Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Bermimpi Buruk, Pertanda


__ADS_3

"Jika Iblis Rubah Lava Alam Neraka itu adalah paman Tongluo, maka harusnya masalah ini tidak akan diperpanjang." Xiu Jikai menyimpulkan.


Yang lainnya juga setuju. Kali ini mereka memikirkan tentang ujian spiritual gabungan yang akan kembali dilaksanakan. Mau tidak mau menghela napas tidak berdaya.


Setelah makan malam, mereka langsung beristirahat. Xiu Jimei bersama Tuit Tuit di dalam tenda dan istirahat lebih awal. Ketika tertidur, Xiu Jimei tiba-tiba saja bermimpi sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Dalam mimpi itu, dia tampaknya mengalami suatu bencana. Ada banyak kekacauan di mana-mana. Namun Xiu Jimei sama sekali tidak bisa menebak di mana dia dalam mimpi tersebut. Hanya saja ia tahu jika semua bencana itu disebabkan oleh Alam Neraka yang menyerang Alam Para Dewa dan Dunia Langit.


Ada suara-suara aneh yang mengganggu. Dan dia bisa melihat seorang pria berjubah brokat putih berjalan semakin menjauh darinya. Tidak peduli seberapa keras Xiu Jimei mengejar, tampaknya sosok itu tidak bisa diraih sama sekali.


Xiu Jimei mengenali pihak lain, itu Ming Zise. Dia ingin berteriak memanggil Ming Zise tapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara. Dia panik. Karena potongan-potongan mimpi itu berantakan, Xiu Jimei akhirnya terbangun dengan keringat dingin di mana-mana.


"Tuan, apakah kamu bermimpi buruk?"


Tuit Tuit tidak bisa tidur dan dia jarang sekali terdiri. Tapi ketika merasa energi spiritual di tubuh gadis itu berantakan, Tuit Tuit khawatir dan terjaga sepenuhnya.


Xiu Jimei menyeka keringat di dahinya. Ia belum pernah bermimpi buruk seperti itu. Semuanya seperti ramalan. Karena masa depannya sendiri tidak bisa terbaca, maka ia hampir yakin jika mimpi itu adalah pertanda.


"Tidak apa-apa." Nada bicara gadis itu jarang sekali terdengar acuh tak acuh.


Xiu Jimei tidak tahu apa arti dari mimpinya itu. Dia hanya mengingat bayangan Ming Zise yang menjauh darinya. Apa arti dari semua ini? Karena mimpi buruk itu, Xiu Jimei terjaga hingga matahari terbit.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Xiu Jikai mengetahui ada yang tidak beres dengan suasana hati adiknya.


"Tidak apa-apa. Hanya bermimpi buruk semalam dan suasana hatiku tidak baik."


"Mimpi apa?"


"Bukan apa-apa." Gadis itu menggelengkan kepala, sama sekali tidak berniat untuk menceritakannya.


Lagi pula Xiu Jimei juga bisa melihat dalam mimpinya tadi malam, Xiu Jikai berubah menjadi naga hitam dan bertarung demi mempertahankan dunia bawah. Bahkan menyelamatkan Mo Yue, anak dari raja dunia bawah saat ini. Setelah itu, semuanya kabur di pikirannya. Xiu Jimei tidak bisa mengingat semua mimpi semalam.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin tidak ingin cerita?"


Xiu Jimei menggelengkan kepala. Xiu Jikai tidak bisa memaksanya. Setelah membuat sarapan, Xiu Jimei berniat untuk kembali ke rumah dan mencari tahu apa arti dari mimpinya itu. Huang Fu Shi dan Lei Mo juga dipanggil ke istana. Mau tidak mau mereka berpisah di tengah jalan.


Yan Yujie menginap di Istana Golden Lotus dan bertengkar dengan Roh Bunga yang tengah mengurusi semua tanamannya. Sementara Xiu Jimei pergi menemui Ming Zise yang ada di Alam Para Dewa saat ini.


"Mingming, bagaimana dengan rubah tua itu sekarang?" tanyanya ketika melihat Ming Zise tengah membaca surat gulungan di ruang belajarnya.


"Dia diserahkan pada Tongluo," jawabnya datar.


"Tidakkah mereka kembali ke Alam Neraka?"


