Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ming Zise Ingin Tinggal Bersama


__ADS_3

Xiu Jimei tidak tahu jika sejak awal Fu Chan Yin dan Xiu Jichen sudah merencanakan jamuan makan pertunangan sejak lama. Tapi hanya mengundang beberapa kenalan dan kerabat dekat.


"Bu, kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?" Xiu Jimei kesal.


"Tentu saja ini kejutan. Bukanlah kamu suka kejutan?"


"Memang. Tapi aku tidak memakai gaun yang bagus hari ini. Sayang sekali."


"..." Fu Chan Yin tidak berdaya.


Xiu Jimei duduk di samping Ming Zise. Di sisi lain, Xiu Jichen melihat putrinya bersanding dengan pria lain, perasaannya tidak nyaman.


Di masa lalu, dia membiarkan gadis itu duduk di sampingnya, bersikap manja padanya. Tapi sekarang ... Perhatian Xiu Jimei hanya tertuju pada Ming Zise.


Wang Xuyue serta yang lainnya sudah duduk di tempat masing-masing. Ada sedikit perasaan canggung. Tapi karena Yan Yujie sudah terbiasa dengan kehadiran orang dewasa di meja makan, mereka juga merasa lega.


Adapun Ming Zise yang tahu wajah gelap Xiu Jichen, diam-diam memprovokasinya. "Apa yang ingin dimakan Mei'er? Aku akan mengambilnya untukmu," katanya.


"Tentu saja ayam bakar dan bumbunya. Cepat, cepat!" Xiu Jimi lapar. Dia sudah mengambil semangkuk nasi penuh.


Ming Zise mengambil potongan ayam bakar berbumbu, meletakkannya di piring lain di depan gadis itu. Lalu ambil acar sayuran, sate serta sup ikan.


"Makan lah yang banyak. Jika kurang, aku akan meminta koki Istana Minglan untuk mengirim makanan lainnya," ujar Ming Zise sedikit sombong.


"..." Han Yuye dan Xiu Jichen diam-diam mencibir. Apa bagusnya Istana Minglan mu? Batin keduanya.


“Tidak apa-apa. Aku tahu masakan koki di Istana Minglan sangat enak.”


Keduanya memiliki percakapan yang sangat baik. Fu Chan Yin duduk di samping Xiu Jichen dan mulai makan.

__ADS_1


Di sisi lain, Bai Huazhi duduk di samping Xuan Xiu Jikai. Dia ingin mengambil udang bakar yang tersisa di piring terdekatnya. Tapi tanpa diduga, Xiu Jikai sudah mendahuluinya. Bai Huazhi tidak rela jika udang bakar itu terbang ke piring Xiu Jikai.


“Nak, kamu harus menghormati yang lebih tua,” katanya.


Xiu Jikai meliriknya acuh tak acuh. “Yang tua juga harus mengalah untuk kaum muda.”


“…” Bai Huazhi sakit hati saat melihat udang bakar digigit Xiu Jikai. Dia hanya bisa menyerah dengan udang bakar dan makan bebek panggang yang tak kalah enaknya juga.


Suasana makan siang saat ini terlihat lebih hidup. Yan Yujie bercerita saat pulang dari ujian bakat spiritual gabungan. Dia memperlihatkan penampilan barunya pada kedua orang tuanya. Dan mereka terkejut. Terutama ibunya yang bersikeras jika Yan Yujie di depannya pasti palsu.


Jika bukan karena ayahnya yang meyakinkan ibunya, mungkin dia sudah ditendang dari rumah. Dan sesekali, utusan Dunia Hantu akan datang untuk memintanya kembali.


“Kamu belum ingin memimpin Dunia Hantu?” tanya Wang Xuyue.


“Aku tidak ingin meninggalkan orangtuaku lebih tepatnya. Lagi pula membosankan duduk di takhta,” jawabnya.


“Kamu juga akan menjadi kaisar di masa depan. Jangan kecewakan ayahmu,” kata Fu Chan Yin. Dia mengenal baik Huang Fu Jung yang kini menjadi kaisar Kekaisaran Langit. Lalu dia mengalihkan perhatiannya pada Lei Mo. “Jika ayahmu tidak menyerahkan takhta di masa lalu, kamu juga akan menjadi putra mahkota. Sayangnya, dia memilih meninggalkan kemewahannya dan menjadi guru di sekte.”


