
Roh Bunga bergegas menuju gunung yang dimaksud oleh Xiu Jimei. Dia tiba tak lama setelah mendapatkan kabar. Ketika melihat Whitely terluka parah di dadanya, ekspresi Roh Bunga serius.
"Apa yang terjadi? Kenapa Baiyura memiliki luka yang sangat dalam seperti ini?" tanyanya penasaran.
"Ceritanya panjang. Kamu obati dulu dia," jawab Reddish tidak sabar.
Roh Bunga segera memeriksa kondisi Whitely saat ini sambil merasakan getaran. Gunung ini tampaknya bergetar saat ini. Apa yang terjadi?
Saat Roh Bunga menggunakan kemampuan energi spiritual tumbuhan berbunga, beberapa informasi akhirnya dikumpulkan. Ternyata ada sesuatu di dalam gunung ini.
Saat ini Roh Bunga fokus mengobati luka Whitely yang terlihat mengerikan. Dia berterima kasih pada Xuan Xing karena telah menghentikan pendarahan dengan membekukan sekitar luka.
"Aku harus meracik obatnya dulu saat ini. Butuh sedikit waktu." Roh Bunga mengeluarkan tungku obat, beberapa akar herbal, berbagai jenis bunga herbal serta bahan lainnya.
Tidak ada yang mau mengganggunya saat ini. Roh Bunga harus fokus saat membuat obat.
"Lukanya mengandung racun yang tidak diketahui. Belum lagi tubuhnya terkontaminasi energi spiritual kegelapan sehingga energi spiritual di tubuhnya kacau saat ini. Pertama-tama, aku harus mengeluarkan racunnya dulu. Tapi racun ini ... aku baru pertama kali mengenalinya." Roh Bunga agak ragu saat ini. Haruskah dia mengundang Raja Racun Kuno—Bai Shiyu?
"Racun seperti ini baru pertama kali aku temukan di Dunia Langit. Sehingga membutuhkan waktu untuk mencoba beberapa penawar sebelum diberikan pada Baiyura," jelasnya lagi.
"Tidak masalah." Whitely yang mendengarnya sama sekali tidak terburu-buru. "Aku bisa menahannya lebih lama lagi."
"Bagus kalau begitu."
Di saat Roh Bunga meracik obat penawar untuk Whitley, Wuming dan Yamla melaporkan semuanya pada Ming Zise yang ada di Alam Para Dewa saat ini.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, Ming Zise datang tanpa protes. Wajahnya sedikit tegang. Ketika dia melihat Xiu Jimei baik-baik saja, batu besar di hatinya bisa diangkat.
Namun meski begitu, Xiu Jimei mengalami sedikit luka internal. Tapi saat ini gadis itu sibuk mengkhawatirkan luka Whitely.
"Guru ..." Xuan Xing menjadi yang pertama kali melihat Ming Zise saat ini.
__ADS_1
Empat makhluk suci ilahi kuno tidak memedulikan keberadaan Ming Zise selama ini. Ketika pria itu datang, mereka menoleh. Xiu Jimei akhirnya bisa mengadu pada Ming Zise tentang naga ungu di bawah gunung ini.
Ming Zise sangat ingin menampar pantat gadis itu sekarang. Berani-beraninya mencari kematian. Naga ungu Alam Neraka bukan lawan manusia Langit. Bukan juga lawan kultivator ranah kekosongan.
Gunung masih bergetar saat ini. Ming Zise memeriksa tubuh Xiu Jimei lebih dulu sebelum akhirnya berniat untuk pergi ke dalam gunung. Namun Blacky menghentikannya dulu.
"Kamu mantan dewa tanpa hati nurani. Setidaknya beri tahu kami, apakah ada obat yang cocok untuk mengeluarkan racun dari tubuh Baiyura?"
Ming Zise menaikkan sebelah alisnya, tampak santai. "Jangan khawatir, selalu ada cara," jawabnya.
"...?!!" Blacky sangat marah hingga dia ingin berubah menjadi ular dan mencekiknya saat ini. Jika bukan Bluewy yang menahan dirinya, mungkin sudah terjadi saat ini.
Ming Zise segera pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Blacky akhirnya meledak di tempat. "Apa maksudnya? Kenapa dia begitu sombong? Anak Majikan, pria itu tidak cocok untukmu. Putus saja dengannya!"
