
Xiu Jimei akhirnya tak bisa menahan diri untuk makan bakpao isi daging yang enak dan masih hangat. Yang lain juga memiliki bagian. Ming Zise secara alami tidak ketinggalan. Rasa daging yang gurih dan pedas menyatu lembut dengan kulit bakpao yang sedikit kenyal.
Tidak mungkin Xiu Jimei kenyang hanya dengan makan bakpao. Kemudian Ming Zise pergi ke dapur untuk membuat sesuatu.
Jika yang lainnya bisa memasak seenak Xiu Jimei atau Ming Zise, pekerjaan memasak seperti ini pasti bukan masalah besar.
Tak lama, Xiu Jikai kembali.
"Apakah kamu sudah baikan?" tanyanya pada Xiu Jimei.
"Ya, demamku sepertinya sudah turun," jawab gadis itu.
Xiu Jikai menaikkan sebelah alisnya. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk. Sepasang saudara kembar itu mengobrol seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya.
Hanya saja Xiu Jimei merasa jika sikap kakaknya sedikit berubah hati ini.
"Kakak, apakah kepalamu terbentur sesuatu?"
Sudut mulut Xiu Jikai berkedut ringan. "Tidak. Kenapa menanyakan hal sepele seperti ini?"
"Aku merasa bahwa sikapmu padaku berubah."
"Tidak ada. Aku masih seperti biasanya. Kamu hanya tidak peka."
Sebenarnya Xiu Jikai yang tidak peka terhadap adiknya. Tapi dia hanya mencari alasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama masa istirahat, semua murid ujian bakat spiritual gabungan kembali berkumpul di halaman dekat pagoda dua puluh lantai. Melihat ujian berikutnya, mereka kebingungan saat ini.
Bukankah mereka harusnya pergi ke alam sekuler—tempat di mana energi spiritual sangat kecil dan kultivator di sana sangat sulit untuk memiliki gelar kultivator ranah.
Beberapa di antara mereka bahkan bertanya pada para kultivator alam sekuler.
"Saluran transmisi spiritual di dunia kami sangat berbeda dan kesulitan untuk membuat lorong teleportasi. Namun menurut guru di sekte kami, pagoda dua puluh lantai memiliki akses untuk menuju dunia sekuler," jelas salah seorang murid sekte dari alam sekuler.
"Bagaimana kalian bisa tahu tentang pagoda dua puluh lantai?"
"Itu menjadi legenda di dunia kami. Saat terbentuknya Dunia Langit yang baru, alam sekuler dilanda bencana yang cukup parah. Para pendeta tao berkata jika alam langit sedang mengalami pembentukan baru dan pagoda dua puluh lantai akan memiliki hubungan dengan alam sekuler."
"Pendeta tao di tempatmu sungguh spiritual."
__ADS_1
"Bukankah di sini juga lebih hebat harusnya?"
"Ya. Tapi sekarang sudah jarang adanya pendeta tao. Para kultivator di sini ada yang bisa meramalkan hal seperti itu."
"Sungguh berbeda ternyata."
Mereka terus berdiskusi.
Kelompok Xiu Jimei berada di sisi lain.
Kali ini, misi mereka menuju alam sekuler untuk menjelajahi beberapa tempat yang aneh. Tapi tampaknya petualangan kali ini akan lebih menyenangkan. Mereka belum pernah menginjakkan kaki di alam sekuler.
Untuk mencapai alam sekuler, pengurus ujian menjelaskan cara perginya. Mereka pertama-tama harus memasuki pagoda dua puluh lantai untuk menemukan lorong transmisi spiritual. Jika lorong transmisi ditemukan, secara otomatis akan dikirim ke alam sekuler.
Banyak murid sekte atau dunia lain yang mengeluh tentang ini. Bukankah itu artinya mereka harus berjuang lagi di setiap lantai pagoda?
"Apakah mereka begitu bertele-tele? Tidak heran ujian kali ini akan memakan waktu setengah tahun." Wang Xuyue kesal.
"Mungkin mereka bosan dan ingin melihat kita terkena sial lagi dan lagi." Yan Yujie juga mengeluh.
"Hanya kamu yang selalu terkena sial , bukan kami."
Satu persatu, kelompok ujian memasuki pagoda dua puluh lantai. Kali ini tidak ada teriakan aneh yang bisa membuat orang lain menebak-nebak. Sehingga mereka penasaran.
