Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Pergi Ke Rumah Fu


__ADS_3

Sementara itu, Kaisar Alam Baka masih duduk di singgasananya. Dia tiba-tiba saja memutuskan hubungan energi spiritual bola kristal dengan burung mata-mata. Ia terkejut saat Xiu Jimei menatap burung kolibri biru yang merupakan burung mata-mata. Gadis itu curiga. Khawatir ketahuan, Kaisar Alam Baka langsung ketakutan.


Tatapan Xiu Jimei saat memperhatikan burung mata-mata terlihat mengetahui segalanya. Dia menatap Wang Zheming.


“Dia tidak akan mengatakan sesuatu yang buruk ‘kan?” tanyanya.


“Selama kamu jujur.”


“…” Sejak awal aku tidak jujur, bisakah semuanya baik-baik saja? Kaisar Alam Baka serasa baru saja melakukan dosa besar. Dia sudah menipu anak mantan dewa iblis atau raja neraka Negeri Atas saat ini.


Wang Zheming sepertinya tahu kekhawatirannya. “Dia tidak akan peduli dengan ini. Jika burung mata-mata itu musuh di matanya, sejak awal lomba, gadis itu pasti sudah menangkapnya lebih dulu dan memasukkannya ke sangkar.”


“Gadis itu tidak akan tertarik dengan kolibri kecil yang tidak memiliki kekuatan besar bukan?” Kaisar Alam Baka curiga jika Xiu Jimei suka memelihara banyak binatang roh untuk kesenangan.


Wang Zheming menghela napas tidak berdaya dan menatap Kaisar Alam Baka dengan simpati. “Di matanya, burung sekecil apapun tetaplah makanan yang enak untuk dipanggang atau dibuat sup.”


“…” Apakah gadis itu hanya memikirkan makanan di kepalanya?


Burung kolibri hanya memiliki sedikit daging di tubuhnya. Bagian tubuh mana yang harus dimakan?


Kaisar Alam Baka menggelengkan kepala, tidak terlalu serius menanggapi hal ini. Setelah memastikan jika lomba makan terbanyak selesai, dia hanya perlu mengatur sisanya.


Hutan Alam Baka akan dibuka untuk para pemenang beberapa hari setelah lomba berlangsung. Kaisar Alam Baka masih khawatir Xiu Jimei mencurigainya memiliki rencana lain. Jadi dia memutuskan untuk tenang sementara waktu.


Jangan sampai gadis itu memasuki istana dan sengaja bertanya untuk memuaskan rasa penasaran. Setelah lomba makan berlangsung, Kaisar Alam Baka langsung melarikan diri dari kursinya dan kembali ke halaman istana permaisuri.


Wang Zheming melihat ha melarikan diri secepat tikus bertemu kucing, hanya bisa geleng-geleng kepala. Para perdana menteri kebingungan. Tidak ada kaisar di singgasana, tentu saja memilih untuk membubarkan diri. Mereka juga punya pekerjaan yang harus diurus.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jimei serta yang lainnya tidak menginap di luar. Mereka datang ke rumah keluarga Fu dan menyambut semua anggota keluarga yang ada. Baru saja memasuki halaman, Xiu Jimei mendengar teriakan antusias kakeknya.


"Oh ... Cucu perempuan ku datang! Biarkan kakek lihat, apakah dia kurus atau tidak," katanya agak keras hingga beberapa anggota keluarga lainnya langsung tahu.


Awalnya Xiu Jimei dan tertawa bersama teman-temannya yang lain. Namun setelah mendengar suara Fu Heng yang tidak terlalu tua, Xiu Jimei cukup terkejut. Dia langsung naik ke atas pohon. Mereka tahu jika Xiu Jimei selalu menghindari keberadaan Fu Heng, kakek yang selalu ingin mencintai cucu perempuannya.


Ketika Fu Heng tiba, dia mencari keberadaan Xiu Jimei. "Di mana gadis itu?" tanya Fu Heng seraya memperhatikan sekitar.


Wang Xuyue sesekali menoleh ke arah pohon, tempat di mana Xiu Jimei bersembunyi saat ini. Lalu sosok kecil gadis itu tidak bersuara sedikit pun. Namun Fu Heng akhirnya menyadari cucunya sengaja menghindarinya.


"Nak, apa yang kamu lakukan di atas pohon?" Fu Heng berpura-pura tidak tahu apapun.


