
Ming Zise dengan sabar menjelaskannya sedikit demi sedikit sehingga Xiu Jikai bisa mengerti. Dia menunjukkan gulungan jodoh dari dewa jodoh sebelumnya. Kemudian tunjukan pada Xiu Jikai. Dia yakin laki-laki itu akan tahu apa maksudnya.
Gulungan jodoh tidak bisa dimanipulasi. Ming Zise memiliki salinannya hanya untuk berjaga-jaga.
Saat Xiu Jikai melihat nama adiknya dan Ming Zise tertulis sebagai takdir bintang phoenix, kepalanya sedikit pusing. Ini benar dan tidak ada manipulasi.
Pria di depannya yang menyamar sebagai guru pendamping adalah orang itu.
"Apakah ... adikku tahu ini?"
"Belum. Aku hanya sedang meyakinkan perasaannya lebih dulu."
Xiu Jikai memejamkan mata. Ini sedikit berat baginya. Saudara kembar yang tumbuh bersama sejak kecil, rasanya tidak rela untuk melepaskannya.
"Xiao Kai ... Apakah kamu tahu apa yang diinginkan Xiao Mei selama ini?" tanya Ming Zise tiba-tiba.
Yang diinginkan adiknya? Xiu Jikai tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dia selalu mengkhawatirkan gadis itu di mana-mana. Khawatir jika adiknya akan membuat masalah di luar. Jadi dia tidak menjawabnya.
"Xiao Mei mungkin selalu bersikap ceroboh, tapi dia tidak bodoh." Ming Zise menyentil hati laki-laki itu.
Xiu Jikai memang menegang saat ini.
Ming Zise menjelaskan lagi. "Dia sadar jika dirinya terlalu kuat hingga sulit mendapatkan teman. Dia memiliki sikap dingin yang sama sepertimu. Dia cerdas dan licik dan tidak mau menerima kerugian apapun. Tapi bayangkan ... Jika dia bersikap sama seperti dirimu, berapa banyak teman yang akan dekat dengannya? Dia hanya bisa berpura-pura untuk menjadi ceroboh dan bodoh, ceria di depan banyak orang dan selalu tertawa. Semua itu dilakukannya agar orang-orang di sekitarnya merasa nyaman.
Dia tidak mau dipandang terlalu tinggi oleh kultivator lain. Dia ingin menunjukkan pada semuanya bahwa menjadi kuat tidak berarti sombong dan terisolasi. Adikmu hanya ingin memiliki teman dan hidup layaknya gadis-gadis lainnya. Dia tidak ingin hanya karena identitas Xiu Jichen dan Fu Chan Yin yang terlalu disegani, membuatnya ditakuti karena khawatir menyinggung perasaannya."
Penjelasan panjang lebar Ming Zise membuat Xiu Jikai terhuyung ke belakang dan jatuh lemas. Dia menopang tubuhnya dengan pedang. Pikirannya linglung. Selama ini dia tahu adiknya selalu ceroboh dan tidak sesuai dengan ajaran ayah atau ibunya.
Hanya karena ini?
Hanya karena tidak ingin kesepian, adiknya lebih memilih untuk menjadi gadis yang ceroboh dan menyenangkan di mata orang lain. Hanya untuk orang lain merasa nyaman saat berada di dekatnya.
__ADS_1
Yan Yujie, Wang Xuyue, Jia Lishan, Xuan Xing dan Kin Wenqian mungkin adalah anak dari teman-teman ibunya. Kecuali Yan Yujie yang memiliki ikatan keluarga karena ibunya adalah sepupu Fu Chan Yin. Mereka sudah terbiasa dengan adiknya.
Tapi orang lain belum tentu mau berbicara atau dekat dengan Xiu Jimei karena identitasnya yang tidak biasa.
Xiu Jimei hanya ingin menjadi orang biasa di mata orang lain. Tamparan demi tamparan mengenai hatinya. Dan itu sangat menyakitkan.
Selama ini Xiu Jikai tidak peka terhadap keinginan adiknya.
Xiu Jikai akhirnya merenungkan semuanya.
"Aku ingat ... Aku ingat saat masih kecil, dia pulang ke rumah sambil menangis. Dia berkata padaku bahwa anak-anak sebayanya tidak mau bermain dengannya karena takut menyinggung ayah dan ibu. Jadi mereka menjauhi Mei'er. Ayah dan ibu tidak tahu tentang ini dan hanya bertanya kenapa Mei'er menangis. Aku hanya bisa berbohong pada mereka bahwa akulah yang menggertak Mei'er. Aku tidak ingin ayah dan ibu merasa tertekan." Xiu Jikai menggigit bibir bibir bawahnya, matanya memerah.
