Kenapa berita ini tidak menyebar secara luas?” Lei Mo sedikit berbisik.


Untungnya orang-orang di kotak sebelah bukan kultivator yang kuat sehingga bisikannya hanya bisa didengar oleh Xiu Jimei, Huang Fu Shi dan Ming Zise.


“Aku juga tidak tahu.” Huang Fu Shi menggelengkan kepala. Kemungkinan besar hanya ayahnya saja yang tahu tentang masalah ini. Ia melirik Xiu Jimei. “Apakah kamu berniat untuk pergi ke sana?”


“Ya.”


“Kalau begitu, aku juga akan ikut. Beri tahu aku kapan waktunya.”


“Besok saja, lebih cepat lebih baik,” katanya.


“Baiklah, aku akan datang ke istanamu besok.”


“…” Lei Mo yang belum pulih dari pikirannya terkejut. Karena Huang Fu Shi akan pergi, maka dia juga akan pergi ke sana.


Karena informasi penting yang tak sengaja mereka dengar, ayam pengemis di atas meja rasanya tidak harum lagi. Dan Ming Zise yang berkencan dengan Xiu Jimei sebelumnya, kini menjadi makan malam kelompok. Dua anjing lajang itu sungguh pengganggu.


Saat Xiu Jimei dan Ming Zise kembali ke Istana Golden Lotus, Xiu Jikai sudah tidak ada. Kepala pelayan berkata jika Xiu Jikai pergi ke Negeri Alam Baka untuk mengurus sesuatu dan meminta gadis itu menyusulnya besok. Xiu Jimei menebak jika kakaknya juga pergi untuk urusan sungai Negeri Alam Baka yang mengering.


“Ming Ming, apakah kamu kembali ke Alam Para Dewa sekarang?”


“Ya …” Ming Zise enggan sebenarnya, tapi tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Ia harus kembali untuk mengurus sesuatu. “Jangan khawatir, tidak akan lama. Hanya ada beberapa hal yang harus diurus.”


Tanpa diduga, keduanya mendengar suara Roh Bunga yang berteriak marah. Suara itu berasal dari gazebo halaman belakang. Xiu Jimei segera pergi untuk mengeceknya. Tanpa diduga, ia melihat Roh Bunga yang memegang sate ayam dan menodongkannya ke arah Dewa Obat.

__ADS_1


Xiu Jimei terkejut. Dewa Obat masih ada di sini, sungguh tak terduga. Bahkan sudut mulut Ming Zise berkedut. Dia memiliki firasat jika dewa tua itu masih di sini untuk membeli pil kebangkitan dari Xiu Jimei.


Aroma sate ayam mulai menguar. Xiu Jimei melihat alat pemanggangan sate yang masih berisi arang panas.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya.


Pertengkaran dewa tua dengan Roh Bunga terhenti. Roh Bunga sedikit canggung dan menyimpan sate ayam yang sempat ditodongkannya pada Dewa Obat.


“Anak Majikan, kamu sudah pulang. Sepertinya ini belum terlalu larut, kenapa kalian berdua sudah kembali?” Roh Bunga tersenyum ramah dan ekspresi galak sebelumnya menghilang.


“…” Dewa Obat tidak yakin, apakah Roh Bunga ini memiliki kepribadian ganda atau tidak. Tapi pria itu seperti singa yang mengamuk dan kini menjadi kucing yang jinak.


Xiu Jimei tidak memedulikan apa yang diperdebatkan keduanya. Ia masih memikirkan tentang sungai yang mengering di Negeri Alam Baka.


“Aku pulang karena memang ada sesuatu yang harus kulakukan besok.”


“Apakah tentang kekeringan di sungai utama Negeri Alam Baka?” tebak Dewa Obat.


“Belum ada kepastian tentang dewa bencana yang baru." Dewa Obat menggeleng kepala, merasa edikkt disayangkan. "Jangan khawatir tentang ini. Aku akan kembali dan menanyakannya pada Dewa Pencipta Alam Para Dewa."


