
Tidak ada binatang roh yang mereka jumpai saat ini. Hutan tampak sunyi. Mereka mencoba mencari jalan keluar seraya menunggu gulungan tugas diperbarui. Mungkin akan ada perubahan dari pihak lain.
Hingga akhirnya, mereka bertemu dengan beberapa binatang roh alam sekuler yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan bintang roh Dunia Langit.
"Itu rusa roh!" Yan Yujie sedikit takjub dengan tanduk rusa yang sangat panjang dan memiliki warna yang cantik.
Rusa roh itu setinggi satu meter dan tanduknya juga memiliki tinggi yang sama. Saat melihat sekelompok kultivator memasuki wilayahnya, rusa roh itu bersuara nyaring dan langsung mengejar mereka.
Mau tidak mau, mereka memilih untuk meninggalkan tempat itu. Tapi sebagai gantinya, hidup rusa roh juga berakhir di tangan Xiu Jimei.
"Kita bisa makan rusa panggang," kata gadis itu senang.
Tanpa sadar, beberapa binatang roh tak sengaja melihat adegan mengerikan tadi pun langsung melarikan diri. Mereka tidak mau dimakan.
Hutan lagi-lagi sunyi.
"..." Xiu Jimei melihat para binatang roh pergi dengan cepat pun merasa kebingungan. Apa yang salah dengan mereka?
Tanpa diduga, kelompok Xiu Jimei juga berpapasan dengan kelompok lainnya. Tak terkecuali kelompok Huang Fu Shi. Jadi mereka semua bergabung untuk menunggu tugas sampingan.
Sayangnya meski alam sekuler tidak memiliki energi spiritual yang kaya, para kultivator Dunia Langit tidak berbicara kasar.
Mereka tidak ingin merendahkan kultivator alam sekuler. Bagaimana pun juga, ada beberapa kultivator sekuler yang bekerja pada kelompok lain dan kekuatan mereka tidak kecil.
Hanya saja, teknik peremajaan kulit tidak sebagus Dunia Langit. Jika kultivator Dunia Langit terlihat seperti remaja, padahal usianya sudah seratus tahun.
Tapi kultivator alam sekuler berbeda. Fisik dewasa mereka setidaknya seperti kultivator berusia ratusan tahun tapi sebenarnya kurang dari seratus tahun. Ini mengejutkan awalnya.
Hingga saat malam tiba, gulungan tugas memuat cabang tugas baru. Semua murid ujian diminta untuk menjelajahi beberapa tempat yang cukup berbahaya.
Misalnya lembah hantu, lembah siluman, danau ilusi, hutan penyihir, serta masih banyak lagi. Mereka tidak tahu apa tujuan dari semua ini. Mungkin hanya murni keingintahuan para penguji ujian bakat spiritual gabungan.
Meksi begitu, mereka tidak bisa protes. Malam ini, mereka membuat kantong tidur di hutan sambil membuat api unggun.
__ADS_1
"Aku tidak terbiasa tidur tanpa udara yang baik," ujar Wang Xuyue.
"Jangan katakan ini pada kultivator alam sekuler," timpal Jia Lishan.
"Aku tidak bodoh." Wang Xuyue juga tahu tentang ini.
Malam terus berjalan dan mereka mulai tidur untuk mengisi energi di pagi hari.
Ming Zise bersandar pada salah satu batang pohon sambil memejamkan mata. Suasana di sekitar tampak sunyi. Hingga akhirnya dia membuka mata, perlahan mendekati Xiu Jimei yang tertidur pulas.
Dia ingin memasuki mimpinya lagi untuk berbuat hal-hal tercela. Tapi tiba-tiba saja Wuming sang penjaga rahasianya muncul tanpa suara.
"Ada apa?" Ming Zise telah membuat aura pengantar tidur sehingga mereka tidak akan terbangun meski mendengar suara teriakan.
"Tuan ... Ini sedikit tidak baik di Istana Minglan," jawab Wuming sambil berkeringat dingin. Laki-laki itu tidak berani menatap Ming Zise karena masalah ini pasti tidak bisa diselesaikan olehnya.
"Ada apa dengan Istana Minglan?"
"Dewi Kecantikan datang ke Istana Minglan untuk bertemu Tuan. Dia tidak mau pergi sebelum tuan menemuinya."
Ning Siyu adalah Dewi Kecantikan Alam Para Dewa. Dia sangat cantik dan berbakat tapi sedikit berambisi. Ming Zise tidak pernah mau berurusan dengan keinginan para dewi dan secara tidak sadar selalu menolak kehadiran Ning Siyu.
