
Gadis itu terlihat lebih serius dari pada sifat ceroboh di hari-hari biasanya. Ternyata benar, Xiu Jimei hanya menutupi sikap dewasa nya dengan berpura-pura menjadi gadis yang ceroboh.
Xiu Jimei telah berusia seratus tahun. Bukan usia kecil bagi para kultivator. Tapi Xiu Jimei memiliki wajah kecil dan perawakan yang tidak terlalu tinggi seperti kultivator wanita pada usianya. Mungkin karena esensi delapan dewa-dewi serta teknik peremajaan tubuh, membuat gadis itu terlihat awet muda.
Tapi Xiu Jikai adalah seorang laki-laki, tubuh tinggi dan memiliki badan yang bagus. Para wanita dan gadis di ibu kota tergila-gila padanya tapi tidak berani mengambil tindakan. Mereka tahu betapa kejamnya Xiu Jikai. Di mana laki-laki itu, hanya adiknya saja.
"Kamu memang tampan. Apakah ada yang salah jika aku berkata jujur?" tanya Xiu Jimei sambil menggigit apel itu.
"Memang tidak salah. Tapi jika kamu berkata seperti itu pada pria lain, mungkin urusannya menjadi lain. Mereka akan memiliki pikiran yang buruk padamu karena kamu sangat cantik," jawabnya. "Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat," imbuhnya.
Wajah Xiu Jimei sedikit memerah. Tapi dia segera menunduk dengan pikiran yang sedikit bingung. "Ayah bilang aku adalah bintang phoenix seseorang. Aku baru ingat ini. Kamu mungkin tidak bisa mengejar ku di masa depan. Lupakan saja," katanya.
Ming Zise menaikkan sebelah alisnya. "Apakah kamu menyukai ku?"
"Menyukai pria tampan tidak ada salahnya." Xiu Jimei tidak mengelak.
Mendengar hal ini, Ming Zise terkekeh sedikit bahagia. Meski dia tahu Xiu Jimei menyukai nya karena tampan, ini juga tidak masalah. Di Alam Para Dewa, dia salah satu pria paling tampan selain dewa pencipta Alam Para Dewa. Jadi dia tidak khawatir gadis itu akan menemukan pria yang lebih tampan darinya.
"Jangan khawatir, bintang phoenix itu tidak akan pernah berubah bahkan jika kamu menyukaiku." Ming Zise menenangkan pikirannya.
"Benarkah? Bagaimana kamu tahu?"
"Tahu saja.
"Lalu di mana kamu tinggal?"
"Di mana pun itu tapi bukan Dunia Langit."
"Sangat jauh?" Xiu Jimei lebih penasaran.
Bukan di Dunia Langit?
Lalu di mana?
Istana Langit?
__ADS_1
Dia sama sekali tidak berpikir jika Ming Zise dari Alam Para Dewa. Baginya, tidak mungkin para dewa muncul di dunia kecil seperti ini.
Dia menggigit apelnya lagi. Rasa manis madu membuatnya tidak bisa berhenti makan.
"Jika Xiao Mei adalah bintang phoenix guru, maukah menerimanya?" tanya pria itu tiba-tiba.
Rambut putih dan jubah putihnya membuat penampilannya lebih bersih dan suci. Ming Zise tidak pernah memiliki aroma lain selain mint dan cendana. Bahkan jika memasak sekali pun, tidak pernah tercium bau masakan pada tubuhnya.
Hal ini selalu membuat Xiu Jimei curiga jika Ming Zise menggunakan sesuatu untuk menghilangkan aroma masakan yang menempel pada tubuhnya. Tapi dia tidak pernah menemukan bukti.
Sekarang, Xiu Jimei mencium aroma mint dari tubuh Ming Zise seperti biasanya. Dia mulai berpikir jika pria ini tidak sederhana. Ke mana pun pergi dan di mana pun itu, Ming Zise seperti sosok yang disembah makhluk lain di dunia ini.
"Apakah itu seperti ayah dan ibuku di masa lalu?"
"Benar. Ibumu adalah bintang phoenix ayahmu. Apapun yang terjadi, mereka tidak akan terpisahkan karena telah terikat takdir." Ming Zise tanpa sadar memilin rambut Xiu Jimei yang jatuh di pundak. "Jika Xiao Mei bintang phoenix guru, pasti sangat bagus. Lagi pula, di dunia ini, tidak ada yang bisa menandingi ketampananku," jelasnya.
"Bagaimana kamu tahu tentang ayah dan ibuku?" Xiu Jimei menatapnya dengan kecurigaan besar.
"Bukan cerita baru lagi bukan?"
