
Dewa Binatang jarang sekali berkata serius dari awal hingga akhir. Dia menatap Xiu Jimei dengan penuh kepercayaan diri. Meski gadis itu mungkin tak bisa melawan mantan dewa bencana seperti Lu Zheng, setidaknya esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya mampu membuat para dewa tunduk.
Lagi pula, yang kuat dihormati dan kekuatan langka diminati.
"Meski kamu mungkin tak biasa mengalahkannya, tak ada salahnya membuat musuh kewalahan bukan?" Dewa Binatang agak iri pada Xiu Jimei yang memiliki kemampuan regenerasi tubuh dan memisahkan jantung sendiri.
"Itu membosankan," jawabnya.
"..." Dewa Binatang tidak tahu hal apa yang membuat Xiu Jimei bisa tertarik.
"Tidakkah kamu tertarik pada kekuatan para dewa selama ini?" tanya Dewa Binatang lagi.
"Hah? Kenapa aku harus tertarik?" Xiu Jimei menatapnya dengan heran. "Bukankah setiap makhluk memiliki takdir dan jalan hidup mereka sendiri? Bukankah aku sama?"
Dewa Binatang tidak langsung menjawabnya. Lagi pula, apa yang dikatakan Xiu Jimei ada benarnya juga. Namun ia tidak akan lupa tentang rumor di mana seorang wanita kultivator Istana Langit yang dulunya juga memiliki esensi delapan dewa-dewi, menyelinap ke Alam Para Dewa. Bukan hanya itu, wanita itu juga mengubah takdir gelap putrinya.
Siapa lagi jika bukan ibunya Fu Chan Yin, Mye Ai. Walaupun wanita itu sudah meninggal tapi takdir yang diubah untuk putrinya berpengaruh pada keturunannya saat ini. Faktanya, takdir dan nasib Xiu Jimei tidak bisa dilihat oleh mata surga. Ini sangat misterius. Bisa dikatakan juga, Xiu Jimei membuat jalan hidupnya sendiri saat ini.
Tidak heran jika para dewa ingin memperhatikannya selama ini. Mereka khawatir Xiu Jimei akan salah jalan. Ming Zise ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Tidak tahu jalan hidup seperti apa yang akan terjadi di masa depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari setelah dirawat di bawah pengawasan Xiu Jimei, siluman rubah putih akhirnya pulih seutuhnya. Tongluo juga tidak lagi dibelenggu oleh para dewa dan membiarkannya kembali dengab kedua orang tuanya. Hal ini membuat beberapa pihak merasa tidak setuju tapi juga memahami alasa lainnya.
Selama ini, keluarga tiga ekor rubah mengambil perbatasan sebagai persembunyian. Tongluo tidak pernah menyerang Alam Para Dewa sehingga tidak bisa menghukumnya sama sekali. Begitu pula dengan iblis rubah merah api yang hanya bersembunyi tanpa melakukan apapun selama ini.
Xiu Jimei kembali ke Dunia Langit setelah menyelesaikan urusannya.
__ADS_1
"Lelah?" Ming Zise yang telah berada di Istana Golden Lotus entah sejak kapan, melihat gadis itu ambruk di kasur.
"Yah ... Ini melelahkan. Aku tidak tahu jika mengobati seekor rubah saja membutuhkan begitu banyak energi spiritual." Xiu Jimei memejamkan mata, sedikit mengantuk.
Ming Zise tidak berniat untuk membahasnya lebih jauh. Dia sendiri telah memeriksanya sendiri kondisi kesehatan siluman rubah putih itu sehingga tahu seperti apa keadaannya.
"Mandilah lebih dulu sebelum tidur. Itu akan membuat tubuhnya lebih nyaman setelah mandi," ucapnya.
"Tidak mau. Aku malas bergerak dan sangat lelah ..." Suara gadis itu terdengar sayup-sayup, sepertinya sangat lelah. Dia mengambil posisi menyamping.
Ming Zise tidak menyahut lagi. Xiu Jimei berpikir jika pria itu sudah pergi. Namun tampaknya tidak. Pada kenyataannya, Ming Zise naik ke tempat tidur dan berbaring di sampingnya. Tapi gadis itu merasakan ada sesuatu yang menyelinap ke dalam gaunnya. Perasaan dingin dari tangan seseorang membuatnya terjaga.