“Aku hanya mencoba untuk tenang,” jawab Xiu Jimei sedikit jijik tapi tentunya tidak serius.


“… Jelas, aku masih sama seperti sebelumnya.” Suara Xiu Jimei mengecil dia membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Fu Heng padanya. Jika ibunya ada di sini, Fu Heng tidak akan terlalu bersemangat saat melihatnya.


Xiu Jikai yang ada di samping kakek besarnya, mau tidak mau sedikit tidak senang. “Kakek, tidakkah kamu merindukanku juga?” tanyanya.


Fu Heng akhirnya menatap cucu laki-lakinya yang memiliki semua kemiripan Xiu Jimei. Lalu mendengkus. “Kamu bocah bau. Anak laki-laki harus mandiri. Untuk apa aku harus memanjakanmu?”


“…” Xiu Jikai mencibir. Pria tua itu masih bisa memanjakan Mei’er, tapi tidak sesering dirinya. Dia masih tidak harus cemburu.


Saat ini, Xiu Jimei masih tidak mau turun dari atas pohon. Fu Hang menatap cicit perempuannya yang tidak suka diperlakukan seperti anal kecil oleh Fu Heng, mau tidak mau memutar otaknya untuk berpikir.


“Cicitku, Kakek Besar baru saja menangkap seekor ayam roh gemuk dari hutan. Sore ini, mari kita buat ayam panggang bumbu kecap. Ibumu dulu suka makan daging, kamu juga sering memakannya. Tapi kali ini kakekmu akan memanggangnya untukmu,” bujuknya.

__ADS_1


Sebelum Fu Hang menambahkan banyak kata. Xiu Jimei sudah melompat turun dari pohon dan menghampiri Fu Hang.


“Kalau begitu, aku ingin ayamnya lebih dulu. Jika tidak terlalu besar, aku akan menangkapnya lagi,” kata gadis itu.


“Tidak, tidak. Itu cukup. Kakak besar telah menangkap lebih dari tiga ekor pagi tadi.” Fu Hang buru-buru menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin dia memberikan cicitnya menangkap ayam roh sendirian? Jelas dia sengaja ingin membuat cicitnya makan enak di rumah Fu.


Fu Hang tertawa keras dan akhirnya membawa cicitnya memasuki halaman lain untuk mengobrol. Adapun Fu Heng, pria itu terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya menyadari apa yang baru saja dikatakan ayahnya.


Xiu Jikai akhirnya tersenyum puas saat melihat kakeknya tampak tidak memiliki ekspresi putus asa. “Kakek, menunggumu memanggang ayam bumbu kecap untuk Mei’er.”


“…” Fu Heng ingin muntah darah karena kesal.


Jangan bercanda. Sejak dulu, Fu Heng tidak pandai memasak selain memanggang ikan dan ayam tanpa garam. Bagaimana bisa memanggang ayam bumbu kecap yang enak untuk cucunya? Khawatir cucu perempuannya akan sakit perut setelah makan masakannya nanti, Fu Heng segera menyentuh pundak Xiu Jikai.


Fu Heng memberikan tatapan berarti dan keseriusan saat ini. “Kamu juga pandai memasak sama seperti adikmu, ikut kakek dan ajari kakek cari memanggang ayam bumbu kecap!” Dia segera menyeret Xiu Jikai ke arah dapur tanpa perlu mendengar persetujuannya.


“…” Xiu Jikai yang enggan tidak bisa melarikan diri setelah jatuh ke tangan kakeknya.


Sementara itu, Cip Cip yang ada di samping Wang Xuyue menggigil. Mereka akan memanggang seekor ayam dan itu masih jenisnya sendiri sebagai ayam. Wang Xuyue melihat kepengecutan Cip Cip. Dia menghela napas dan menepuk tubuh berbulunya.


“Jangan khawatir. Yang dipanggang bukan kamu. Apa yang harus ditakuti?” Dia menenangkannya.


Cip Cip ingin tersedak sesuatu. “Tuan, kamu tidak tahu perasaan seekor ayam,” jawabnya.


“Bagaimana aku tahu perasaanmu jika kamu tidak mengatakannya?”


“…” Cip Cip tidak tahu apakah dia harus bersyukur atau tidak karena memiliki tuan yang polos.

__ADS_1


__ADS_2