Tapi meski begitu, tiap tingkat keunikan di setiap lantai berbeda-beda, sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Namun pihak pengelola pagoda dua puluh lantai sudah memperbaikinya sedikit sehingga para kultivator akan merasa nyaman saat menjelajahi isi pagoda.
"Di mana guru?" tanya Xiu Jimei.
Yang lain juga baru menyadari jika Ming Zise tidak ada di tempatnya. Mereka menggelengkan kepala. Giliran mereka sudah hampir tiba tapi guru pendamping belum kembali.
"Kalau tidak salah, guru keluar malam tadi dan belum kembali?"
"Aku baru menyadarinya." Jia Lishan juga mengingatnya.
Ming Zise pamit sebentar malam tadi untuk mengurus sesuatu yang mendesak. Tapi sampai sekarang belum kembali.
Mereka tidak tahu bahwa saat ini ....
Di suatu tempat yang sepi dan jauh dari kawasan penduduk, Ming Zise sedang bertarung dengan Xiu Jichen di udara. Keduanya saling beradu pedang dan menunjukkan kekuatan masing-masing hingga area sekitarnya hancur oleh energi spiritual keduanya.
Namun Ming Zise tidak peduli dengan provokasi Xiu Jichen. Dia menghitung waktu dan segera turun tanpa memedulikannya lagi.
__ADS_1
"Ming Zise, kita belum selesai!" Xiu Jichen menyeka darah yang merembes di sudut mulutnya. Dia mengikutinya.
Saat Ming Zise mendarat, Fu Chan Yin sudah sibuk dengan daging panggangnya. Ketika melihat Xiu Jichen kembali, dia melemparkan paha ayam panggang yang sedang dimakannya ke arah pria itu.
Xiu Jichen sedang fokus pada Ming Zise dan meminta untuk bertarung lagi demi memperjuangkan Xiu Jimei. Tapi tiba-tiba saja paha ayam panggang menampar wajahnya cukup keras hingga noda saus pedas asam manis menempel di wajah tampannya.
"Jichen, sudah cukup! Biarkan dia pergi. Ujian masih belum selesai. Kamu bisa bertarung dengannya ketika ujian selesai!" Fu Chan Yin selalu merasa aneh dengan tingkah Xiu Jichen yang semakin kekanak-kanakan.
Mungkin pepatah berkata benar, semakin tua seseorang, semakin berpikiran seperti anak-anak.
"Yah, memang sudah tua yang awet muda," gumamnya.
"..." Xiu Jichen dikatakan sudah tua oleh istrinya sendiri, merasa lebih cemburu pada generasi muda.
Jelas dia masih muda dan hanya berusia lima ribu tahun lebih. Di mana dia terbilang tua.
"Sapi tua yang makan rumput muda!" Fu Chan Yin mengejek diam-diam.
"..." Xiu Jichen mengembuskan napas tidak berdaya, melihat istrinya sedang makan bagian daging ayam panggang yang lain.
Sedangkan Ming Zise yang tak tahan dengan hubungan mereka, segera tertawa. Perlahan-lahan, tubuhnya menjadi transparan hingga Xiu Jichen ingin melemparkannya dengan paha ayam panggang.
Demi membuat istrinya bahagia, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi wajahnya sudah menggelap. Setelah pria itu menghilang, Xiu Jichen mulai mengeluh pada istrinya.
"Yin'er, kenapa kamu begitu lembut padanya? Dia menculik putri kita," ujarnya.
"Kamu panggil aku apa?"
"Yin'er?"
"Kamu bilang aku adalah Yin Yin Kecil mu. Kenapa kamu begitu berubah-ubah selama ini? Apakah kamu mulai pikun?!"
Wajah Xiu Jichen bahkan lebih gelap. Sejak hadirnya Ming Zise, dia dan Fu Chan Yin menjadi sering bertengkar karena hal kecil yang konyol. Ming Zise ini sungguh hal-hal sial baginya.
Meninggalkan pasangan yang sedang bertengkar konyol ....
......................
Ming Zise sendiri sudah kembali ke tempat di mana kelompok Xiu Jimei berada.
"Apakah guru terlambat untuk datang?" Ming Zise tiba-tiba saja muncul di belakang mereka tanpa menimbulkan suara hingga membuat Yan Yujie hampir berteriak.
__ADS_1