Dulu ada rumor yang mengatakan jika Ning Siyu dan Ming Zise adalah pasangan yang cocok. Sayangnya tidak berjodoh setelah dewa jodoh membuat bintang phoenix Ming Zise hadir.
Hal ini membuat Ning Siyu terpukul dan sedih. Lalu tidak pernah datang lagi. Sekarang dewi kecantikan datang ke Istana Minglan, belum tahu pasti apa tujuannya.
"Tuan, haruskah pergi terlebih dahulu dan kembali sebelum fajar?" tanya Wuming.
"Kamu tidak bisa mengatasinya?" Ming Zise berkata acuh tak acuh.
"Tuan!" Wuming malu. Tentu saja dia tidak bisa mengatasi seorang dewi. Dia hanya bawahan kecil di samping Ming Zise.
"Kamu tetap di sini dan jaga mereka. Aku akan pergi." Ming Zise memutuskan untuk menyelesaikan urusan di Alam Para Dewa terlebih dahulu agar bisa berada di samping Xiu Jimi dengan tenang.
__ADS_1
"Ya." Wuming menghela napas lega. Dia lebih suka menjaga ketujuh kultivator ini dibandingkan berhadapan dengan Ning Siyu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Alam Para Dewa, Ming Zise kembali ke Istana Minglan nya yang indah. Para pelayan dan penjaga istana sedikit membungkuk untuk menyambut tuannya kembali. Di antara mereka ada di sedikit kecemasan. Saat ini, mereka kedatangan tamu yang tak diundang.
Ming Zise pergi ke ruang utama di mana seorang wanita bergaun merah muda duduk dengan anggun sambil minum teh bunga. Saat melihat pria yang datang, dia tersenyum malu.
"Zise, kenapa kamu pergi begitu lama? Aku sudah lama tidak melihatmu," ujar Ning Siyu lembut.
Suaranya sangat bagus dan merdu, rambut hitamnya tergerai indah dengan jepit rambut yang tampak mewah dan mahal tapi tidak terlalu berlebihan.
"Ada apa berkunjung ke tempatku?" tanya Ming Zise tanpa basa-basi. Dia duduk di seberang Ning Siyu tanpa ekspresi lain selain datar dan terasing.
Ning Siyu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan emosi di hati. Dia tahu jika pria ini turun ke Dunia Langit untuk menemukan kultivator kecil itu. Terus jadi apa?
Kecantikannya tak bisa dibandingkan dengan Xiu Jimei yang hanya seorang kultivator kecil. Dia dulu menenangkan diri setelah tahu Ming Zise berjodoh dengan seorang kultivator Dunia Langit. Namun kali ini dia memiliki rencana lain.
Dia sudah menyukai Ming Zise sejak lama. Kenapa harus menyerah begitu saja. Bukankah itu artinya dia kalah dari seorang gadis biasa itu?
"Zise, aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu. Aku sudah lama mengagumimu, tidak bisakah kamu memandangku sedikit saja?" Ning Siyu mulai berharap jika Ming Zise akan berubah pikiran kapan saja dan melihat kecantikannya.
Dia adalah dewi kecantikan Alam Para Dewa yang dipuja oleh para pria dan juga merupakan simbol kecantikan semua wanita di dunia ini. Dia sering menggunakan cermin langit untuk mengetahui atau mengubah baik dan buruknya seseorang.
"Kamu datang hanya untuk ini?" Ming Zise mengerutkan kening. Ini membuang banyak waktunya.
"Tentu saja. Aku sudah berpikir sepanjang waktu selama beberapa tahun sekali. Aku tidak akan menyerah padaku. Aku tak lebih buruk dari Xiu Jimei. Kenapa kamu mau menerima perjodohan dewa jodoh? Jelas dia hanyalah manusia langit yang tidak bisa menandingi kekuatan kita sebagai dewa dan dewi. Siapa tahu ini hanyalah konspirasi."
"Ning Siyu, cukup! Jika kamu datang hanya untuk ceramah, maka kembalilah ke istanamu. Aku sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mengurus hal ini. Kamu bukan jodohku, jangan menentang hukum alam!" Ming Zise bukan pria yang baik pada waktu tertentu, terlebih saat pihak lain menginjak garis bawahnya.
Dia adalah pria yang taat hukum dewa alam semesta.
Ming Zise bangkit dan berbalik untuk meninggalkan Istana Minglan. Namun Ning Siyu tidak mau pria itu pergi, bangkit dan langsung memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan pergi!"