
Harimau putih roh kuno mengeluh. Tapi dia tak bisa mengalahkan bintang suci ilahi kuno sama sekali. Mau tidak mau, dia hanya bisa menahan diri untuk tidak melempar burung itu ke api unggun.
Tidak apa-apa. Bulunya akan kembali tumbuh dalam waktu dekat.
Tuit Tuit terus berkicau dan merak biru tua tidak lagi mau memprovokasinya. Dia khawatir akan menjadi target yang berikutnya. Jika mantan dewi binatang memiliki sifat seperti itu, dia khawatir akan berantakan sepanjang hidupnya.
Pada akhirnya, Cip Cip yang sudah mulai tidur sebelumnya terusik. "Bisakah kamu diam dan tidur?"
"Aku tidak mengantuk!" Tuit Tuit kehilangan minatnya untuk memarahi orang.
"Jika kamu tidak mengantuk, maka jagalah api agar tidak padam. Aku mau tidur!" Cip Cip kembali memasukkan kepalanya ke balik sayap yang hangat.
Tuit Tuit enggan menjaga api tapi tidak mau masuk ke ruang spiritual bawaan. Mau tidak mau dia hanya bisa jaga api. Merak biru tua adalah Dewa Binatang dan tak perlu repot-repot untuk tidur. Dia mampu menahan diri dari rasa kantuk sepanjang waktu.
Harimau putih juga mencari tempat yang tak jauh dari mereka dan segera tertidur.
......................
Di tenda Yan Yujie yang sudah tertidur saat ini tengah bermimpi memancing di sebuah danau yang banyak ikan besarnya. Dalam mimpi, dia terlihat bahagia dan santai. Tapi tiba-tiba saja beberapa semut yang cukup besar menggigit kakinya.
Yan Yujie berteriak kesakitan dan langsung menyentil semut yang berani menggigitnya.
“Semut roh api!” Yan Yujie terkejut saat melihat ada begitu banyak semut roh api di mana-mana dan hampir mengelilingi.
Ini hanya mimpi, kenapa rasanya begitu nyata?
Lalu semut lainnya ternyata sudah naik ke tubuh Yan Yujie dan menggigit punggungnya. Kali ini Yan Yujie sulit untuk mengusir semut roh api yang menggigit punggungnya.
__ADS_1
“Semut sialan. Bagaimana kalian bisa memasuki mimpiku?” Yan Yujie berguling di dekat danau untuk membunuh semut roh api yang ada di punggungnya.
Tak lama setelah itu, Yan Yujie mendengar suara seseorang memanggilnya berulang kali.
“Bangun! Yan Yujie! Bangun untukku!” Suara dingin Xiu Jikai seketika membuat Yan Yujie bingung.
Yan Yujie merasa wajahnya sakit dan saat membuka matanya, dia berada di tenda dan berguling-guling. Lengan dan punggungnya sakit seperti gigitan semut roh api dalam mimpinya. Dia melihat Xiu Jikai di sampingnya dan sibuk dengan sesuatu yang lain.
“Apakah kamu membangunkanku? Ada apa?” tanya Yan Yujie agak bingung.
Xiu Jikai mendengkus. “Ada apa? Kamu berteriak begitu keras dan digigit semut roh api. Cepat bangun dan bunuh semut-semut ini. Aku lupa membuat array sebelumnya sehingga semut-semut ini masuk,” jelasnya.
“hah? Semut?” Yan Yujie yang merasa sedang bermimpi tadi tiba-tiba saja menyadari jika gigitan semut roh api itu tidak palsu.
Dia membelalakkan matanya dan melihat lengannya yang kemerahan dan sangat panas. Dan ada beberapa semut roh api di sekitarnya sedang dibunuh oleh Xiu Jikai. Semut roh api berwarna seperti apa, bukan predator yang kuat tapi gigitannya sangat menyakitkan dan membuat bekas gigitannya akan panas layaknya terbakar api selama beberapa waktu.
“Apakah kalian juga digigit semut ini?” Yan Yujie melihat Jia Lishan dan Yuu sedang membunuh semut roh api.
“…” Yan Yujie melihat semut roh api itu memang masuk dari sisi tenda tempatnya berada, mau tidak mau hanya bisa menghela napas.
