
Dewi Kehidupan tidak langsung menjawab. Dia menyesap tehnya lagi hingga habis. Memandang keduanya secara bergantian, dia tahu cara ini mungkin sedikit berlebihan. Belum lagi Ming Zise dan Xiu Jimei jarang berkumpul akhir-akhir ini karena kesibukan.
"Yang kedua, cobalah dalam wujud setengah binatang. Mei'er memiliki darah ras naga iblis setengah dewa dalam tubuh. Cukup munculkan saja tandukmu selama beberapa waktu sehingga wujud itu akan menekan penyebaran esensi delapan dewa-dewi yang berlebihan.
Xiu Jimei menghela napas lega. "Yang kedua baik-baik saja."
Dia membersihkan kedua tangannya dan kembali duduk di gazebo untuk melanjutkan makan kue. Setelah masalah terpecahkan, Xiu Jimei mencoba memunculkan kedua tanduk naga putihnya yang dilapisi sedikit warna pelangi. Terlihat lucu sekilas.
Melihat hal ini, Dewi Kehidupan juga sangat puas. Gadis itu masih terlihat lucu meski usianya sudah seratus tahun. Keturunan mantan dewa iblis tidak mungkin buruk.
Xiu Jimei menghabiskan kue sendirian. Dewi Kehidupan sama sekali tidak marah dan meminta pelayan untuk mengambilnya lebih banyak.
"Jangan makan terlalu banyak, bagaimana jika perutmu sakit nanti?" Ming Zise mengingatkannya.
"Ini tidak banyak. Aku hanya makan sepiring kecil."
Xiu Jimei memandang piring kue kering yang bahkan tidak mencapai ukuran panjang telapak tangannya. Merasa sangat disayangkan.
Akhirnya Dewi Kehidupan pun tertawa ketika mendengarnya. Semua piring di istananya memang seperti ini. Tapi dia tidak menyangka jika Xiu Jimei akan memiliki nafsu makan yang besar.
Lupakan saja. Kedatangan Xiu Jimei ke sini sudut seperti berkah baginya. Lagi pula, dia merasakan banyak kasih sayang untuk gadis itu. Mungkin karena hubungannya dengan Mye Ai.
Omong-omong tentang nenek Xiu Jimei atau tak lain adalah ibunya Fu Chan Yin yaitu Mye Ai, Dewi Kehidupan tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Siklus hidup Mye Ai masih terhubung dengannya di masa lalu. Sehingga tidak heran Xiu Jimei akan mengenalinya.
Bahkan penampilannya dengan Mye Ai juga sangat mirip.
"Tidakkah ada yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanyanya pada gadis itu.
Xiu Jimei sudah mengunyah kue kering yang dibawa pelayan dan akhirnya teringat sesuatu. Ming Zise menyajikan teh untuknya untuk melembapkan tenggorokan.
__ADS_1
Dia mengangguk. Setelah meminum secangkir teh, tenggorokannya jauh lebih nyaman.
"Aku ingin tahu ... kenapa penampilanmu mirip dengan mendiang nenekku?"
Dewi Kehidupan tidak terkejut ketika gadis itu bertanya. "Bukan aku yang mirip dengannya, tapi nenekmu yang mirip denganku."
"Aku tidak mengerti." Xiu Jimei menaikkan sebelah alisnya. Kenapa ini jadi kebalikannya?
Ming Zise tahu sesuatu tapi lebih baik biarkan Dewi Kehidupan yang menceritakan pengalaman hidupmu sendiri.
Saat ini, Dewi Kehidupan seperti melihat langit berawan di hari cerah. Kehidupan sehari-hari di Alam Para Dewa selalu membosankan baginya. Namun seberapa membosankan itu, dia masih harus menjalankan tugasnya sebagai dewi.
"Ceritanya panjang. Maukah Mei'er mendengarkan?" tanyanya.
"Tentu saja. Selama itu ada hubungannya dengan nenekku." Gadis itu mengangguk ringan.
Tujuan menyebarkan jiwa itu hanya satu, mengumpulkan kembali semua vitalitas yang kosong sehingga jiwa Dewi Kehidupan yang rusak bisa utuh lagi.
Namun itu tidak mudah, setiap pecahan jiwa Dewi Kehidupan yang meninggal karena menemui takdirnya, ia sendiri akan mengingat semua itu.
"Nenekmu adalah salah satu pecahan jiwaku. Semua pecahan jiwaku yang lahir ke dunia akan mengambil penampilanku. Tidak heran selama hidup mereka, kecantikan akan menjadi salah satu keunggulan," jelas Dewi Kehidupan. Dia menatap Xiu Jimei.