Dewa Obat tiba-tiba saja mendapatkan pesan surat spiritual dari Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Dia harus segera kembali untuk mengecek kesehatan Dewa Pencipta Dunia Langit. Ming Zise juga harus kembali malam ini dan datang lagi besok untuk menemani tunangannya.


Setelah berpamitan, Dewa Obat dan Ming Zise meninggalkan Istana Golden Lotus. Ketika menginjakkan kaki di tanah berumput Alam Para Dewa, Dewa Obat tiba-tiba saja melolong kesal. Dia lupa jika kedatangannya ke Istana Golden Lotus untuk bernegosiasi tentang pil kebangkitan itu.


"Kenapa kamu tidak mengingatkan ku sebelumnya?" Dewa Obat kesal, melirik Ming Zise yang terlihat polos.


"Apa yang ingin aku ingatkan padamu?"


"..." Benar saja, pria dengan otak cinta tidak memikirkan hal lain. Dewa Obat hanya bisa pergi dengan frustrasi.


Melihat sosok dewa tua yang bergumam tidak jelas sepanjang jalan, Ming Zise hanya tersenyum datar dan kembali ke istananya.

__ADS_1


Setibanya di Istana Minglan, Ming Zise telah kembali ke wajah dingin dan seriusnya. Dia duduk di kursi utama, memanggil Wuming dan Yamla.


"Tuan, apakah da perintah?" Wuming berlutut seraya sedikit menunduk. Ular putih kecil yang melilit lehernya tidak bicara.


Ming Zise memikirkan sesuatu. Dia menopang dagunya di lengan kursi dan menunjukkan tatapan datar. "Pergi dan selidiki, apakah sungai yang mengering di Negeri Alam Baka ada hubungannya dengan Alam Neraka atau tidak."


Wuming tidak mengerti kenapa Ming Zise ingin menyelidiki urusan Dunia Langit. Tapi pasti ada hubungannya dengan Xiu Jimei bukan?


"Ya." Wuming segera menghilang dari tempatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Xiu Jimei pergi ke Negeri Alam Baka dan bertemu dengan anggota keluarga Fu lainnya. Dia berencana untuk bersembunyi ketika melihat kakeknya nanti. Namun untungnya Fu Hang sedang pergi atas perintah istana kekaisaran dan belum kembali sejak kemarin malam.


“Apakah ini begitu serius?” tanyanya pada kembarannya.


Xiu Jikai mengerutkan kening dan mengangguk sedikit. “Sungai besar yang sering digunakan banyak orang benar-benar mengering dan sungai-sungai kecil mulai surut. Aku sudah memeriksa sekitar dan beberapa kemungkinan yang bisa membuat sungai mengering. Tapi tampaknya ini bukan buatan alam.”


Memikirkan masalah ini, wajah Xiu Jikai menggelap. Semuanya tampak aneh, ikan di sungai mati, tanahnya masih agak lembap tapi sumber air tidak ditemukan. Belum lagi air sungai juga terhubung ke ngarai, lembah, laut serta mengalir dari mata air pegunungan.


Tiba-tiba saja mengering, sungguh tidak masuk akal.


“Penyebabnya masih belum ditemukan?” Xiu Jimei terkejut. Dia berpikir jika masalah ini akan segera diselesaikan.


Lei Yuan dan Huang Fu Shi yang pada dasarnya mengikuti Xiu Jimei, terkejut juga setelah mendengarnya. Ini belum pernah terjadi selama seratus tahun terakhir bukan?


“Lalu … apa yang harus kita lakukan sekarang? Kan tidak mungkin sungai mengering begitu saja jika terisap ke dalam tanah?” Lei Mo menebak secara acak.


Xiu Jikai menggelengkan kepala. “Aku sudah memeriksanya, tidak ada lubang apapun.”


Huang Fu Shi terdiam sepanjang waktu dan akhirnya berkata. “Mungkin seseorang dengan kemampuan elemen air melakukannya?”

__ADS_1


__ADS_2