Sepertinya benar juga. Di negeri Atas, hampir semua orang tahu bahwa Fu Chan Yin adalah bintang phoenix raja neraka—Xiu Jichen dari Istana Blackhell.
"Tapi tampan saja tidak cukup. Kamu harus memiliki kemampuan lain!" Xiu Jimei mendengkus.
"Kalau begitu, guru akan berusaha keras."
Ming Zise merasa bahwa kesempatan datang. Dia akan memanfaatkan ini sebaik mungkin. Ternyata, membujuk gadis ini lebih mudah dari pada dugaannya, tapi sulit untuk membuatnya terkesan. Di sinilah Ming Zise merasa sakit kepala lagi.
Memasak saja tidak akan cukup baginya untuk menyenangkan gadis itu. Tapi saat ini sedang diadakan ujian bakat spiritual gabungan. Dia tak bisa mengambil tindakan lain agar tidak melanggar aturan ujian. Kecuali jika ada bahaya hidup dan mati.
Pada akhirnya, Xiu Jimei dan Ming Zise menjadi lebih akrab saat ini. Keduanya tampak mengobrol dan tertawa bersama.
Di sisi lain, Xiu Jikai tanpa sengaja melihat adiknya tertawa dengan Ming Zise, wajahnya menjadi gelap. Dia sudah lama menahan diri agar tidak memukul wajah putih kecil pria itu. Tapi sekarang berani menggoda adiknya?
Xiu Jikai memutuskan untuk mengirim surat pada ayahnya agar bisa memberi pelajaran pada pria itu.
__ADS_1
"Adik sepupu, apa yang kamu lihat? Cepat bantu aku menjinakkan zebra ini."
Yan Yujie saat ini berusaha memegang tali pengekang leher pada zebra di depannya. Dia hampir tak bisa menahan diri lagi untuk melumpuhkan zebra.
Namun tiba-tiba saja Xiu Jikai melepaskan tali pengekang, membuat Yan Yujie yang hampir saja menjinakkan zebra di depannya langsung kehilangan keseimbangan.
Zebra roh kuno itu berusaha untuk melarikan diri, tidak peduli dengan tali yang mengekang lehernya.
"Ahh!! Xiao Kai! Kamu kejam!" teriak Yan Yujie yang kini kakinya tak sengaja terlilit tali.
Pada akhirnya laki-laki itu juga ikut tersesat oleh zebra yang berlari kencang di padang rumput.
Xiu Jikai akhirnya menyadari jika tali yang dipegangnya tidak ada. Dia terkejut, melihat ke arah Yan Yujie yang terombang-ambing di belakang zebra karena tali menjerat kakinya.
"Merepotkan!" gumam Xiu Jikai.
Ini bukan waktunya untuk mengkhawatirkan adiknya yang tertawa bersama Ming Zise. Xiu Jikai segera mengejar kakak sepupu yang selalu terkena sial itu. Tapi karena zebra berlari sangat kencang, Xiu Jikai hanya bisa berteleportasi.
Teriakan Yan Yujie yang menggema di padang rumput tersebut menarik perhatian Wang Xuyue serta yang lainnya. Mereka juga tidak tahu apa yang terjadi hingga kaki Yan Yujie terjerat tali.
"Tolong aku ..." Yan Yujie berusaha melepas tali. Tapi kepalanya terlalu pusing sehingga dia hanya bisa mengandalkan Xiu Jikai.
Untung saja Xiu Jikai berhasil mengejar dan menarik tali yang menjerat leher zebra. Zebra itu mau tidak mau berhenti dan mengeluarkan suara agak memekakkan telinga.
Setelah zebra berhenti, dia segera melepaskan tali yang menjerat kaki Yan Yujie.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Xiu Jikai sedikit kasihan.
"Aku ... Aku baik-baik saja," jawab Yan Yujie dengan kepala agak pusing. "Xiao Kai, sepertinya jimat yang kami berikan tidak berfungsi dengan baik?"
"Sepertinya begitu. Aku akan mencarikan jimat yang cocok untukmu di masa depan." Xiu Jikai hanya bisa menenangkannya.
Tapi keduanya tidak tahu bahwa saat ini, sekawanan zebra dewasa memperhatikan dengan penuh permusuhan. Kawanan zebra itu mendengus lalu bersuara nyaring seraya mengangkat kaki depannya. Mereka siap untuk menyerang.
"Manusia, berani datang ke sini untuk mencari mati. Kalian pikir mudah untuk menjinakkan kami?" Salah satu zebra roh kuno dewasa berkata dengan nada arogan.
__ADS_1