Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Pernikahan Luar Biasa


__ADS_3

Mo Yue makan daging rusa panggang dengan lahap hingga mulutnya seperti tupai makan kacang. "Bukankah kamu sengaja membawaku ke sini dan membuangku? Kamu tidak ingin aku menjadi istrimu, bukan?"


Sudut mulut Xiu Jikai berkedut. "Siapa yang mengatakan ini padamu?"


"Beberapa iblis di Dunia Bawah banyak bercerita. Ketika mereka tidak diinginkan, pasti akan dibuang ke suatu tempat yang jauh hingga tak bisa menemukan jalan pulang."


"Kamu terlalu banyak mendengar cerita omong kosong. Jangan mengatakan ini lagi di masa depan. Siapa yang membuangmu? Aku membawamu ke sini untuk memperkenalkan negeri baru yang dibuat adikku."


"Benarkah?" Mo Yue sedikit senang.


"Tentu saja ini benar. Jadi jangan menangis lagi. Ayo makan bersama dengan yang lain. Mereka sudah lama mengkhawatirkanmu," bujuknya.


Mo Yue akhirnya lega ketika tahu dirinya tidak akan dibuang. Ternyata semuanya hanya imajinasi liarnya saja. Xiu Jikai sama sekali tidak akan membuangnya. Ini bagus.


Mereka akhirnya makan bersama sambil bercerita tentang banyak hal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa tahun kemudian ....


Negara Minglan merupakan negara yang baru saja terbentuk. Walaupun begitu, pertahanannya sangat kuat dan tidak mudah digoyahkan. Hingga beberapa negara yang sebelumnya hendak menggertak langsung terdiam.


Banyak penduduk baru yang pindah dari satu tempat memilih untuk menetap. Dari berbagai kalangan, tak mengenal miskin dan kaya, putih dan hitam, semuanya bercampur.


Dengan kepemimpinan Ming Zise dan Xiu Jimei, Negara Minglan menjadi tuan rumah untuk kompetisi seni bela diri dan kultivator dari berbagai negeri.


Hari ini, semua jalanan penuh dengan nuansa hiasan merah. Semua orang melakukan banyak kegembiraan.


Pada musim semi, cuaca di alam sekuler cukup bagus. Array teleportasi sudah sibuk selama sebulan terakhir hanya untuk mempersiapkan pernikahan Xiu Jimei dengan Ming Zise.


Semua orang tahu jika raja dan ratu mereka akan menikah hari ini. Pernikahan paling meriah dalam abad ini.


"Putriku, kamu akan menikah hari ini. Sekarang Ini bisa lega menyerahkanmu pada Ming Zise," ucap Fu Chan Yin seraya merapikan rambut panjang putrinya.


Xiu Jimei memiliki rambut putih keperakan. Kulitnya sangat bagus hingga banyak orang mengagumi kecantikannya.


"Bu, aku masih ingin tinggal bersamamu." Xiu Jimei enggan untuk berpisah dengan ibunya.


Sebelum Fu Chan Yin mengatakan sesuatu, Xiu Jichen masuk kamar putrinya. "Omong kosong. Ibumu adalah milikku."

__ADS_1


Xiu Jimei cemberut. Kenapa ayahnya begitu egois, hanya menginginkan ibunya seorang diri?


Untungnya Fu Chan Yin segera mencegah pernah dingin ayah dan anak perempuan itu. "Baiklah, apa yang kalian perdebatkan? Ini hari yang bahagia, jangan membuat keributan."


Kemudian Fu Chan Yin menatap Xiu Jichen, sedikit sinis. "Kenapa kamu di sini? Pergi dan bantu menyambut tamu!"


Xiu Jichen tidak berani melawan perintah istrinya. Dia pergi untuk melemparkan tugas ini pada Xiu Jikai. Namun sebelum sempat melakukan apa yang ada dalam pikirannya, suara Fu Chan Yin terdengar lagi.


"Jangan meminta Kai'er untuk melakukannya! Yueyue sedang hamil!"


Xiu Jichen tetap diam tapi tidak mau membantahnya juga. Ia hanya mendengkus dan pergi menyambut tamu.


Mo Yue sedang hamil saat ini. Kehamilan pertamanya setelah resmi menjadi ratu Dunia Bawah. Karena hamil beberapa bulan, Xiu Jikai tidak nyaman meninggalkannya sendiri.


Fu Chan Yin serta beberapa perias lainnya mendandani Xiu Jimei. Hari ini, gadis itu memakai gaun pengantin merah, riasan tipis yang mempesona dan rambutnya juga disanggul.


Banyak tamu yang hadir di istana. Sepanjang jalan menuju istana dipenuhi orang-orang.


Ming Zise sudah lama menunggu di ruangan lain. Kedua mempelai tak bisa bertemu satu sama lain sebelum waktu pernikahan tiba. Konsep pernikahan yang mereka adakan merupakan pernikahan modern yang tidak terlalu memiliki banyak aturan.


