Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Bergabung Dalam Permainan


__ADS_3

Xiu Jimei yang bermimpi bertemu Ming Zise saat ini, memang tidak salah. Dia memang bertemu dengannya dalam mimpi. Mimpi itu nyata. Ming Zise sengaja menarik Xiu Jimei ke dalam mimpi karena keduanya tidak bertemu cukup lama.


Namun tak lama setelah bermimpi, gadis itu terbangun dengan sendirinya. Tanpa diduga, Ming Zise sudah ada di sampingnya. Xiu Jimei terkejut, khawatir membangunkan yang lain.


"Jangan khawatir, mereka tidak akan bangun. Mereka jatuh dalam ilusi mimpi yang kuciptakan," jelas pria itu.


"Ming Ming, kenapa kamu di sini?"


"Rindukan Mei'er," jawabnya penuh kerinduan.


"Apakah urusanmu selesai?"


"Yah ... Ini masih berlanjut. Tapi tidak mendesak saat ini. Aku memiliki waktu luang untuk mengikuti Mei'er."


"Bukankah ini akan buruk jika kaisar Alam Baka tahu?"


"Jangan khawatir, burung mata-mata tidak akan mampu menangkap sosokku."


"Itu bagus. Sudahkah kamu makan sesuatu?"


"Belum."


Ming Zise jarang makan dan dia kadang tidak makan selama berhari-hari atau seminggu. Lagi pula, sebagai mantan dewa, dia tidak seperti manusia yang harus makan demi memenuhi nutrisi tubuh.


Namun setelah bergaul dengan Xiu Jimei, Ming Zise jadi lebih sering sesuatu hingga tubuhnya sedikit berisi sebelumnya.


Xiu Jimei keluargaku kantong tidur. Karena teman-temannya tidak akan bangun, dia lega. Xiu Jimei mengeluarkan kotak makanan berisi sup ikan. Suonya masih hangat karena berada di ruang spiritual bawaan. Makanan yang dimasukkan pasti akan berada dalam kondisi sama seperti saat pertama kali dimasukkan.


"Makanlah sup ikan."


"Aku ingin makan Mei'er," goda pria itu.


"Jangan nakal!"

__ADS_1


Pria itu terkekeh dan makan sup ikan dengan patuh. Rasanya enak dan segar. Tidak ada duri ikan yang mengganggu sehingga Ming Zise makan sedikit lebih anggun. Setelah selesai makan sup ikan, pria itu juga memakan beberapa buah anggur sebagai pencuci mulut.


"Apakah kamu tahu tentang buah ceri merah api?" tanya Xiu Jimei.


"Ceri merah api? Buah apa itu?" Ming Zise sama sekali tidak pernah melihatnya.


"Ini." Xiu Jimei mengeluarkan sekeranjang buah ceri merah api yang terlihat menggoda. Aromanya harum dan manis. "Walaupun terlihat enak ... tapi sebenarnya—"


Sebelum Xiu Jimei menjelaskan, seekor ular putih tiba-tiba saja muncul. "Putri, bisakah aku memakannya juga. Aku juga suka makan buah!"


Aroma ceri merah api yang terlihat enak membuat Yamla tidak sabar untuk memakannya. Dia tidak peduli, apakah saat ini sopan atau tidak di depan keduanya. Dia hanya peduli dengan buah itu.


Di kegelapan, Wuming menggelengkan kepala. Tidak heran dia merasa lehernya sedikit kosong sebelumnya. Ternyata Yamla sudah bergegas untuk meminta buah.


Xiu Jimei melihat Yamla yang terlihat antusias, mau tidak mau tersenyum lebih dalam. "Kamu yakin?" tanyanya.


"Tentu saja."


Ming Zise melihatnya sengaja mengerjai Yamla, mau tidak mau ingin tahu efek apa yang akan ditimbulkan buah tersebut. Dia juga setuju. Yamla dengan senang hati menggigit satu buah ceri merah api dan menelannya.


"Bagaimana rasanya?" tanya gadis itu.


Yamla tidak berbohong dan menjulurkan lidahnya dengan gembira. "Ini manis, manis sekali! Ini buah ceri termanis yang pernah kumak—"


Dia tak melanjutkan perkataannya. Yamla merasa jika mulutnya terbakar oh rasa panas dan pedas yang luar biasa saat ini. Bahkan tubuh bersisik putihnya berubah menjadi merah api.