"Mei'er, aku memanggilmu begitu karena nenekmu memanggilnya seperti itu. Meski nenekmu sudah meninggal sejak melahirkan ibumu, dia tahu segalanya. Karena itu saat Mye Ai menginginkan bertemu denganmu dalam dunia esensi delapan dewa-dewi, aku menyetujuinya," imbuhnya lagi.
Xiu Jimei terkejut. "Bertemu denganku? Mungkinkah itu hari di mana aku berada di padang rumput yang sangat luas dan melihat nenek di gazebo yang indah. Lalu nenek memetik buah persik untukku."
Dewi Kehidupan mengangguk. "Buah esensi delapan dewa-dewi sangat langka. Itu hanya tumbuh di lautan spiritual esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Hanya saja kamu tidak bisa memasukinya. Esensi delapan dewa-dewi memiliki pikirannya sendiri."
Sebagai mantan pewaris esensi delapan dewa-dewi yang telah meninggal, tentu saja Mye Ai mampu melakukan ini. Namun dengan syarat, meminta izin padanya. Bagaimana pun selama hidup, manusia terikat dengan Dewi Kehidupan, dewi yang memberi seluruh vitalitas pada semua makhluk hidup di dunia ini.
__ADS_1
"Tidak heran sangat mirip. Aku merasa ... melihat nenekku masih hidup dan tersenyum padaku." Kemudian Xiu Jimei ibunya. "Jika ibu melihatmu, dia pasti akan menangis."
"Siapa yang tidak ingin bertemu? Sebenarnya aku ingin pergi menemui ibumu dan mengatakan segalanya. Tapi sayangnya takdir tidak mengizinkan. Ibumu telah rutin pergi ke makam nenekmu untuk membersihkan dan meletakkan seikat bunga. Dewi ini akan selalu mengingatnya."
Ada vitalitas seorang dewi pada tubuh Mye Ai. Bahkan jika sudah meninggal dan dikuburkan, auranya tetap ada. Siapapun yang datang untuk mengurus atau mengingat masa hidupnya, pasti akan diketahui Dewi Kehidupan. Keduanya memiliki ikatan.
Di antara pecahan jiwanya yang lain, jiwa Mye Ai bisa dikatakan paling sempurna. Selain tumbuh di Istana Langit dan memiliki keluarga kelahiran Mye yang berkuasa, Mye Ai juga sangat disayang.
Sayangnya, Mye Ai mengetahui takdir tragis putrinya di masa yang akan datang sehingga dengan paksa mengubah takdir yang ditetapkan. Untuk pertama kalinya, Dewa Takdir tidak berdaya saat itu.
Dewi Kehidupan melepas salah satu hiasan rambutnya yang terbuat dari perak, batu giok serta mutiara. Dia menyerahkan itu pada Xiu Jimei.
"Ini, bawalah dan berikan pada ibumu. Hadiahku untuknya."
Xiu Jimei menerima benda itu. "Kenapa kamu tidak bisa bertemu ibuku? Apakah ini termasuk pelanggaran kehidupan?"
"Mei'er, kamu mungkin tidak mengerti. Orang yang sudah meninggal tidak mungkin mengenali anggota keluarga. Ketika mati, maka mati dan tidak ada hubungannya dengan dunia. Jika aku menunjukkan diri di depan ibumu, dia mungkin akan mengira ibunya yang sudah lama meninggal hidup lagi," tutur sang dewi dengan penuh kesabaran.
Sepertinya Xiu Jimei juga mengerti ini. Dia mengangguk dan menyimpan benda tersebut dengan aman.
Setelah membicarakan banyak hal, Xiu Jimei dan Ming Zise kembali ke Dunia Langit. Tanduk kecilnya masih muncul dan Xiu Jimei tidak malu lagi ketika dilihat banyak orang.
"Xiaomei, akhirnya kamu kembali." Wang Xuyue melihatnya datang dan melambaikan tangan.
Xiu Jimei tersenyum, membalas lambaian tangannya. Tapi dia masih berjalan sejajar dengan Ming Zise.
"Ada apa dengan tanduk di kepalamu?" Yan Yujie yang tengah makan kuaci tidak terkejut ketika melihatnya kembali. Namun ia masih sedikit terkejut melihat tanduknya muncul.
Tahukah dia bahwa ras hantu sedikit takut dengan jiwa naga iblis murni. Terutama jika itu keturunan para dewa.
__ADS_1