
Xiu Jikai segera bergerak cepat ke arah laki-laki itu dan memegang tangannya. Di sisi lain, Yan Yujie yang sedikit pucat akhirnya menghela napas lega. Dia pucat bukan karena takut jatuh, melainkan melihat di bawah ada potongan es yang cukup tajam, tanpa sadar merapatkan kedua kakinya.
Jika Xiu Jikai tidak segera menangkapnya, tubuh bagian bawahnya akan mengenai bongkahan es tersebut hingga tidak akan memiliki anak di masa depan?
Bukankah ini lebih suram?
"Jangan takut, kamu hanya terpeleset." Xuan Xing menenangkannya.
"..." Aku tidak takut sama sekali! Yan Yujie berteriak di hatinya. Dia tidak berani berkata jika wajahnya pucat karena khawatir akan kehilangan 'masa depannya'.
Akhirnya, setelah Yan Yujie ditarik Xiu Jikai, semua orang lega.
Selama satu jam mereka mendaki, akhirnya tiba di puncak. Mereka melihat sebuah rumah yang cukup mewah, bertingkat serta tidak diselimuti es sama sekali. Namun rumah tersebut sepertinya sepi.
"Apakah tidak ada orang? Penjaga atau pelayan?" tanya Yan Yujie yang seluruh tubuhnya hampir membeku.
"Tidak tahu. Ketuk saja gerbangnya," jawab Jia Lishan.
Sebelum mereka mengetuk pintu gerbang, terdengar suara raungan dari halaman. Mereka terkejut, kecuali si kembar dan Ming Zise. Lalu mereka melihat sosok hitam berkaki empat melompat dari dalam pintu gerbang.
Sosok hitam berkaki empat itu mendarat tak jauh dari mereka, menggeram sambil menunjukkan beberapa taring tajam.
"Macan kumbang roh kuno!" Xiu Jimei mengenalinya, tak terkecuali Xiu Jikai.
Saat makhluk berkaki empat itu melihat siapa yang datang, kewaspadaannya menghilang. Kini tergantikan dengan tubuh yang menggigil. Macan kumbang roh kuno yang jarang terlihat itu ternyata masih memiliki penampilan yang sama seperti di masa lalu. Sedikit gemuk dan berwarna hitam.
"Kenapa kamu di sini?!" tanya macan kumbang roh kuno pada gadis itu. Dia seperti melihat iblis yang akan mencabut nyawanya.
"Tentu saja mengunjungi pria tua Bai. Apakah tuanmu ada?" tanyanya.
"Dia ada di dalam ..." Macan kumbang roh kuno enggan mengatakan 'tidak ada'. Gadis itu pasti akan tetap menerobos masuk, apapun yang terjadi nantinya.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya."
Macan kumbang roh kuno melompat melewati tembok setinggi dua meter.
Sementara Xiu Jimei dan timnya menunggu. Dia ingat, ibunya pernah cerita jika di mas lalu, macan kumbang roh kuno pernah dicat menjadi warna polkadot. Pada saat itu, catnya tidak mudah hilang sehingga macan kumbang roh kuno harus menanggung identitas macan tutul putih selama beberapa waktu.
__ADS_1
Tak lama bagi mereka menunggu, pintu gerbang dibuka dari dalam. Sosok pria tua berjubah elegan terlihat sedang mengelus janggutnya.
"Oh, cicitku, kamu datang." Bai Huazhi menyambut mereka dengan senang hati, terutama saat melihat Xiu Jimei dan Xiu Jikai.
"Siapa cicitmu?!" Si kembar berkata bersamaan.
Namun Bai Huazhi hanya tertawa keras, mempersilakan mereka masuk. Sosok Ming Zise menarik perhatian pria tua itu hingga akhirnya tertegun. Aura yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh Dunia Langit atau Istana Langit.
Penghuni Alam Para Dewa.
"Merepotkanmu, Tuan Bai," kata Ming Zise sopan.
"Tidak masalah, tidak masalah ..." Bai Huazhi bingung. Hanya saja tidak sopan menanyakan identitas pihak lain. Yang pasti, pria serba putih itu adalah guru pendamping kelompok Xiu Jimei.
Bai Huazhi tidak pelit sama sekali. Dia meminta pelayan menyajikan teh yang paling enak, makanan kaya rasa serta beberapa buah-buahan. Tentu saja, Bai Huazhi juga sering meletakkan beberapa buah dan camilan di berbagai ruangan agar memudahkan si kembar makan apapun saat berkunjung.