"Mei'er sangat lelah bukan? Mau aku bantu menghilangkan lelahnya sebelum mandi?" bisik pria itu.
Xiu Jimei langsung terbangun dan melompat dari tempat tidur seperti menghindari wabah. "A-aku akan mandi dulu sebelum tidur!" katanya kesal.
Setengah jam kemudian, Xiu Jimei selesai mandi. Ia lama di kamar mandi bukan karena menikmati waktu berendam air hangat tapi ketiduran. Setelah merasakan airnya dingin, dia terjaga kembali. Untungnya Ming Zise tidak mencurigai apapun namun bukan berarti tidak tahu.
"Apakah nyaman tidur di bak mandi?" tanya pria itu yang masih berbaring di tempat tidur.
Xiu Jimei melihatnya berbaring menyamping seraya menopang kepalanya. Rambut putih keperakannya terlihat menawan. Wajah tampannya seperti lukisan yang nyata. Tiba-tiba saja wajahnya memerah. Ia menyadari jika pria itu tidak memakai sabuk jubah brokat nya yang rumit.
"Jika kamu tahu aku ketiduran, kenapa tidak membangunkanku sebelumnya?"
"Aku merasa ku sangat lelah dan biarkan tubuhmu rileks lebih dulu. Sepertinya sekarang lebih baik bukan?"
Gadis itu mendengkus. Karena dia berniat tidur, jubah mandinya tidak perlu diganti. Setelah berbaring kembali di tempat tidur, Ming Zise memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Mei'er," bisiknya. Tubuh Xiu Jimei sangat harum setelah berendam, membuat Ming Zise ingin menghirup aromanya dengan rakus.
"Jangan membuat masalah. Aku mengantuk," katanya merasa dirinya dalam bahaya. Serigala lapar di belakangnya ini pasti tidak akan melepaskannya malam ini.
Baru saja berkata demikian, Xiu Jimei merasakan benjolan di bawah tubuh pria itu, membuatnya tambah memerah.
"Mingming," bisiknya.
Pria itu akhirnya tidak tahan lagi dan segera menindihnya dengan sikap yang mendominasi. Setelah saling menatap cukup lama, ciuman yang dalam berlangsung selama beberapa saat sebelum akhirnya hal besar terjadi secara alami.
Sebenarnya, Xiu Jimei juga merindukannya. Ia merasa tubuhnya yang kosong terisi penuh saat ini. Ming Zise tidak hanya mengusir rasa lelahnya dengan menggunakan energi spiritual tapi juga membangkitkan keinginan melayaninya sepenuh hati.
Pada akhirnya, pakaian keduanya berserakan di lantai. Di balik tirai kasa tempat tidur, keduanya berada dalam selimut dan melakukan gerakan besar dari waktu ke waktu.
"Ini masih siang, apakah kamu begitu tak tahu malu?" bisik gadis itu dengan wajah memerah. Tubuhnya sudah berkeringat.
"Tidak ada orang yang tahu tentang ini. Mei'er tidak perlu malu." Ming Zise mengecup sudut bibirnya. Ia merasa sangat bersemangat saat ini setelah lama tidak menggerakkan otot-otot pinggangnya.
Jantung gadis itu berdetak lebih kencang dan tubuhnya hampir tidak bisa dikendalikan. Ia hanya memeluk pria di atasnya dengan sedikit kekuatan. Ming Zise tidak banyak bicara tapi tubuh keduanya seperti saling mengerti satu sama lain saat ledakan musim semi yang panjang akhirnya tiba.
Gadis itu tanpa sadar mencakar punggung Ming Zise. Pria itu mengerutkan kening. Sepertinya dia harus memotong kuku Xiu Jimei yang telah agak panjang saat ini.
Ming Zise tidak menyiksanya siang itu. Setelah keduanya melakukannya satu kali, Xiu Jimei juga tertidur karena kelelahan. Ming Zise tersenyum tidak berdaya. Setelah membersihkan tubuh gadis itu, ia membiarkannya berbaring nyaman di tempat tidur.
Melihat kuku-kukunya yang agak panjang, ia juga memotongnya dengan hati-hati. Dengan begitu, gadis ini tidak akan mencakar punggungnya terlalu dalam di masa depan. Tapi meskipun demikian, ia merasakan pencapaian yang luar biasa sebagai seorang pria yang memuaskan wanitanya.
"Dasar kucing kecil," bisiknya.
__ADS_1