Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Mengadu Pada Dewa Binatang


__ADS_3

Xiu Jimei yang dikatakan berada di Dunia Langit saat ini, sebenarnya sudah kembali ke Alam Para Dewa. Hanya saja setelah memberikan semua pil pada teman-temannya, Xiu Jimei pergi ke suatu tempat terpencil di Alam Para Dewa.


Hanya saja Ming Zise tidak tahu soal itu.


"Apakah kamu yakin ini tempatnya?" Xiu Jimei melirik Tuit Tuit yang terbang tak jauh darinya.


"Tentu saja ini benar. Tidak salah lagi. Lihat di sana, ada jejak kaki. Seharusnya sarang rubah putih ada di sana."


Saat ini, Xiu Jimei sedang mencari keberadaan rubah putih berbulu panjang yang hidup di pedalaman Alam Para Dewa. Rubah putih roh dewa ini tidak memiliki pemikiran kultivasi atau mengerti bahasa manusia. Mereka tak beda jauh dengan binatang roh pada umumnya.


Xiu Jimei mencari keberadaan rubah putih berbulu panjang hanya untuk mengambil bulunya. Dia ingin membuat kerah berbulu untuk Ming Zise. Mengingat Ming Zise selalu berpakaian putih, dia yakin kerah berbulu putih juga cocok untuknya.


Karena Tuit Tuit adalah reinkarnasi Dewa Binatang sebelumnya, dia tahu banyak ras binatang di Alam Para Dewa. Dan berbulu rubah putih berbulu panjang baik-baik saja.


Akhirnya mereka menemukan beberapa rubah putih berbulu panjang sedang beristirahat di antara semak dan rerumputan yang agak tinggi.


"Tuan, serahkan padaku." Tuit Tuit segera memperlihatkan kemampuannya untuk memanipulasi pikiran rubah putih berbulu panjang.


Seketika, beberapa rubah putih itu tidak bergerak seolah-olah tersihir oleh sesuatu. Tak lama setelah itu, semua rubah langsung pingsan.


"Kamu masih bisa melakukan ini? Kenapa aku tidak tahu?" Xiu Jimei menuduhnya.


"Kekuatanku meningkat, tentu saja bisa. Di masa depan, beberapa binatang dewa kelas rendah bisa dikendalikan olehku." Tuit Tuit tampak bangga.


Xiu Jimei mencibir tapi tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung mengambil semua rubah yang pingsan itu dan mulai menguliti bulu-bulunya.


Hanya bagian punggung hingga bagian perut saja yang dikuliti. Sisanya tidak bagus untuk dijadikan kerah atau syal. Jadi tentu saja Xiu Jimei tidak membunuh mereka.


Namun menguliti bulu mereka juga menyebabkan rasa sakit. Xiu Jimei menggunakan cara khusus untuk menguliti bulu rubah putih itu agar tidak sakit ketika terbangun nanti. Paling-paling mereka hanya akan merasa kedinginan.


"Kamu ternyata membiarkan mereka hidup. Benar-benar memiliki hati nurani," kata Tuit Tuit agak tersentuh.


Xiu Jimei menghela napas panjang dan merasa menyesal. "Aku hanya tidak ingin makan daging rubah, itu saja."

__ADS_1


"..." Tuit Tuit ingin menarik apa yang baru saja dikatakannya. Lagi-lagi gadis itu hanya ingat dengan makanan.


Setelah beberapa saat, semua rubah putih telah dikuliti. Xiu Jimei meletakkan mereka di tempat asalnya lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia harus segera membuat kerah jubah atau syal untuk Ming Zise.


Tak lama setelah Xiu Jimei dan Tuit Tuit pergi, para rubah akhirnya sadarkan diri. Mereka tampak waspada saat pertama kali bangun. Lalu merasa tubuhnya kedinginan.


Beberapa rubah putih yang melihat satu sama lain mau tidak mau terkejut.


Ke mana bulu mereka pergi?! Kenapa mereka tidak memiliki bulu di punggung dan perut?


Beberapa rubah putih berbulu panjang seperti tersambar petir di siang bolong. Mereka langsung merengek dan melarikan diri untuk mencari pengaduan.


