
Botol pil sejuk yang diberikan Ming Zise sangat berharga bagi dewa kesialan. Itu mampu meredakan rasa sakit dan panas di tubuhnya. Jadi dewa kesialan menyimpannya di laci dekat tempat tidur. Tidak aman tapi tidak ada yang berani untuk mencurinya.
Siapa yang tahu sambaran petir itu justru mengarah ke kamar dewa kesialan dan menghancurkan meja nakas hingga tak berbentuk lagi.
Kepala pelayan menyadari jika botol giok berisi pil sejuk telah hancur di lantai menjadi bubuk. Dia tahu dewa kesialan pasti tidak akan mampu menanggung kejutan batin.
Para pelayan segera membawa dewa kesialan ke dalam istana, direbahkan di sofa panjang. Tak lama setelah itu, dewa kesialan terbangun dari pingsannya.
"Kamu bilang pil itu pecah?" tanyanya langsung pada kepala pelayan.
"I-iya ... Iya," jawab kepala pelayan seraya mengangguk.
"..." Dewa kesialan merasa kosong di hatinya. Ini sungguh sangat sial.
Botol pil obat sejuk yang paling berharga harus berakhir menjadi bubuk. Semua ini gara-gara petir sialan itu!
Tak lama mereka mendapatkan gulungan surat dari istana dewa petir. Dalam surat dikatakan bahwa petir yang menyambar istana dewa kesialan itu disebabkan karena sumpah mantan dewa tertinggi, Ming Zise.
Disebutkan dalam surat bahwa Yan Yujie terluka setelah diserang oleh sekelompok ras hantu. Masalahnya, Ming Zise berkata pada Xiu Jimei jika seandainya Yan Yujie terluka, maka istana dewa kesialan akan terkena petir.
Berhubung Yan Yujie benar-benar terluka, apa yang diucapkan Ming Zise menjadi kenyataan.
Setelah mencerna seluk beluk dari masalah ini, dewa kesialan sangat marah. Mantan dewa tertinggi itu sengaja meyakinkan bintang phoenix nya tapi membuat dia menjadi korban.
"Ming Zise! Aku belum selesai denganmu!"
Dewa kesialan menyentuh dadanya dan bernapas tidak benar. Dia menghancurkan surat di tangannya. Pada akhirnya, dia pingsan lagi.
"Dewa!" Para pelayan lagi-lagi panik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alam sekuler.
Semua kelompok ujian telah mendapatkan tugas sampingan yang harus dilakukan. Pada siang hari, mereka telah berangkat ke tempat yang dituju.
__ADS_1
Kelompok Xiu Jimei mendapatkan tugas mencari bunga api, batu api serta material api lainnya. Jadi mereka mencari gunung api yang masih aktif.
Tugas ini juga diberikan pada beberapa kelompok yang lain. Namun bukan berarti tempatnya sama. Ada banyak gunung api di alam sekuler dan kemungkinan besar semua kelompok terpecah.
"Lihat gunung itu, apakah itu gunung api?" tanya Yan Yujie yang masih diperban.
Luka-luka di tubuh Yan Yujie belum sembuh total karena Ming Zise tidak mengizinkan Xiu Jimei untuk menyembuhkan lukanya terlalu sempurna. Dia ingin semua muridnya mengalami pengalaman yang beragam tanpa harus selalu mengandalkan obat-obatan praktis.
Ada gunung yang menjulang tinggi tak jauh dari mereka. Puncak gunung sedikit mengeluarkan asap dan sesekali akan terjadi erupsi kecil.
"Sepertinya begitu. Aku merasakan energi spiritual api dari sana."
Xuan Xing, sebagai kultivator elemen es tentu saja berlawanan dengan elemen api. Dia sendiri terhadap elemen api tersebut sehingga bisa merasakan samar-samar hawa panas dari gunung tersebut.
"Untungnya kita menemukan gunung api lebih cepat. Jika tidak, kita tidak tahu harus mencari di mana," kata Jia Lishan sedikit lega.
"Ayo pergi ke sana." Xiu Jimei sudah melompat ke dahan pohon lain untuk mempercepat perjalanan.
Yang lain segera mengikuti.
Ming Zise ada di belakang mereka untuk mengawasi. Di sisi lain juga dia berkomunikasi dengan Wuming—memintanya untuk pergi ke gunung api yang dimaksud. Dia ingin memastikan jika di tempat itu tidak ada bahaya yang tersembunyi.