Ming Zise menggelengkan kepala. "Siluman rubah putih tidak bisa pergi ke Alam Neraka jadi iblis rubah merah api tinggal di perbatasan dengan keluarga kecilnya. Rubah tua itu akan tinggal bersama mereka dan tidak akan kembali ke Alam Neraka untuk sementara waktu."


"Tidakkah kamu khawatir dia menjadi mata-mata dan memengaruhi kestabilan Alam Para Dewa?"


"Jangan khawatir, dia tidak memiliki kemampuan untuk ini. Lagi pula sejak lama, Iblis Rubah Lava Alam Neraka tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran. Dia suka menghabiskan waktunya di kolam lava gunung api."


Ming Zise meletakkan surat gulungan dan tersenyum ke arah gadis itu. "Apakah Mei'er merasa jika aku sudah tua?"


"Kamu seusia dengan ayahku. Kenapa kamu begitu malu?" Gadis itu mendengkus. Sepertinya dia lupa jika pria itu tidak suka dipanggil tua.


Ming Zise terkekeh dan tatapan matanya sedikit berbahaya. "Kemarilah," ucapnya.


"Ada apa?" Xiu Jimei berjalan mendekat tanpa rasa curiga sama sekali.


Setelah gadis itu beberapa langkah lebih dekat, Ming Zise memeluk pinggangnya dengan penuh dominasi. Xiu Jimei kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukannya yang kokoh. Napas hangat pria itu menggelitik lehernya.


"Mei'er bilang aku sudah tua? Sapi tua makan rumput muda?"


Xiu Jimei memerah. "Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Kalau begitu biarkan Mei'er tahu, apakah aku sudah tua atau tidak," bisiknya.


Pria itu menyingkirkan beberapa barang yang ada di atas meja dan mendudukkan gadis itu di sana. Beberapa adegan yang tidak bisa dilihat atau didengar anak akan mulai terdengar dari ruang belajar. Penjaga yang berjaga di luar sedikit canggung dan akhirnya menjauhi tempat itu.


Xiu Jimei menyesali perkataannya. Dia lupa jika pria itu benar-benar tidak tahan disebut tua atau seusia dengan ayahnya. Ini sangat melukai harga diri mantan dewa tertinggi yang agung.


Setelah memohon belas kasihan, Ming Zise akhirnya tidak menyiksa gadis itu terlalu lama. Setelah meninggalkan beberapa jejak kasih sayang di tubuhnya, ia melepaskannya.


"Kamu sangat tak tahu malu! Bertindak di ruang belajar, berpikir aku adalah selir!" Gadis itu mendengkus, tubuhnya berkeringat dan gaunnya berantakan.


Ming Zise membantunya untuk membenarkan gaun dengan sedikit sentuhan menggoda. "Bagaimana mungkin? Aku senang sekarang," katanya.


Xiu Jimei awalnya datang ke sini untuk mencari tahu arti dari mimpinya. Ia sebenarnya datang untuk mencari Dewa Takdir. Dan pasti tidak akan bisa disembunyikan dari Ming Zise.


"Mei'er datang ke sini pasti bukan untuk menanyakan ini kan?" tanyanya.


Gadis itu mengangguk, sedikit ragu. Ming Zise tidak mendesaknya untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Ada apa?"


"Bisakah aku bertemu dengan Dewa Takdir?" pintanya.


Ming Zise menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kamu ingin bertemu dengannya? Apakah kamu bermaksud untuk mengubah takdir?"


"Tidak." Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Aku ingin mencari tahu atas mimpi buruk yang kualami sebelumnya."


Ming Zise tidak mengatakan apa-apa. Xiu Jimei istimewa karena esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Belum lagi neneknya dulu mengubah takdir Fu Chan Yin dan Xiu Jichen dan pasti berdampak pada semua keturunannya.


"Mimpi apa? Tidak bisakah Mei'er menceritakannya dulu padaku?" Ming Zise membiarkannya duduk di pangkuan, membereskan helaian rambutnya yang sedikit berantakan.


Xiu Jimei bersandar di dadanya, Mengingat mimpi buruk yang membuatnya tidak enak badan. Dia menceritakan apa yang dimimpikannya, merasa sangat nyata. Tidak tahu apakah di masa depan, Alam Neraka akan menyerang Alam Para Dewa dan Dunia Langit. Lalu kemudian ia dan Ming Zise terpisah.

__ADS_1


__ADS_2