
Kelompok Yan Yujie akhirnya tiba. Xuan Xing, Wang Xuyue, Jia Lishan serta Kin Wenqian menyusul kemudian. Bahkan mereka tidak menyangka jika Huang Fu Shi serta Lei Mo datang.
"Sepertinya ada orang baru hari ini?" Wang Xuyue sangat aktif saat berinteraksi dengan orang baru.
Yuu segera memperkenalkan diri. Lalu Dewa Binatang yang berwujud merak saat ini tidak berani untuk menampilkan sosok manusianya. Dia terlalu tampan. Bahkan jika dirinya narsis, ketampanannya nyata.
Sementara ras duyung hanya bisa muncul malam nanti. Mereka masih tidak berani untuk menampakkan diri di siang hari. Rasanya seperti hantu.
Setelah saling berkenalan, mereka mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Karena ada banyak orang yang bergabung, tempat harus diubah sedikit. Lalu mereka menemukan tempat yang luas dan datar. Tapi suasananya terlalu aneh.
"Tidakkah kalian merasa jika tempat ini terlalu sunyi?" Kin Wenqian curiga.
Xuan Xing mengangguk. "Mungkin ini sarang binatang roh lain."
"Seharusnya begitu. Jadi tidak mungkin membuat tenda di sini."
"..." Dewa Binatang dalam wujud merak biru tua pura-pura tidak mendengar.
Jadi apa? Bahkan jika ada raja hutan sekalipun, dia tidak takut. Merekalah yang takut padanya. Sebagai dewa para binatang, semua binatang roh harus tunduk padanya.
Tapi ... Dewa Binatang meragukan ayam roh kuno yang selalu menguntit Wang Xuyue ke mana-mana. Kenapa ayam yang satu ini tidak mau berlutut untuknya.
Ketika memilih kesempatan berbicara, merak biru tua menoleh padanya.
"Tidakkah kamu ingin berlutut untukku?" tanyanya.
__ADS_1
Cip Cip terkejut dan menatap merak sombong itu dengan keheranan. "Kenapa aku harus tunduk padamu? Apakah kamu dewa?" celetuknya kedua.
Dewa binatang ingin muntah darah saat ini. Bulu-bulu meraknya yang halus ingin rontok di tempat. Apakah dia baru saja menembak kakinya sendiri?
Lupakan saja. Mungkin ayam itu terlalu lemah sehingga tidak merasakan energi spiritual dewanya.
Saat ini, mereka masih ragu apakah harus mendirikan tenda di tempat yang cukup strategis? Xiu Jimei tidak peduli. Dia sudah mendirikan tenda dan masak mi instan. Lalu menyuruh Poppy dan Yuu untuk mencari kayu bakar tambahan.
Poppy tidak mau, tapi dia sudah diseret oleh Yuu.
Tak lama setelah keduanya pergi, penghuni asli tempat itu muncul dan mengaum marah pada semua orang yang sedang membangun tenda.
"Ah!! Ini raja hutan!" Wang Xuyue berteriak ketakutan.
Raja hutan, singa roh kuno. Siapa yang berani seenaknya datang ke wilayahnya, cari mati!
Singa roh yang ada di hadapan mereka saat ini merupakan raja hutan yang telah lama berkultivasi menembus tingkat ranah bumi. Tubuhnya besar, tinggi lebih dari satu meter dan memiliki dua taring panjang di rahang atas.
"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita mengusirnya?" Xuan Xing sudah menduga jika ini akan terjadi. Namun Xiu Jimei masih renang saat ini, menyantap mi instan nya.
"..." Dunia ini sepertinya sudah bosan dengan orang kuat, batinnya.
Singa roh itu tidak suka dengan kehadiran manusia dan mulai menyerang mereka. Ming Zise tidak ikut dalam pertarungan. Dia duduk di samping Xiu Jimei.
Karena itu, Xiu Jikai sebagai yang paling kuat di antara para junior, mau tidak mau menendang merak biru tua yang terlihat sombong sejak awal.
__ADS_1
"Ini bagianmu! Jangan hanya diam saja, itu tidak berguna!" ejeknya.
"..." Dewa Binatang yang ditendang merasa terhina. Dia ingin memaki Xiu Jikai tapi singa roh sudah ingin menerkamnya.
Wang Xuyue tidak terlalu tahu tentang merak biru tua. Dia hanya tahu jika merak itu selalu berada di dekat Yuu.
Dewa Binatang yang melihat singa roh itu tidak takut padanya sama sekali, akhirnya segera mengembangkan ekor cantiknya.
Lei Mo dan Huang Fu Shi tidak tahu apa yang dilakukan merak itu. Tapi keduanya sudah siap untuk bertarung dengan singa roh jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Namun Xiu Jikai menghentikannya.
"Kenapa kita tidak bisa membantu? Merak biru tua itu terlalu lemah? Sepertinya bukan lawan binatang roh pemakan daging." Lei Mo khawatir. Merak yang cantik, sayang jika mati begitu saja.
Belum lagi, merak hanya makan biji-bijian, pucuk daun bahkan beberapa serangga. Bagaimana mungkin menghadapi singa roh besar seperti itu?
Eh, bukankah ada harimau putih roh kuno dan Cip Cip sebagai binatang roh kuno? Lalu ... di mana mereka?
"..." Lei Mo melihat jika harimau putih roh kuno sudah duduk dan makan daging. Cip Cip menatapnya dengan jijik.
Benar saja, di saat Dewa Bencana yang berwujud merak saat ini diserang oleh singa roh, terdengar teriakan nyaring yang tidak enak didengar.
Lei Mo dan Huang Fu Shi terkejut saat mengetahui jika mereka biru tua itu bisa bicara.
Saat ini mereka biru tua yang sengaja mengembangkan ekornya untuk membuat efek rasa takut pada singa roh sama sekali tidak berfungsi. Justru binatang buas itu mencakar ekornya yang cantik.
"Ahh! Kamu binatang kecil yang tidak menghormati dewa!" teriaknya sangat marah.
__ADS_1
Kenapa dirinya begitu tidak beruntung hari ini?