“Ayahku sudah puas dengan kehidupannya saat ini.” Lei Mo menimpali.


Xiu Jichen tiba-tiba saja batuk kecil. Fu Chan Yin menoleh dan memberinya segelas air putih. “Minumlah air jika tenggorokanmu tidak nyaman.”


“…” Xiu Jichen tidak memiliki niat untuk minum. Yang penting ini bukan maksudnya.


Sayangnya Fu Chan Yin tidak peka dengan cuka tumpah suaminya. Yang lainnya pura-pura tidak melihat hal itu.


Ming Zise akhirnya mengambil topik lain. “Aku akan membawa Mei’er ke Istana Minglan untuk tinggal. Karena kami sudah bertunangan, dia bisa tinggal di sana,” katanya.


“Tidak!” Xiu Jichen dan Xiu Jikai kompak menolak. Hanya Fu Chan Yin yang berniat untuk mengiyakan.

__ADS_1


Xiu Jichen menatap Ming Zise dengan cibiran. “Kamu ingin membawa putriku pergi? Ini hanya angan-anganmu. Tunggu ketika kalian menikah, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi.”


“Aku juga berpikir begitu.” Xiu Jikai setuju dengan kata-kata ayahnya. “Aku adalah kakaknya. Ayah dan Ibu akan pergi lagi di masa depan, tentu saja Mei’er akan tetap bersamaku di sini.”


Tapi tampaknya Han Yuye netral kali ini. “Sebenarnya tinggal di mana pun tetap baik-baik saja bagi Xiao Mei. Kecuali tempat yang terlalu dingin,” katanya.


Bai Huazhi serta yang lainnya tidak memiliki pendapat. Tinggal di Istana Minglan atau di sini baik-baik saja. Xiu Jimei pasti akan datang untuk menemui mereka.


Bahkan Xiu Jimei tidak menyangka Ming Zise akan mengajukan hal seperti itu. Tapi jika dia harus memilih, pergi ke Istana Minglan memang pilihan terbaik. Bukan dia ingin meninggalkan keluarganya saat ini, tapi karena dia akan lebih mudah untuk mencari tahu tentang Ning Siyu di masa depan.


Untungnya Fu Chan Yin yang telah lama mendengarkan ketidaksetujuan suami dan putranya langsung kesal. Dia menjewer telinga Xiu Jichen sekuat mungkin hingga pria itu meringis kesakitan.


“Istriku …” Xiu Jichen mengeluh.


Fu Chan Yin cemberut. “Biarkan Mei’er pergi dan tinggal dengan Ming Zise. Apa salahnya? Jangan lupa, dulu kamu juga seperti itu bahkan setelah aku menemukan keluargaku!”


Xiu Jichen ingin muntah darah. Dia dan Fu Chan Yin dulu berbeda. Tapi putrinya tidak bisa. Dia egois, jadi apa salahnya?


Namun Fu Chan Yin mengomel panjang lebar saat ini dan Xiu Jichen ingin menutup kedua telinganya. Xiu Jimei tidak berkata apa-apa saat ini. Lebih baik biarkan ibunya yang melawan ayah saat ini.


Namun kemarahan Fu Chan Yin berlarut-larut hingga malam hari. Fu Chan Yin menendang Xiu Jichen dari kamar dan berteriak untuk tidur di ruangan lain malam itu. Xiu Jichen yang telah suram sepanjang hari mau tidak mau hanya bisa berkompromi dengan keinginan Ming Zise.


Dia khawatir Fu Chan Yin akan pulang ke rumah keluarga Fu besok dan meninggalkannya dalam kedinginan. Akhirnya, setelah Fu Chan Yin diyakinkan, Xiu Jichen bisa tidur di kamar bersama istrinya.


Benar saja, pada keesokan paginya, Xiu Jichen memiliki sedikit lingkaran hitam di bawah matanya. Dia meminta Xiu Jimei untuk berkemas dan mengikuti Ming Zise ke Alam Para dewa. Jika ada waktu, dia dan Fu Chan Yin akan berkunjung.


Xiu Jikai yang tidak terima hanya berencana untuk mencari rumah di Alam Para Dewa dan mengawasi adiknya. Kali ini Fu Chan Yin juga tidak akan mencegah Xiu Jikai untuk pergi juga.


Setelah berkemas, Xiu Jimei tentu saja langsung pergi dengan Ming Zise ke Alam Para Dewa.

__ADS_1


__ADS_2