Lagi-lagi dirinya tidak beruntung sama sekali. Kenapa harus dirinya yang digigit pertama dan bukan mereka? Pikirnya.
“Humph! Semut yang suka bersarang di pohon. Aku pasti akan membunuh kalian!” Yuu memiliki sedikit kebencian pada semut roh yang kadang membuat pohon rusak dan tinggal tanpa izin.
“Di mana yang lain?” Yan Yujie juga membantu mereka tanpa memedulikan rasa sakit dan panas di lengan dan punggungnya.
“Mereka di luar dan membunuh sisanya,” jawab Xiu Jikai.
__ADS_1
Lei Mo, Huang Fu Shi, Yuyu dan Sin juga sibuk mengusir atau membunuh semut roh api yang menyerang mereka. Yah Yujie keluar tenda dan melihat sekelilingnya lebih parah lagi. Ternyata semut roh api ini tidak mempan terhadap array yang dipasang mereka.
“Dari aman semut-semut ini berasal? Kenapa mereka ada di sekitar pantai?” Yan Yujie mencoba untuk mencari lubang semut roh api di sekitar.
“Kami juga tidak tahu. Semut-semut ini tampaknya tidak sengaja lewat sini dan menyerang kita.” Huang Fu Shi sedikit bingung untuk menghadapi semut roh api. Dia tidak tahu harus menggunakan apa. Hanya dengan mengandalkan obor di tangannya, semut-semut itu tampaknya tidak suka api.
“Yujie, tampaknya semut itu suka denganmu!” Wang Xuyue yang keluar tenda melihat sekelompok semut roh api pergi ke arah Yan Yujie.
“…??!” Yan Yujie terkejut dan melihat jika semut-semut itu memang datang ke arahnya. Lalu apa salahnya sekarang?
Anak beruang putih roh kuno tidak takut dengan semut roh api dan menginjak mereka dengan semangat. Yan Yujie khawatir binatang kontraktualnya akan dipenuhi semut nanti dan segera mengambilnya.
Tapi semut-semut itu lebih bersemangat saat melihat anak beruang roh kuno berada di pelukannya.
Yan Yujie tidak tahu apa yang diinginkan oleh semut roh api. Tapi yang jelas, dia tak bisa digigit lagi oleh semut roh api. Xiu Jimei keluar tenda bersama Ming Zise dan melihat keributan di luar. Dia melihat banyak semua roh api di sekitar tenda dan sebagian lagi menuju ke arah Yan Yujie.
Anehnya, meskipun semut roh api menyerang manusia, mereka tidak berani menggigit Xiu Jimei, Yuu serta dewa binatang yang berwujud merak biru tua. Saat Xiu Jimei melihat semut roh api di telapak tangannya tampak baik dan tenang, semua orang menatapnya dengan keheranan. Terutama Lei Mo dan Huang Fu Shi.
Benar saja, Xiu Jimei ini selain ditakuti oleh binatang roh ternyata juga disukai mereka. Kenapa dunia begitu tidak adil?
“Dasar semut! Kamu ingin menggigitku? Mimpi!” Yan Yujie segera mengubah dirinya ke wujud raja hantu dan menggunakan kekuatannya sendiri untuk membasmi mereka.
Sementara itu Xiu Jimei melihat merak biru tua yang acuh tak acuh dan sesekali menendang semut roh api yang ada di sekitarnya. Gadis itu kesal dan segera menghampirinya. Merak biru tua belum menyadari jika kesialannya akan segera datang.
“Tuan!” Tuit Tuit terbang ke bahu Xiu Jimei.
Tak lama setelah itu, Xiu Jimei menendang merak biru tua itu. Dewa binatang yang tidak menyangka akan ditendang oleh Xiu Jimei pun segera berteriak kesakitan. Dia menatap Xiu Jimei dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
“Beraninya kamu menendang dewa ini!” teriaknya.
“Dewa ekormu!” ejeknya. “Kenapa kamu hanya diam saja dan tidak mengusir semut-semut itu untukku? Jangan ganggu tidurku atau terima akibatnya!” Xiu Jimei bahkan lebih galak.