
Saat Xiu Jimei bangun dari tidur, hari sudah malam. Dia berada di ranjang empuk yang lembut dengan selimut di tubuhnya. Ketika menoleh ke samping, sosok Ming Zise berbaring di sampingnya.
Pria itu terlihat damai saat tidur.
Mengetahui jika tubuhnya sudah berganti pakaian saat ini, sepertinya Xiu Jimei menebak jika Ming Zise mengurusnya setelah pergi tidur bersama.
Para pelayan diam-diam tahu apa yang dilakukan tuan mereka tapi tidak mau bicara lebih banyak.
Xiu Jimei memperhatikan Ming Zise yang masih tidur di sampingnya. Tanpa sadar, dia menyentuh wajahnya yang halus. Bahkan lebih halus daripada kulit wanita.
Tak lama, Ming Zise membuka matanya dan menangkap tangan gadis itu yang berani menyentuh wajahnya.
"Mei'er mengagumi wajah Guru?" godanya.
Xiu Jimei mengelak. "Tidak, hanya nyamuk yang nakal."
"Tidak ada nyamuk di Alam Para Dewa."
"..." Ini tidak mungkin, batin gadis itu.
Mengetahui alasannya tidak relevan, Xiu Jimei menghela napas. Tapi untungnya Ming Zise tidak mengejar masalah ini untuk mempermalukannya. Tiba-tiba saja, perut gadis itu berbunyi cukup nyaring hingga Ming Zise tersenyum penuh arti.
"Sepertinya Mei'er lapar. Bangun dan waktunya makan malam." Ming Zise bangun lebih dulu. Dia memakai pakaian yang lebih sederhana kali ini tapi tidak mengurangi rasa keagungan nya.
Xiu Jimei yang mengenakan gaun putih pun turun dari tempat tidur dan pergi duduk di salah satu kursi di sana. Beberapa hidangan disajikan. Tak seperti biasanya, kali ini, Ming Zise makan di kamar tidur.
Biasanya Ming Zise akan pergi ke ruang makan dan memakan sedikit makanan. Tapi kali ini Xiu Jimei enggan meninggalkan kamar dan hanya bisa memenuhi keinginannya.
Makan malam kali ini sangat mewah dan banyak hidangan yang disajikan. Xiu Jimei yang rakus terhadap makanan hampir bisa mengosongkan semua isi piring di meja.
Barulah setelah itu dia kenyang.
__ADS_1
"Guru, apakah ada kolam air panas di sini?"
"Apakah Mei'er ingin berendam?"
"Ya."
"Guru akan membawamu ke sana."
Ming Zise membawa Xiu Jimei ke salah satu ruangan lain yang lebih luas. Di dalamnya terdapat uap yang mengepul tanpa henti. Dan ada kolam air panas di tengah ruangan, cukup luas.
"Ini kolam pemandian pribadi Guru. Mei'er bisa berendam dengan santai di sini."
Xiu Jimei jelas senang dan akhirnya bisa melepaskan tubuh lelahnya dengan berendam. Tapi siapa yang tahu jika Ming Zise juga ikut berendam bersamanya. Hingga beberapa adegan kembali lagi terjadi setelah Ming Zise menekannya ke dinding kolam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Xiu Jimei dan Ming Zise kembali ke Dunia Langit secara diam-diam. Xiu Jimei tidak mau dipergoki oleh Ning Siyu. Jadi dia meminta Ming Zise untuk pergi diam-diam.
"Apa yang terjadi saat aku tidak ada?" tanyanya.
"Xiao Mei, kamu akhirnya kembali bersama guru." Wang Xuyue tampak sedih. "Ini semua gara-gara ulah ras hantu lagi. Yujie diserang lagi kali ini tapi belum sadarkan diri sejak kemarin," katanya.
Xiu Jimei terkejut. "Dia diserang kemarin?"
Wang Xuyue mengangguk. "Setelah kamu pergi hari itu, tak lama mereka datang untuk menyerang kami dan kelompok Huang Fu Shi. Meski Xiao Kai kuat, tapi ras hantu hanya tertuju pada Yan Yujie dan melukainya."
Mereka sudah memeriksa keadaan Yan Yujie sebelumnya tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh sama sekali. Tubuhnya tampak baik-baik saja tapi tidak sadarkan diri.
Ming Zise segera memeriksa kondisinya dan merasa jika jiwa Yan Yujie kacau saat ini. Mengingat apa yang dilakukan Ning Siyu yang bekerja sama dengan raja hantu, dia kesal lagi saat ini.
"Guru, apakah ada cara untuk membangunkannya?" tanya Xuan Xing.
__ADS_1
"Ada, tapi cukup rumit."
"Katakan saja, kami pasti akan berjuang bersama." Xuan Xing langsung berkata demikian.
Ming Zise menyipitkan mata. "Kita butuh air mata duyung untuk membangunkannya."
Kali ini, semuanya menjadi hening. Mereka sendiri tidak pernah melihat ras duyung. Tapi kali ini mereka membutuhkannya.
"Duyung? Apakah manusia setengah ikan?" tebak Jia Lishan.
"Benar."
"..." Di mana kami bisa mendapat air matanya yang bisa menjadi mutiara itu?
"Di laut mana ras duyung berada?"
"Tidak perlu jauh-jauh. Datang saja ke laut darah dan laut hitam."
"Laut darah dan laut hitam? Apakah ada di sana?" Kin Wenqian terkejut.
"Siapa yang tahu bukan, ada di sana?"
Ming Zise menyembunyikan sebuah rahasia yang selama ini terkubur di hatinya. Dia tak bisa memberi tahu mereka begitu saja.
Mereka sepakat untuk pergi dan membiarkan Yan Yujie berbaring di ruang spiritual bawaan Xiu Jimei.
Keberadaan laut darah tidak terlalu jauh. Mereka cukup menggunakan binatang roh terbang untuk datang ke sana.
Lautan darah dan laut hitam memiliki array satu sama lain. Bahkan jika kedua lautan saling berdampingan, penjaganya berbeda. Tapi kali ini mereka tidak mencari penjaga lautan, melainkan duyung.
"Bagaimana kita mencari keberadaan ras duyung?"
__ADS_1
Melihat lautan darah dan lautan hitam tampak tenang, mereka lebih penasaran.