Bahkan Istana Langit juga sangat kaya akan makanan. Ketika Xiu Jimei datang ke Istana Langit dan mengunjungi pangeran agung, segala jenis makanan akan disajikan untuk menyambut nya.
"Kalian tiba begitu cepat? Apakah sudah menyelesaikan tugas?" tanya Bai Huazhi.
"Tentu saja sudah. Kami hanya datang untuk menitipkan binatang roh kuno yang telah dijinakkan lebih dulu. Lalu kami akan pergi lagi untuk bermain," jelas Xiu Jimei.
"Aku hanya menjinakkan lima ekor saja, itu pun dari jenis yang sama. Sisanya oleh mereka." Xiu Jimei berkata jujur.
"... Kalau begitu, masukan saja ke kandang. Ada kandang kosong di belakang rumah, bersih dan cukup luas. Bintang roh kuno yang telah dijinakkan tidak akan melarikan diri sama sekali."
"Baik. Terima kasih."
"Panggil aku Kakek," tuntut pria tua itu.
Xiu Jimei tidak mau. Selain kakek besar Fu, dia tidak mau memanggil pria tua lain sebagai kakek. Namun Bai Huazhi banyak membantunya selama ini. Dia mungkin harus berbaik hati sedikit.
"Kakek!" Xiu Jimei sedikit tercekat.
"Bagus, bagus!" Bai Huazhi akhirnya tertawa senang.
"..." Ketujuh murid itu merasa jika Bai Huazhi sama sekali tidak kekurangan cucu jika mau. Tapi dia bertingkah seolah-olah sedang mencari cucu yang hilang.
__ADS_1
Setelah makan hidangan yang tersaji, Xiu Jimei pergi ke halaman belakang. Dia melihat kandang luas yang dipagar oleh kayu cendana sehingga aroma kayu yang khas sedikit membuat pikiran rileks.
Xiu Jimei mengeluarkan semua binatang roh kuno yang telah dijinakkan. Lalu memastikan jika mereka tidak akan melarikan diri. Setelah itu, kelompok nya pergi setelah berpamitan dengan Bai Huazhi.
Sebelumnya, Xiu Jimei membiarkan keempat makhluk suci ini kuno bersantai di Dunia Kecil Array Kuno. Keempatnya tidak keberatan dan langsung pergi ke tempat yang diinginkan.
Untungnya Roh Bunga tidak ikut. Jika pria cantik itu ikut, kebisingan akan terjadi.
Melihat kelompok Xiu Jimei yang telah menghilang saat pintu gerbang ditutup, Bai Huazhi penasaran.
"Binatang apa kira-kira yang ditangkap mereka?" gumamnya.
"Tuan, mari kita lihat." Macan kumbang roh kuno juga penasaran.
Bai Huazhi mengangguk. Tuan dan bintang roh peliharaan itu akhirnya berjalan ke halaman belakang. Melihat lima ekor binatang roh berwarna hitam putih, Bai Huazhi hampir saja tersandung batu di depannya.
"Apa itu? Sapi kurus jenis baru di Dunia Kecil Array Kuno?" Pria tua itu berteriak kaget.
Macan kumbang roh kuno tak bisa menahan diri untuk tertawa. Dia berguling ke kanan dan ke kiri sambil menggerakkan keempat kakinya.
Ya Tuhan, benar-benar lucu!
"Itu bukan sapi. Tuan, tidak ada sapi perah di dunia kecil ini. Jelas mereka binatang roh lain," kata macan kumbang roh kuno langsung mengklarifikasi.
Sebagai sesama binatang roh kuno, dia jelas tahu aroma dan karakteristik binatang roh lainnya.
"Bukan?" Bai Huazhi akhirnya masuk kandang, mendekati lima ekor binatang roh kuno yang kini memasang ekspresi tidak bersemangat.
"Kamu binatang apa?"
"Kami adalah zebra," jawab salah satu dari mereka.
"..." Bai Huazhi menatap mereka. Jika dilihat lebih teliti lagi, ada rambut di kepala hingga ke lehernya.
Benar, ini zebra roh kuno tangan sering muncul di padang rumput.
"Lalu kenapa kamu ... jadi seperti ini?"
__ADS_1
Akhirnya salah satu zebra yang baru saja dewasa mulai mengeluh dengan parah. "Jika bukan gadis itu, bagaimana bisa kami menjadi warna sapi perah. Sangat jelek. Bantu kami menghapuskan catnya."
"Ulah Xiu Jimei?"