Sejak saat itu, Xiu Jikai selalu menemani saudara kembarnya bermain bahkan jika itu bukan sesuatu yang diinginkannya.
Kemudian, semuanya mulai berubah saat orang tuanya membawa mereka berdua ke negeri Alam Baka, bertemu dengan keluar besar ibunya. Di sana lah Xiu Jimei dan Xiu Jikai bertemu dan Yan Yujie dan Wang Xuyue yang sedikit lebih tua darinya. Serta beberapa anak dari sepupu ibunya.
Wang Xuyue adalah anak dari guru kakak ibunya. Dia juga tinggal di keluarga Fu untuk sementara waktu. Lalu dia juga mengenal Yan Yujie, anak dari sepupu ketiga ibunya.
Awalnya Xiu Jikai berpikir jika adiknya sudah melupakan kejadian di mana dirinya dijauhi teman-teman sebayanya. Tapi sekarang dia berpikir lagi, ada yang tidak benar. Semua itu dilakukan Xiu Jimei agar Wang Xuyue dan Yan Yujie merasa nyaman saat berteman dengan keduanya.
Kemudian, satu persatu anak-anak dari teman ibunya datang bersama orang tua mereka. Lalu pertemanan pun dimulai dari hari itu.
Meski sekarang sikap adiknya sudah diketahui oleh mereka, rasa persaudaraan sudah mengakar dan tidak lagi canggung.
Memikirkan semua itu ... Xiu Jikai akhirnya sadar. Adiknya selalu pintar, bagaimana mungkin dia selalu ceroboh.
Xiu Jikai menertawakan dirinya karena tidak peka pada saudarinya sendiri.
"Kembalilah dan minta maaf pada adikmu. Jangan beri tahu jikalau aku adalah bintang phoenix-nya." Ming Zise menasihati.
Xiu Jikai mendengkus. Dia tahu itu. Rambut putih keperakannya kembali berubah hitam. Dia dan Ming Zise akhirnya kembali ke penginapan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xiu Jimei sedikit pusing saat membuat bakpao terakhir. Kepalanya sedikit sakit dan wajahnya pucat. Yan Yujie yang ada di sampingnya khawatir Xiu Jimei sakit dan meminta untuk istirahat sebentar.
Tapi Xiu Jimei tidak mau. Dia mau mengukus bakpao lebih dulu.
"Xiao Mei, aku akan mengukus bakpao nya. Kamu istirahat dulu dan tunggu Xiao Kai serta guru kembali," kata Yan Yujie mencoba untuk memaksanya berhenti.
"Aku tahu kondisi tubuhku sendiri." Xiu Jimei tetap ngotot.
"Tidak, kamu harus istirahat. Lihat betapa pucat wajahmu."
Xiu Jikai dan Ming Zise kembali ke dapur dengan ekspresi biasa. Keduanya mendengar percakapan tidak menyenangkan Yan Yujie dengan Xiu Jimei.
"Ada apa ini?" Xiu Jikai tahu kakak sepupunya jarang sekali keras kepala.
"Adik sepupu, kamu akhirnya kembali!" Yan Yujie melihat kedua orang itu datang, hatinya lega. "Xiao Mei sepertinya sakit. Tolong periksa dia."
"Aku baik-baik saja!"
Xiu Jimei tetap keras kepala. Dia tidak tahu bahwa tenggorokannya sakit saat ini. Saat melihat Xiu Jikai, gadis itu tidak tahan dan menangis lagi.
"Kakak, aku tahu aku salah. Tolong jangan marah padaku," katanya manja.
Jika pada hari biasa Xiu Jikai akan memprotes Xiu Jimei yang terlalu manja, kini dia tidak akan mempermasalahkannya lagi setelah tahu kebenarannya.
Dia menghampiri adiknya dan menghapus air matanya. "Tidak apa-apa. Aku hanya marah sesaat karena khawatir kamu ditipu. Semuanya baik-baik saja. Guru sudah menjelaskannya padaku. Mei'er, apakah kamu sakit?"
"Aku tidak apa-apa." Xiu Jimei tidak mau mengakui jika tubuhnya tidak nyaman.
Namun tiba-tiba saja Xiu Jimei pingsan hingga membuat ketiganya panik.
__ADS_1
"Mei'er!" Xiu Jikai segera menangkap tubuh adiknya yang terhuyung ke belakang.