Yamla terkejut. Tapi mulutnya yang panas dan kepedasan tidak bisa membuatnya tenang.


"Ahhh!! Buah apa ini?!! Kenapa begitu pedas! Ini pedas sekali!" Yamla tidak peduli dengan tubuhnya yang berubah warna saat ini, dia langsung melarikan diri dari gua untuk mencari sesuatu yang bisa meredakan rasa pedas di mulutnya.


Di kegelapan, Wuming diam-diam menahan tawanya. Tubuh putih Yamla berubah warna menjadi merah api saat ini, betapa lucunya. Tapi kebahagiaan Wuming tak berlangsung lama. Yamla tiba-tiba saja kembali melingkar ke lehernya dan hampir mencekik pria itu.


"Yamla, apa yang kamu lakukan? Membunuhku?" Wuming terkejut dan kesal.

__ADS_1


"Cepat! Cepat bawa aku ke tempat di mana air berada. Ambil buah atau sesuatu yang bisa meredakan ras pedas di mulutku." Yamla menjulur lidahnya dan sisik merah apinya terlihat aneh.


"..." Kenapa kamu begitu manja? Batin Wuming. Wanita memang merepotkan, batinnya lagi.


Xiu Jimei melihat keduanya pergi, mau tidak mau tertawa ringan. "Ceri merah api ini sangat pedas. Tapi aromanya manis. Aku sedikit bingung. Beruang cokelat berkata jika ini adakah harta yang dijaganya di gua ini. Ming Ming, apakah kamu manfaat buah ini apa saja?" tanyanya.


Ming Zise melihat buah ceri merah api itu dan menaikkan sebelah alisnya. "Sepertinya ini cocok untuk obat diet, membakar lemak di tubuh dan membersihkan sumsum tulang kultivator. Kultivator yang berada di periode macet bisa memakannya juga sehingga semua kotoran kultivasi di tubuhnya dibersihkan. Intinya, buah ini sangat baik bagi mereka yang sulit untuk berkultivasi."


Buah ceri merah api ini memang harta yang bagus. Di Alam Para Dewa, jarang ada buah dengan manfaat seperti itu.


"Baiklah, Mei'er bisa menyimpannya. Bagus bagi Yamla untuk memakan buah ini. Dia memang memiliki masalah tubuh sebelumnya karena telah dikurung di alam sekuler terlalu lama."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, kelompok Xiu Jimei terkejut saat melihat Ming Zise ada bersama mereka. Tapi tidak banyak bertanya. Lagi pula, mudah bagi Ming Zise untuk datang dan pergi. Bukankah pria itu mantan dewa?


Langit masih gelap tapi hari sebenarnya sudah pagi. Mereka sibuk lagi untuk membuat sarapan. Beruang cokelat tidak repot-repot makan ikan. Dia hanya ingin langsung makan. Tanpa diduga, melihat pria berjubah brokat putih yang sangat tampan ada di gua, binatang roh berbulu cokelat itu merinding.


Bagaimana mungkin dia merasa jika Ming Zise ini lebih berbahaya daripada mereka? Siapa sebenarnya pria misterius itu?


Ketika matahari terbit, mereka baru saja selesai memasak dan mulai sarapan bersama.


"Beruang, apakah kamu tahu apa saja yang ada di hutan bagian dalam?" tangan Jia Lishan.


"Hutan bagian dalam? Apakah kaki berniat untuk pergi ke sana?" tanya beruang roh itu cukup terkejut.


"Ya. Kami sedang berjelajah saat ini untuk mendapatkan berbagai tanaman herbal dan hal-hal baik lainnya. Mungkin hutan bagian dalam memilih banyak herbal yang berguna." Kin Wenqian juga menjelaskan.


Beruang cokelat tampak berpikir dan dia belum pernah datang ke sana sebelumnya. Sehingga tidak tahu banyak. Namun bukan berarti dia tidak pernah bertemu dengan binatang roh lain yang berasal dari hutan bagian dalam.


"Aku tidak tahu karena belum pernah datang ke sana. Tapi ... Menurut beberapa binatang roh yang ada di sana, tempatnya gelap dan lembap. Ada berbagai jenis serangga beracun dan tanaman pemakan daging juga di sana. Intinya tidak ada hal baik. Hanya saja memang benar jika ada banyak tanaman atau buah roh yang baik juga di sana."


Semakin berbahaya tempatnya maka semakin aman dan kaya. Ini adalah fakta.

__ADS_1


__ADS_2