Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ras Duyung yang Misterius


__ADS_3

Xiu Jimei sendiri belum pernah melihat ras duyung selama ini. Berpikir jika semua makhluk itu hanyalah dongeng belaka. Tapi siapa yang tahu jika mereka benar-benar dan nyaris hampir tidak menampakkan diri ke dunia.


"Tunggu tengah malam, kita bisa melihat hasilnya." Ming Zise menyipitkan mata.


Hanya begitu saja?


Mereka kebingungan saat ini. Apa hubungannya ras duyung dengan waktu tengah malam? Manusia kadang bisa menangkap duyung untuk dijadikan alat penghasil uang.


Karena itulah, ras duyung sangat tidak nyaman saat pergi melihat dunia luar. Satu-satunya cara adalah keluar di tengah malam.


Setelah mendapatkan penjelasan Ming Zise, akhirnya mereka mengerti. Untuk tidak membuat ras duyung curiga, mereka bersembunyi dan menyembunyikan jejak energi spiritual di tubuh masing-masing.


Mereka menunggu waktu berlalu, sangat sabar dan sesekali akan memandangi lautan darah dan lautan hitam yang saling berdampingan. Meski sedikit agak mengerikan, tapi fakta ada di depan mata. Dua lautan yang berbeda itu saling bertetangga.


“Aku lapar, tidak bisakah kita membakar ikan?” tanya Xiu Jimei.


Dia sudah menunggu berjam-jam lamanya dan ini hampir tengah malam. Tapi dia sama sekali tidak makan apapun sejak tiba di laut darah dan laut hitam.


“Makanlah buah lebih dulu,” jawab Ming Zise.


Ras duyung sensitif dengan suara. Jadi mereka harus bersabar untuk tidak membuat keributan. Xiu Jimei dengan patuh makan buah. Yang lain juga melakukan hal yang sama.


Bahkan Xiu Jimei tidak bisa makan keripik kentang saat ini. Betapa tersiksanya hidup tanpa makan sesuatu yang disukai.


Hingga saat tengah malam tiba, ombak sedikit lebih tenang. Pada saat itu, Xiu Jimei serta yang lainnya seperti melihat sesuatu. Ada beberapa makhluk yang kadang berenang di permukaan.

__ADS_1


Makhluk itu berenang seperti lumba-lumba, menuju ke tepian batu karang untuk berjemur sinar bulan. Pada saat itu, Xiu Jimei serta yang lainnya bisa melihat manusia setengah ikan duduk di batu karang.


Makhluk itu memiliki wajah yang cantik dan tampan, kulit putih, telinga ikan, ekor berwarna-warni dan sedikit berkilau karena pantulan sinar bulan. Rambut panjang mereka cenderung berwarna hijau dan biru, ada juga yang hitam, pirang dan merah. Semuanya akan diserasikan dengan warna tubuh setengah ikan mereka.


Xiu Jimei serta yang lainnya terkejut saat melihat ras duyung yang muncul saat tengah malam. Belum lagi bulan purnama tepat di atas kepala saat ini. Sangat cocok untuk berkultivasi yang membutuhkan gravitasi bulan.


Tak lama setelah itu, sebuah array tak terlihat tiba-tiba muncul di sekitar batu karang dan mengurung beberapa duyung yang bersantai di batu karang.


Para duyung langsung panik. “Cepat kembali ke laut. Seseorang ingin menangkap kita!” teriak salah satu duyung pria.


Semuanya segera melompat ke air laut untuk melarikan diri namun mereka justru menabrak dinding array. Mereka panik, mencoba untuk memecahkan array tapi gagal.


Tak lama kemudian, Xiu Jimei serta yang lainnya muncul di luar array. Para duyung melihat para kultivator muncul, akhirnya penuh kemarahan.


“Bahkan jika kalian menangkap kami untuk mencari keberuntungan, tidak! Kami tidak akan mau memberikannya pada kalian.”


“Benar. Kami tidak mau menjadi budak kalian!”


“…” kelompok Xiu Jimei tidak memiliki niat untuk memperbudak mereka.


Xiu Jimei sendiri sudah mengeluarkan mangkuk dan memasuki array. Semua duyung yang terkurung mulai menjadi waspada. Bahkan ada duyung muda yang mulai menangis ingin pulang dan berjanji tidak akan berani naik ke permukaan.


Xiu Jimei bahkan tidak peduli dan menghampiri duyung kecil yang menangis, lalu menampung air matanya.


“…” Para duyung yang melihat hal ini merasa heran.

__ADS_1


Para kultivator itu tidak banyak bicara dan langsung mengeluarkan mangkuk, lalu menampung air mata?


“Jangan makan aku, jangan makan aku. Aku kurus dan tidak enak dimakan,” kata duyung kecil langsung menangis lebih keras ketika Xiu Jimei berjongkok di depannya sambil memegang mangkuk.


Duyung kecil perempuan itu berpikir jika Xiu Jimei ingin memeras darahnya. Tapi siapa yang tahu, Xiu Jimei hanya ingin air matanya. Salah satu duyung dewasa tetap waspada, melihat tindakan Xiu Jimei.


Setelah air mata duyung terkumpul cukup banyak, Xiu Jimei menghela napas. Dai tampak senang dan lega.


“Duyung kecil, kamu bisa berhenti menangis. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan,” katanya.


Xiu Jimei keluar dari array dan berteriak pada Ming Zise. “Guru, air mata duyung sudah didapatkan. Kita bisa menyelamat kakak sepupu.”


“Ya.” Ming Zise tersenyum dan melepaskan array yang mengurung pada duyung.


Wang Xuyue menghela napas. “Akhirnya aku juga bisa makan malam.”


“Mari bangunkan Yujie dulu sebelum memasak makan malam.” Wang Xuyue menyarankan.


“Tidak masalah.”


“…” Beberapa duyung yang bebas tidak langsung pergi, melainkan menatap kelompok Xiu Jimei yang pergi begitu saja.


Mereka menahan mereka hanya untuk mendapatkan air mata duyung? Hanya itu saja?


Bukankah mereka lebih tertarik untuk memelihara duyung demi keberuntungan?

__ADS_1


__ADS_2