
Ming Zise tidak langsung mengikutinya masuk. Bagaimana pun juga ada banyak orang di sekitarnya. Dia hanya bisa diam-diam pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan urusannya. Padahal aslinya, dia menghilang di tempat tersembunyi dan muncul di samping Xiu Jimei.
Pria itu berbaring di sisinya sambil merapikan rambut Xiu Jimei yang sedikit berantakan.
"Mei'er," bisiknya.
Xiu Jimei yang setengah tertidur akhirnya bisa menyadari jika Ming Zise ada di tendanya. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun Ming Zise menyentuh bibirnya, memintanya untuk diam.
“Tidurlah,” bisiknya lagi.
Gadis itu juga berbisik, “Guru, kenapa kamu di sini? Bagaimana jika seseorang datang?”
“Jangan khawatir, semua orang sudah beristirahat.” Pria itu ketagihan dengan rambut gadis itu dan mau tidak mau mengelusnya lagi. “Guru akan pergi dulu dan mungkin membutuhkan beberapa hari untuk kembali. Yamla akan menjaga kalian selama Guru tidak ada,” jelasnya.
“Pergi ke Alam Para Dewa?”
“Ya,” jawabnya pelan.
Kali ini Ming Zise harus kembali untuk mengurus beberapa masalah yang ada di sana. Dia mendapatkan laporan dari penjaga gelapnya yang ada di Istana Minglan jika Ning Siyu sering datang ke sana. Ning Siyu melakukannya ini untuk membiarkan Ming Zise kembali.
“Apakah ada masalah di sana?” tanya gadis itu.
__ADS_1
“Yah, bukan masalah besar. Hanya saja seseorang berani untuk campur tangan.”
“Apakah ini ada hubungannya dengan dewi kecantikan?” tebaknya.
Ming Zise sedikit tertegun dan mengangguk tidak berdaya. “Guru tidak menyembunyikannya. Ini memang ada hubungannya dengan dia.”
Xiu Jimei langsung cemberut. “Guru peduli padanya.”
“Cemburu?” Ming Zise mau tidak mau mencubit ujung hidung gadis itu hingga meninggalkan bekas kemerahan.
“Tidak bisakah? Dewi kecantikan menyukai Guru dan berkata jika aku tidak layak untuk Guru,” gumamnya.
“Jangan berkata sembarangan!” Ming Zise tidak suka gadis itu mengatakan hal demikian. “Mei’er adalah kekasih dan bintang phoenix Ming Zise ku. Tidak ada yang bisa menggantikannya ketika takdir sudah ditetapkan. Jangan khawatir,” jelasnya langsung memeluknya.
“Bagaimana Guru tahu jika Ning Siyu membuat masalah dan masih ada hubungannya denganku dan kakak sepupu?”
“Dewi takdir yang memberi tahu Guru.”
Dewi Takdir? Xiu Jimei memikirkannya. Dia belum pernah melihat Dewi Takdir ini namun sepertinya sangat kenal dengan Ming Zise. Bukan jenis cinta antar lawan jenis, semacam pertemanan murni.
Melihat gadis itu terdiam, Ming Zise meluruskan. “Dewi takdir berkata jika Ning Siyu mulai keluar dari jalan kebenaran para dewa dan hal tersebut melanggar aturan para dewa-dewi. Jika dewa alam semesta mengetahui ini, dia bisa dijatuhi hukuman.”
__ADS_1
Bukan hanya itu, Ning Siyu ini masih berani pergi ke Dunia Bawah dan memikirkan rencana gelap dengan raja hantu. Ning Siyu berpikir jika semuanya mungkin tidak diketahui oleh siapapun. Namun siapa yang membuat Ming Zise berteman dengan Dewi Takdir?
Dewi Takdir tidak menyukai Ning Siyu karena terlalu sombong dan merasa paling cantik di Alam Para Dewa. Banyak penghuni Alam Para Dewa sangat mengagumi kecantikannya.
Bagaimana Dewi Takdir bisa tahu jika Ning Siyu berkolusi dengan raja hantu, semuanya karena takdir yang telah terlihat di matanya. Ketika takdir raja hantu terlihat, bayangan Ning Siyu juga terlihat di matanya. Karena itulah Dewi Takdir langsung mengetahuinya dan memberi tahu Ming Zise untuk berjaga-jaga.
Xiu Jimei langsung menarik jubah brokat putih Ming Zise dan menggodanya. “Apakah Guru akan pergi malam ini?”
“Apakah Mei’er ingin Guru di sini malam ini?”
“Kenapa tidak bisa? Apakah begitu terburu-buru?”
“Tidak!” Ming Zise menenangkan dirinya dan tahu jika gadis di depannya ini tidak polos seperti kelihatannya. “Tapi bukankah Mei’er lelah dan ingin tidur?” Dia tersenyum.
“Tidak apa-apa, tidak lelah lagi. Aku ingin tidur bersama Guru,” bisiknya.
Ming Zise mencium aroma bunga persik dari tubuh Xiu Jimei dan jantungnya berdebar. Gadis ini sengaja menggodanya. Mau tidak mau, Ming Zise masih tidak bisa menahan diri untuk membenamkan wajahnya di leher gadis itu.
“Mei’er, jangan salahkan Guru kalau begitu,” ucapnya cukup pelan. Dia mulai membuka setengah pakaian gadis itu dan menikmati keindahan yang ada di pelukannya.
Tenda yang Xiu Jimei tempati cukup luas untuk dua orang dan masih bergerak bebas. Tapi keduanya tidak membuat suara atau keributan di dalam. Keduanya diam-diam menahan suara masing-masing. Xiu Jimei masih menggigit bibir bawahnya saat Ming Zise mengecap leher dan buah persiknya.
__ADS_1
Awalnya Ming Zise berpikir untuk membuat gerakan yang tenang dan membuat gadis itu tidak khawatir dengannya saat pergi nanti. Tapi Ming Zise tidak bisa munafik jika tubuh bintang phoenix-nya seperti sup ekstasi, mampu membangkitkan hormon pria dalam dirinya. Tulang ekornya seperti memiliki sengatan listrik yang membuat dirinya tak mau berhenti.