
Beberapa hari setelah Xiu Jimei pindah ke Istana Minglan yang ada di Alam Para Dewa, rumor telah menyebar luas. Mantan dewa tertinggi yang selalu sendirian dan tidak dekat dengan wanita tiba-tiba saja membawa pulang tunangannya.
Banyak yang penasaran dengan sosok tunangan Ming Zise sehingga mereka diam-diam berjongkok di kejauhan hanya untuk melihat Xiu Jimei keluar dari gerbang istana.
Kebetulan Ming Zise mengajak Xiu Jimei berjalan-jalan untuk mengenal Alam Para Dewa. Dia membawa gadis itu ke perkotaan, melihat penghuni di sana serta toko-toko yang ada.
Semuanya tidak berbeda jauh dengan kehidupan di Dunia Langit. Hanya saja, Alam Para Dewa lebih kaya dan hampir tak terlihat adanya manusia dewa berpakaian lusuh.
"Alam Para Dewa lebih kaya. Kalau begitu, tidak ada orang-orang yang miskin di sini?" tanya Xiu Jimei seraya makan jagung bakar.
"Tentu saja ada. Di setiap dunia pasti ada. Lihat di sana." Ming Zise menunjuk ke salah satu lokasi yang cukup terisolasi dari keramaian.
Di sana, ada beberapa anak berpakaian putih tulang. Ada juga orang dewasa yang menjaga mereka. Meski tidak terlihat seperti orang miskin atau pengemis, Ming Zise berkata bahwa mereka ada orang-orang dewa yang tidak memiliki bakat apapun.
Mereka yang tidak memiliki bakat secara alami memiliki umur pendek, kultivasi mandek dan menjadi golongan paling lemah dari yang lain. Meski begitu, daripada mengejek dan menyalahgunakan mereka, orang lain lebih memilih tidak memiliki hubungan.
"Bagaimana jika mereka punya keluarga sebelumnya?"
"Tentu saja akan diasingkan. Bagi manusia dewa, anggota keluarga yang tidak memiliki bakat merupakan aib."
"Kejam sekali!" Xiu Jimei terkejut. "Setidaknya mereka tidak memutuskan hubungan kekerabatan bukan?"
Ming Zise menggelengkan kepala. "Memutuskan hubungan kekerabatan tidak jadi masalah bagi mereka. Tapi ada juga keluarga yang menyayangi keturunan tanpa bakat ini. Tapi risikonya, keluarga akan menanggung malu," jelasnya.
"Lalu ... Jika suatu hari nanti anak kita tidak memiliki bakat, apakah kamu akan mengasingkannya juga?"
"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus mengasingkan anakku sendiri? Bahkan jika anak kita tidak memiliki bakat, darah lebih kental daripada air. Atau kita bisa tinggal di Dunia Langit atau alam sekuler untuk memulai hidup baru." Ming Zise memegang tangannya dengan erat.
Xiu Jimei memerah tapi masih ingin memiliki kepastian. "Ming Ming, aku ini manusia berdarah naga. Aku bisa berubah menjadi naga. Anak kita nanti ... jika terlihat sebagai bayi naga, apakah tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak apa-apa," jawab Ming Zise enteng.
Xiu Jichen dulunya adalah penguasa naga di Dunia Iblis lalu menjadi dewa. Wujudnya memang seekor naga yang berkultivasi. Keturunannya memiliki darah naga dan bukan sesuatu yang mengherankan.
Hanya saja Ming Zise belum pernah melihat Xiu Jimei berwujud naga selama ini.
"Ayo beli beberapa makanan untuk mereka." Xiu Jimei mengajak Ming Zise ke beberapa toko makanan.
Menurut cerita Ming Zise, mereka yang diasingkan karena tidak memiliki bakat, sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Untuk makan dan biaya tempat tinggal benar-benar harus menghemat.
Xiu Jimei membeli banyak makanan yang dimasukkan ke kantong penyimpanan spiritual. Kantong penyimpanan spiritual dijual bebas di beberapa toko dan biasanya digunakan untuk menyimpan beberapa barang atau makanan. Bentuknya seperti sachet parfum yang sering digantung pada ikat pinggang.
Ketika Xiu Jimei menghampiri anak-anak tanpa bakat yang diasingkan oleh kerabat, Ming Zise tidak merasa jijik sama sekali. Orang-orang juga tahu tentang Ming Zise. Sosoknya yang tinggal di puncak tinggi Alam Para Dewa tiba-tiba saja turun ke kawasan manusia dewa, sangat langka.