"Dewa, kenapa kamu menyamar menjadi lelaki tua yang genit?" tanya Ming Zise sedikit terik melihat Dewa Pencipta Alam Para Dewa sudah berpakaian layaknya ayah tua yang bau (nakal).


Dewa Pencipta Alam Para Dewa berdeham. "Ini bukannya untuk menjadi walimu hari ini? Rahasia para dewa tak bisa diberitahukan pada dunia. Biarkan aku berpura-pura menjadi walimu. Semua orang akan mengira jika aku adalah ayahmu, itu bagus."


"Ayo, waktu pernikahan sudah tiba. Kamu harus menunggu di aula dan menyambut mempelai wanita. Bagaimana menurutmu konsep pernikahan modern ini?"


"Bagus. Lebih mudah dan simpel."


"Humph! Kamu beruntung!" Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak mempermalukannya lagi.


Aula pernikahan dilakukan di Istana Minglan. Ada banyak kursi dan meja untuk para tamu penting serta kerabat. Semuanya datang untuk menyaksikan pernikahan alam sekuler.


Mo Yue duduk di samping Xiu Jikai, menangis bahagia untuk adik iparnya. Sedangkan Yamla dan Yidao juga mendapatkan hasil positif. Keduanya juga telah bersama.


Yang tanpa diduga, Yan Yujie menikah dengan Xuan Xing karena suatu alasan yang tak terbantahkan. Walaupun terkadang bertengkar seperti kucing dan anjing, masalahnya akan selesai di tempat tidur.


Bukan hanya mereka, bahkan Dewi Kehidupan juga bertunangan dengan Ye Jue.


Saat ini, Ming Zise sudah menunggu di titik utama dengan Dewa Pencipta Alam Para Dewa yang menyamar sebagai ayah tua berambut putih.

__ADS_1


"Mempelai wanita telah tiba!!" teriak seorang penyambut dari dekat pintu masuk.


Semua tamu yang hadir melihat Xiu Jimei memakai gaun merah pernikahan. Dia memakai cadar sehingga kecantikannya membuat rasa penasaran. Dengan Xiu Jichen sebagai pendamping, Xiu Jimei berjalan perlahan ke arah Ming Zise.


Berhenti di depan pria itu, Xiu Jichen menyerahkan tangan putrinya ada Ming Zise.


"Mulai hari ini, aku serahkan putriku yang berharga, Xiu Jimei padamu untuk dirawat, dicintai dan dilindungi. Dia adalah permata di keluarga kami. Jika suatu hari nanti kamu tidak lagi mencintai, tolong bawa kembali ke rumah kami."


Semua kata-kata itu atas perintah Fu Chan Yin. Xiu Jichen hanya bisa mengucapkannya kembali.


Ming Zise memegang tangan Xiu Jimei yang diserahkan. "Aku, Ming Zise, hanya mencintai dan menyayangi Xiu Jimei dalam hidupnya. Aku akan melindungi, mencintai dan merawatnya sepenuh hati. Tidak akan ada hari di mana aku akan mengembalikan Xiu Jimei ke rumah kalian."


Xiu Jichen tersenyum lega. "Kalau begitu aku pegang janjimu."


Kemudian, Xiu Jimei dan Ming Zise berdiri sejajar, mengucapkan janji suci oleh penghulu. Lalu keduanya saling bertukar cincin pernikahan. Setelah resmi menjadi suatu dan istri, pesta yang meriah pun berlangsung.


Di langit Negara Minglan, Tuit Tuit yang berwujud phoenix pun terbang dan bersuara nyaring, memutari sekitar istana. Kemunculan phoenix membuat semua orang terpana dan berteriak senang.


Bukan hanya itu, Tuit Tuit ternyata menggenggam dua keranjang penuh bunga di cakarnya. Lalu ada Tongluo di rubah merah api memeluk kakinya, menabur bunga untuk semua orang.


Xiu Jimei dan Ming Zise pergi ke luar aula dan menyaksikan kemeriahan di luar. Ada bunga di mana-mana termasuk yang disebar Tongluo dari langit.


Semua warga yang dapat menyaksikan pasangan itu pun berteriak memberkati. Xiu Jimei melambai pada mereka, mengucapkan rasa terima kasih yang tulus.


"Indah sekali." Xiu Jimei merasa ini adalah hari terbaiknya selama seratus tahun hidup.


"Apakah kamu suka?" Ming Zise menatapnya.


"Ya. Terima kasih Mingming." Xiu Jimei tersipu malu.


Keduanya berpegangan tangan.


Ming Zise mengerutkan kening, sedikit kurang puas. "Kamu harus mengubah panggilan itu di masa depan. Panggil suami."


Xiu Jimei cemberut di balik cadarnya. "Terima kasih ... Suami," gumamnya malu-malu.


Ming Zise terkekeh kecil. Lalu dia memeluknya. Keduanya berharap jika Negara Minglan akan selalu damai dan sejahtera hingga keturunan anak cucu di masa depan.


Ming Zise mengecup dahi Xiu Jimei dan merapikan poninya. "Istri, aku mencintaimu."

__ADS_1


...----------------...


...T A M A T...


__ADS_2