Setelah melakukan perjalanan selama seperempat jam, mereka tiba di kaki gunung api. Ada banyak rumput dan pepohonan mulai mengering. Kelompok Xiu Jimei sedikit kebingungan.
"Kenapa pohon di sini seperti kekurangan air? Apakah mungkin karena hawa panas dari gunung?" tanya Kin Wenqian seraya menyentuh daun ilalang yang kering.
"Mungkin? Ini berbeda sekali dengan gunung api di tempat kita." Xuan Xing mengangguk.
"Tentu saja itu berbeda." Suara seorang gadis asing terdengar di telinga mereka.
Kelompok Xiu Jimei menoleh ke arah di mana suara itu berasal dan mendapati sekelompok kultivator alam sekuler yang sedang mencari sesuatu di gunung api.
Dari perawakan mereka, setidaknya seusia dengan Xiu Jimei dan teman-temannya. Tapi usia beberapa dari mereka berbeda jauh. Bisa dikatakan, kelompok Xiu Jimei memiliki usia lebih tua dibandingkan mereka.
"Siapa kalian?" Yan Yujie pertama kali mengambil langkah.
__ADS_1
"Aku dari sekte alam sekuler yang kecil. Namaku Meng Meng. Ini semua rekan tim dari sekte yang berbeda." Gadis bernama Meng Meng itu memperkenalkan diri dengan ramah.
Meng Meng memiliki rambut panjang dikucir dua, setinggi Xiu Jimei, ramping dan berpakaian dari sekte alam sekuler yang dimaksud. Sepertinya merupakan salah satu jenius di sektenya. Setidaknya, memiliki kultivasi ranah surga ke atas pada usia muda sangatlah langka di dunia ini.
Kelompok Xiu Jimei juga ramah berkenalan dengan mereka.
"Tadi kamu bilang bahwa gunung api di sini dengan di Dunia Langit berbeda? Kenapa?" tanya Yan Yujie kembali ke topik.
"Itu karena gunung ini akan segera meletus, tanahnya mulai panas, semua tumbuhan menjadi kering. Semua tumbuhan dan pepohonan baik yang mengandung energi spiritual atau tidak, semuanya bergantung pada esensi alam. Semakin kaya energi spiritual di udara, semakin terpelihara juga kesegarannya. Begitu pun sebaliknya. Kalian dari Dunia Langit pasti tidak terbiasa tinggal di alam sekuler," jelas Meng Meng.
"Itu memang benar. Kami merasa panas dan sesak di sini. Tapi tidak apa-apa, anggap saja mencari pengalaman." Yan Yujie tidak ingin menyakiti hati gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa. Aku juga sangat nyaman saat berada di Dunia Langit dan berharap bisa tinggal di sana suatu hari nanti. Berkultivasi di sana sangat cepat. Tidak heran kultivator Dunia Langit sangat hebat." Meng Meng tersenyum dan sangat antusias. Dia adalah orang yang mudah bergaul, sama seperti Wang Xuyue.
"Apa yang kelompokmu lakukan di kaki gunung ini?"
Salah satu dari rekan tim Meng Meng menjawab, "Kami mencari beberapa tanaman herbal di sini. Lalu bagaimana dengan kalian?"
"Kami akan pergi gua api untuk mencari beberapa batu api serta hal-hal lain yang menganggap energi spiritual api."
"Gua api?" Meng Meng sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Ah, aku tahu. Ada gua di gunung api ini. Itu ada di arah Utara."
"Kamu tahu?"
"Tempat ini tidak jauh dari sekteku berada. Tentu saja aku tahu ... Hanya saja, mungkin kalian harus berhati-hati," jawabnya.
"Apakah ada yang salah?" Xiu Jimei mengerutkan kening.
"Kami dengar jika di gua itu ada binatang roh yang sangat ganas dan buas. Siapapun yang memasuki wilayahnya akan mati. Tapi aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, hanya rumor. Hanya saja beberapa kultivator yang pernah datang ke gua itu tidak pernah kembali," tuturnya.
"Sangat ganas!"
"Ya, begitulah. Intinya kalian harus berhati-hati. Sayangnya aku tidak bisa ikut karena tugas kami berbeda. Kalau begitu, kami akan pergi duluan."
Meng Meng melambaikan tangan pada mereka dan mengejar anggota kelompoknya yang telah berjalan lebih jauh.
__ADS_1
Melihat kepergiannya, Xiu Jikai tidak langsung percaya. "Apa yang dikatakannya itu, benar atau tidak?"
Dia masih kurang yakin.