Anak-anak dan orang dewasa yang diasinkan langsung berlutut dan bersujud beberapa kali untuk menyambut Ming Zise.
"Bangun. Tidak ada penghormatan apapun. Dewa ini datang hanya untuk bersenang-senang."
Mereka semua bangun. Lalu Xiu Jimei memperkenalkan dirinya secara singkat. Lalu membagikan kantong penyimpanan spiritual pada masing-masing dari mereka.
Anak-anak yang memiliki energi spiritual cacat bisa mengetahui isi kantong penyimpanan spiritual dan langsung senang. Ada banyak makanan dan uang di dalamnya. Bahkan orang dewasa sekalipun merasa tidak percaya.
Mereka mengucapkan terima kasih pada Xiu Jimei dan Ming Zise penuh ketulusan dan pemujaan.
Ming Zise memperhatikan saat Xiu Jimei menyentuh kepala mereka, aura esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya menguar dan cahaya keemasan sedikit diserap oleh mereka. Dia terkejut lalu tersenyum diam-diam.
Ternyata esensi delapan dewa-dewi memberkahi anak-anak yang terlantar dan memberikan cahaya baru bagi orang dewasa. Sehingga di masa depan, mereka penuh dengan berkah, rezeki melimpah dan kehidupan yang layak.
Tiba-tiba saja Ming Zise enggan membiarkan Xiu Jimei jalan-jalan hari ini. Di matanya, Xiu Jimei seperti Dewi Fortuna sejati.
__ADS_1
Setelah mengobrol sebentar dengan mereka, Xiu Jimei dan Ming Zise pergi ke tempat lain. Kali ini Ming Zise membawanya ke pusat Alam Para Dewa yang juga menjadi objek suci bagi semua dewa-dewi dan manusia dewa.
Di depan mereka saat ini ada sebuah pohon besar yang tumbuh subur. Daunnya lebat, batangnya kokoh dan cabang-cabangnya sesekali akan dihinggapi oleh burung-burung kecil yang suka berkicau.
"Ini ... Pohon apa?" tanyanya.
"Ini pohon keabadian." Ming Zise melihat pohon yang penuh vitalitas di depannya, perasaannya sangat segar.
"Pohon keabadian? Mungkinkah ini pohon yang kamu maksud itu? Jantung energi spiritual Alam Para Dewa?" tebaknya.
"Benar. Ini pohonnya."
"Tidak heran aku merasakan energi spiritual dewa yang sangat besar di pohon ini. Tapi tampaknya sedikit sakit?"
"Pohon keabadian telah menjadi pusat energi spiritual bagi semua makhluk di Alam Para Dewa. Perannya lebih besar daripada kita. Pohon ini jugalah yang menyebarkan energi spiritual ke setiap makhluk hidup serta membiarkan kami berkultivasi."
"Ternyata seperti itu," gumamnya.
Xiu Jimei mendekati pohon keabadian. Dia menyentuh batangnya. Tanpa diduga, salah satu cabang pohon bergerak dan merendahkan dahannya di depan Xiu Jimei.
"Ini ... apa yang terjadi?" Xiu Jimei kebingungan.
"Mei'er, pohon keabadian juga memiliki kesadaran. Dia bisa merasakan energi spiritual pihak lain yang mendekatinya. Mei'er memiliki esensi delapan dewa-dewi di tubuh yang merupakan inti semua energi spiritual di dunia kultivasi. Jika Mei'er tidak keberatan, berikan setetes esensi emas untuknya."
Ming Zise tidak malu saat meminta ini. Lagi pula sejak alam pohon keabadian sudah terluka dan energi spiritual yang dihasilkan juga tidak sebanyak sebelumnya.
Semenjak Alam Neraka menyerang Alam Para Dewa dan pohon keabadian hampir dirampas oleh Ratu Alam Neraka, banyak kultivator yang terluka. Kultivator yang terluka membutuhkan banyak perawatan dari energi spiritual pohon keabadian.
"Baiklah, tidak masalah." Xiu Jimei tidak keberatan.
__ADS_1
Dia segera mengembun setetes energi spiritual emas dari dantiannya. Ketika esensi delapan dewa-dewi menetes ke salah satu daun, tiba-tiba saja pohon keabadian bergetar ringan. Seluruh bagian pohon diselimuti oleh cahaya keemasan samar.
Lalu Xiu Jimei menyaksikan jika pohon keabadian tumbuh lebih tinggi dan besar.