Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Malam Tanpa Tidur


__ADS_3

WARNING++


...----------------...


Ming Zise membawa gadis itu ke tempat tidur tanpa persetujuan. Tubuhnya sedikit panas kali ini karena efek anggur yang kuat. Saat pria itu melepas jubah luar dan sabuk mahalnya, Xiu Jimei masih malu-malu.


Ketika seorang pria membuka pakaian secara terang-terangan, wanita mana yang tidak malu dan canggung kecuali seorang nimp*mania?


Tubuh Ming Zise bagus. Xiu Jimei akui itu.


"Apakah Mei'er masih malu? Ini bukan sekali dua kali kita melakukannya?" Ming Zise tersenyum.


Tirai tempat tidur diturunkan sehingga pemandangan di dalam menjadi kabur. Ming Zise sudah melepaskan jubah brokatnya yang mahal dan sedikit demi sedikit melakukan pemanasan dengan gadis itu.


Wanita lebih mudah untuk tergoda. Di saat Ming Zise mengecap beberapa bagian tubuh lembutnya, Xiu Jimei sedikit mengerang. Setiap inci kulit telanjangnya sensitif saat disentuh sehingga Ming Zise suka menggodanya lebih lama.


"Ming Ming," gumam Xiu Jimei tidak tahan. Dia menggigit leher pria itu karena berani menggodanya.


Wajah Ming Zise menjadi gelap daripada sebelumnya dan tubuhnya yang tegang menjadi lebih terprovokasi. Pria itu segera menekan Xiu Jimei di bawahnya. Napasnya sedikit berantakan.


"Mei'er benar-benar tidak tahan denganku," ujarnya.


Xiu Jimei memerah. Ming Zise menciumnya sekilas dan mulai melakukan inti dari permainan panas ini. Semua penjaga gelap dan pelayan di sekitar halaman kamar langsung menjauh dengan malu-malu. Mereka tak bisa mendengarkan suara ambigu sang putri terlalu lama.


Di dalam kamar, Ming Zise dan Xiu Jimei bertahan lebih lama. Pria itu tidak terburu-buru dan menikmati setiap gerakan yang dilakukannya. Bahkan dia menyukai suara rengekan gadis itu di telinganya.


Tirai tempat tidur bergetar ringan. Siluet keduanya dari luar tirai terlihat merangsang. Ditambah pencahayaan lilin di meja nakas, pencahayaan di dalam tirai tempat tidur menjadi indah.


Karena keduanya merupakan seorang kultivator, rasa lelah dan kantuk jarang muncul. Tapi setelah berolahraga tanpa henti hingga berkeringat banyak, Xiu Jimei mau tidak mau kelelahan. Fisik wanita berbeda dengan pria.


Di saat Xiu Jimei kelelahan hingga suaranya menjadi serak, Ming Zise masih tambah berenergi. Sadar jika Xiu Jimei kelelahan, Ming Zise tidak memaksanya untuk mengambil pose yang rumit.

__ADS_1


Tepat ketika lilin di kandil mulai meredup karena telah mencapai ujung, teriakan Xiu Jimei disertai geraman rendah Ming Zise mampu membuat siapapun berpikiran buruk.


Keduanya sama-sama mencapai puncak yang memuaskan. Terutama Xiu Jimei, ledakan musim semi di tubuhnya lebih lama dibandingkan Ming Zise. Kedua kaki Xiu Jimei melingkar di pinggang Ming Zise saat ini, menekannya dengan sedikit gemetar.


Gadis itu memeluknya lebih erat dan kedua tangannya mencakar punggung Ming Zise.


Ming Zise tidak berdaya, mencium telinga Xiu Jimei dengan lembut dan membisikkan beberapa kata manis yang menyenangkan. Alhasil, Xiu Jimei yang merasa kelelahan tiba-tiba merasa terangsang kembali.


"Ming Ming, kamu sangat buruk!" Suara Xiu Jimei serak dan dia melepaskan pelukannya.


Ming Zise tidak menjawab. Walaupun pencahayaan di kamar sudah mati, hal tersebut tidak membuat keduanya kesulitan untuk melihat.


Pria itu berbaring di samping Xiu Jimei dan mengambil pose lain yang lebih nyaman untuk Xiu Jimei. Dia menyuntikkan energi spiritual ke tubuh Xiu Jimei agar rasa lelahnya hilang.


Dan keduanya memiliki malam tanpa tidur ....


Tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan oleh pasangan itu, Ming Zise bangkit dari tempatnya tidur dan memakai jubah mandi. Dia berjalan menuju kamar mandi, mengisi air lalu buat suhunya menjadi hangat.


Untuk sesaat, Xiu Jimei merasa nyaman. Dia tidak memiliki banyak tenaga untuk bergerak setelah digauli oleh pria itu cukup lama.


"Berendam lah sebentar di sini. Aku akan membereskan sisanya." Ming Zise mengecup kening gadis itu dan keluar kamar mandi tanpa menunggunya berbicara.


Tempat tidur terlihat kusut. Seprai dan selimut berantakan karena Xiu Jimei terus mengacau sepanjang waktu. Jika tidak, Ming Zise tidak akan tergoda lagi dan lagi. Setelah mengganti seprai dan selimut, membereskan gaun dan pakaiannya sendiri.


Dalam sekejap, keadaan menjadi seperti semula. Ming Zise kembali ke kamar mandi, berendam bersama Xiu Jimei serta membersihkan diri. Tapi gadis itu masih tak bisa diam setelah dipuaskan.


"Mei'er, jangan menyulut api di tubuh dewa ini lagi," bisik Ming Zise.


Tapi Xiu Jimei yang merasa lelahnya hilang sedikit, akhirnya bisa melihat Ming Zise berendam di sampingnya seraya membersihkan diri. Dia langsung memeluknya.


"Ming Zise, aku ingin mencobanya di bak mandi," pintanya.

__ADS_1


Tubuh Ming Zise kembali kaku dan dia merasa bahwa tangan gadis itu menyelinap ke bawah tubuhnya. Wajahnya menjadi gelap setelah tahu apa yang dilakukannya.


"Mei'er lah bukan? Jangan membuat masalah. Patuh." Ming Zise berniat untuk mengambil tangan gadis itu dari bawah tubuhnya. Tapi tanpa diduga, Xiu Jimei pemarah.


Gadis itu tidak mau mendengarkan dan langsung meremas tubuh bawah Ming Zise yang sudah lama mengeras. Ming Zise yang terkejut langsung menggeram, napasnya tidak stabil. Dia langsung mencubit dagu gadis itu dan menciumnya dengan keras.


Ming Zise menggertakkan gigi. "Kalau begitu, jangan salahkan dewa ini besok!"


Akhirnya, Ming Zise memenuhi keinginan Xiu Jimei untuk melakukannya di bak mandi. Air di bak mandi sedikit demi sedikit tumpah seiring dengan aktivitas keduanya malam ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada pagi harinya, Xiu Jimei terbangun oleh aroma sup ayam. Tapi dia menyadari jika saat ini tubuhnya lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur dengan mudah. Dia ingin menyalahkan Ming Zise tapi ... saat mengingat lagi apa yang terjadi di bak mandi, wajahnya memerah.


Baiklah, ini salahnya sendiri.


Ming Zise membawa sup ayam masakannya sendiri. Dia berkata pada Fu Chan Yin dan Xiu Jichen bahwa Xiu Jimei masih tidur dan sedikit tidak nyaman. Orang pertama yang hampir marah adalah Xiu Jichen. Jika bukan karena Fu Chan Yin yang memukul punggung tangan suaminya dengan sendok sayur, mungkin keributan sudah terjadi.


"Ming Ming, apakah kamu membuat sup ayam?" tanya Xiu Jimei saat berusaha untuk bangun perlahan.


"Ya, isi kembali tubuhmu." Ming Zise meletakkan sarapan di meja dan membopong gadis itu untuk berkumur lebih dulu sebelum makan.


"Apakah ayah dan ibuku tidak curiga?"


"Mereka tahu. Jangan khawatir, ibumu sangat kuat. Ayahmu tidak berdaya."


Oleh sebab itulah Ming Zise sengaja bicara dengan Xiu Jichen saat Fu Chan Yin ada di tempat. Xiu Jichen akan dikalahkan oleh istrinya sendiri. Benar-benar menjadi budak istri.


Wajah gadis itu sedikit merah karena malu. "Ayahku akan semakin memusuhimu."


"Ini tidak lebih dari permusuhan ayah mertua dengan menantu. Mei'er tidak akan dirugikan." Ming Zise terkekeh dan memberinya semangkuk sup ayam. "Baiklah, makan. Setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

__ADS_1


"Masih pergi hari ini? Ke mana?" Xiu Jimei awalnya berniat untuk bermalas-malasan di kamar karena semalam terlalu banyak berkultivasi ganda dengan pria itu.


__ADS_2