Sudut mulut Bluewy dan Reddish berkedut. Xiu Jimei tidak menanggapi sama sekali. Sekarang situasi di dalam gunung juga genting. Tidak tahu bagaimana keadaan Jin Long saat ini.
Hanya saja tak lama setelah Blacky marah-marah, seekor angsa putih raksasa terlihat di langit menuju ke arah mereka. Di punggung angsa putih terdapat seorang pria tua berjubah brokat hijau muda yang terlihat mewah dan elegan.
Ketika angsa putih besar itu mendarat tak jauh dari mereka, pria tua berjubah brokat hijau muda menghampiri mereka dengan ekspresi serius.
"Siapa yang terluka? Dewa ini datang untuk menyembuhkan orang," kata pria tua itu.
"Siapa kamu?" tanya Blacky agak agresif. Dia sedang marah pada Ming Zise saat ini.
"Aku adalah Dewa Obat dari Alam Para Dewa. Tuang Ming memintaku datang untuk mengobati orang," jawab Dewa Obat santai.
Blacky merasa tidak percaya. "Kamu? Seorang dewa? Apakah tidak salah? Sejak kapan dewa menunggangi seekor angsa jelek yang bahkan tidak bisa mengangkat gunung?" ejeknya.
Angsa putih yang awalnya terlihat santai langsung menatap Blacky dengan tatapan mengejek. Tentu saja angsa putih juga memiliki kesadaran spiritual. Sebagai binatang roh Alam Para Dewa, angsa putih juga sombong.
__ADS_1
Karena tidak terima dengan ejekannya, angsa putih itu beduara nyaring dan langsung berlari ke arah Blacky dengan leher menjulur ke depan. Dia bersiap untuk mematuknya.
Bulu putih angsa berubah menjadi merah dan ujung-ujung sayapnya runcing seperti pisau.
"...?!" Blacky tidak menduga jika angsa putih itu berubah menjadi merah. Mau tidak mau dia berlari untuk menghindari kejarannya.
"Ah!! Kenapa menjadi seperti ini?!" teriak Blacky di kejauhan.
Melihat Blacky dikejar angsa, Dewa Obat batuk kecil, pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Baiklah, waktunya untuk mengobati yang terluka," katanya.
"..." Yang lainnya juga pura-pura tidak tahu bahwa Blacky dikejar angsa hingga kaki gunung.
Dewa Obat segera memeriksa keadaan Whitely saat ini. Roh Bunga yang melihatnya langsung menghela napas. Setidaknya dia tidak akan repot-repot memikirkan obat penawar racunnya sekarang.
Tapi Dewa Obat menatap Roh Bunga dengan pandangan berarti. "Datanglah ke sini dan bantu Dewa ini meracik obat," katanya.
"..." Roh Bunga memiliki firasat buruk saat ini. Tapi dia masih mematuhinya.
Tanpa diduga, Dewa Obat menjadikan Roh Bunga sebagai asistennya saat ini. Dia diminta untuk ini dan itu dan Dewa Obat salah paham jika Roh Bunga adalah wanita.
"Pak Tua, kamu sengaja bukan?" Roh Bunga tidak tahan lagi saat dia memegang mangkuk obat yang baunya tidak layak disebut. Baunya sangat buruk.
"Nak, meskipun kamu cantik, tangan-tangan mu sangat terampil seperti tangan seorang pria," katanya.
Wajah Roh Bunga langsung menghitam. "Aku adalah seorang pria. Pria sejati! Beraninya kamu menyebut aku ini wanita?!"
"..?!!" Dewa Obat bingung saat ini.
Roh Bunga memang memiliki suara seperti pria tapi masih ada nada centil dalam suaranya. Oleh karena itu, Dewa Obat mengira jika Roh Bunga ini adalah wanita yang menyamar menjadi seorang pria.
__ADS_1
Kecantikan Roh Bunga tidak ada duanya. Tapi Xiu Jimei lebih cantik. Konteksnya, Roh Bunga adalah yang tercantik di antara semua pria di Dunia Langit ataupun alam sekuler.
Dewa Obat masih tidak percaya. "Kamu seorang pria? Tapi kenapa aku tidak merasakannya?"