Para rubah putih berbulu panjang langsung pergi ke Istana Dewa Binatang berada. Mereka tiba di depan gerbang istana dengan ekspresi menyedihkan.


Para penjaga yang melihat ini langsung terkejut.


"Para rubah ini, kenapa kalian mencari dewa kami?" tanya salah satu penjaga pintu.


Awalnya para penjaga mengira hal itu bisa saja. Tapi melihat bulu-bulu ribuan di bagian punggung dan perut tidak ada, mau tidak mau terkejut. Kemungkinan besar mereka datang untuk mengadu pada Dewa Binatang.


"Tunggu, kami akan memberi tahu dewa," kata penjaga itu.


Dia akhirnya masuk untuk melaporkan kejadian itu pada Dewa Binatang.


Di aula Istana Dewa Binatang, sosok pria berjubah brokat biru tua duduk beristirahat seraya mendengarkan laporan para bawahan. Tak lama, salah seorang penjaga gerbang datang untuk memberikan laporan.


"Dewa, di luar gerbang, sekelompok rubah putih berbulu panjang datang untuk melakukan pengaduan," lapor penjaga itu sopan.


Dewa Binatang mengerutkan kening. "Apa yang mereka lakukan sampai harus datang ke sini untuk membuat pengaduan?"


"Aku melihat jika sebagian bulu-bulu di tubuh mereka dikuliti."


"..." Ini bukan kasus seperti biasanya. Menguliti bulu? Siapa yang memiliki keberanian?

__ADS_1


Akhirnya Dewa Binatang mengizinkan penjaga untuk membiarkan para ribuan itu memasuki istananya. Tak lama, beberapa rubah datang dan mengeluarkan suara untuk mengadu pada Dewa Binatang.


Suara mereka semua bercampur menjadi satu sehingga Dewa Binatang merasa tidak berdaya dan sakit kepala.


"Salah satu di antara kalian, bicaralah untuk mewakili semuanya."


Akhirnya salah satu rubah langsung menurunkan telinga dan menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Mereka ditemukan oleh seorang gadis yang sangat cantik dengan burung merah kejinggaan yang bisa bicara.


Lalu saat mereka hendak melarikan diri, tiba-tiba saja tidak bisa mengendalikan tubuh dan pikiran. Tak lama kemudian mereka tidak sadarkan diri. Saat bangun, semuanya menjadi seperti sekarang. Bulu mereka hilang.


Mendengar semua cerita itu, Dewa Binatang tampaknya merasa dejavu.


"Kenapa teknik ini mirip seperti pengendalian binatang tingkat rendah? Apakah gadis itu seorang beast master?" gumamnya.


Lalu rubah putih berbulu panjang segera menjelaskan ciri-ciri sosok gadis itu dan burung roh yang bisa bicara.


Dewa Binatang akhirnya hanya bisa menekan rasa penasaran dan memberi mereka kompensasi lebih dulu. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan mereka menelan pil penumbuh bulu kembali.


Setalah para rubah pergi, Dewa Binatang meminta anak buahnya untuk mencari gadis yang dimaksud para rubah.


"Setelah aku menjadi dewa binatang, belum pernah ada kasus seperti ini. Sangat menarik."


Tiba-tiba saja Dewa Binatang merindukan sosok dewa binatang sebelumnya. Yang bahkan jati dirinya adalah seorang wanita. Mantan dewa binatang sebelumnya juga sangat hebat.


"Jika phoenix api itu masih hidup, aku ingin melamarnya," gumam Dewa Binatang memiliki kerinduan tersembunyi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jimei tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan kepada para rubah putih berbulu panjang telah membuat Dewa Binatang mencarinya. Saat ini dia sedang sibuk membuat syal bulu rubah untuk Ming Zise.


Setelah menghabiskan waktu setelah hari, dia akhirnya berhasil membuat beberapa syal. Bulu-bulu rubah putih itu sebelumnya telah dibersihkan lebih dulu agar steril lalu diberi aroma alam seperti wangi pepohonan yang lembut.


“Akhirnya selesai.” Xiu Jimei menghela napas lega. Lehernya sudah pegal. Dia juga memijat kedua tangannya sebentar untuk melenturkan otot-ototnya yang sedikit kaku. “Aku harap Ming Ming akan suka.”

__ADS_1


__ADS_2