
Ming Zise berwajah gelap saat Ning Siyu benar-benar melakukan perbuatan tidak bermoral seperti ini. Dia melepaskan pelukan wanita itu dengan mudah dan menghempaskan ke samping.
Kini Ming Zise benar-benar marah, meluruskan tubuhnya dan menatap Ning Siyu dengan cibiran.
"Ning Siyu, jangan keras kepala. Jika kamu melakukan kesalahan lagi dan lagi di masa depan, aku akan menangguhkan status dewi kecantikan yang melekat pada dirimu. Ingat, jangan mengganggu siklus perjodohan atau melanggarnya. Kamu akan dihukum oleh dewa surga dan neraka. Lain kali, jangan datang untuk hal sepele seperti ini. Kembalilah ke istanamu."
"Apakah kamu tahu seperti apa wajah asli gadis itu? Ming Zise, aku adalah dewi kecantikan, melalui cermin langit, aku bisa melihat baik dan buruknya seseorang. Dia bukan gadis yang baik. Aku bisa melihat dia hanya pura-pura lembut di depan banyak orang. Sifat aslinya tidak selembut itu," jelas Ning Siyu.
Ini fakta. Dia sudah melihatnya sedikit melalui cermin langit. Tapi tidak sepenuhnya tahu. Entah apa yang terjadi, cermin langit tidak mau melihat hidup Xiu Jimei. Cermin langit juga tidak mau mengubah tubuh Xiu Jimei menjadi gemuk dan jelek atau wajah dipenuhi jerawat.
Yang ada, Ning Siyu malah terkena serangan balik dan cermin langit sedikit retak. Ning Siyu kebingungan pada waktu itu. Kenapa cermin langit tidak bisa mengendalikan baik atau tidaknya Xiu Jimei.
Jadi dia semakin cemburu pada Xiu Jimei. Ada banyak rahasia apa gadis itu.
"Jadi apa?" Ming Zise melontarkan pertanyaan singkat yang datar. Dia merasa tubuhnya kotor saat ini karena dipeluk oleh Ning Siyu.
"Uh, apa?" Ning Siyu tertegun.
"Jadi bagaimana jika Xiu Jimei berpura-pura lembut di permukaan? Aku telah menyaksikannya tumbuh sejak lahir hingga seratus tahun terakhir. Ning Siyu, apakah kamu yakin melihat semua ceritanya?"
Ning Siyu berwajah pucat. Tentu saja tidak. Cermin langit tidak mau memperlihatkan jalan hidup gadis itu.
Di masa depan, Ning Siyu khawatir jika Xiu Jimei menginjakkan kaki di Alam Para Dewa, dirinya akan tersaingi. Dia tidak bisa melihat hal ini terjadi.
"Zise, aku tahu aku tidak melihat semuanya. Tapi ... apakah kamu suka dia?"
"Bintang phoenix ku sendiri, bukan urusanmu untuk mengaturnya. Ning Siyu, jangan melewati batas kedewian. Tahukah kamu?"
Ming Zise meninggalkan Istana Minglan. Dia menyerahkan sisanya pada pengurus istana yang telah dipercaya selama ribuan tahun.
Ning Siyu belum bangkit dan masih terpana oleh sikap tegas dan dinginnya Ming Zise. Pria itu memang selalu seperti ini. Kenapa tidak tergerak oleh kecantikannya?
__ADS_1
"Apa bagusnya Xiu Jimei itu? Aku pasti akan membunuhnya di masa depan! Ming Zise hanyalah milikku!" Dia menggertakkan gigi, wajahnya sedikit menakutkan seperti penyihir jahat.
Dia tidak berani menunjukkan sifat atau sikapnya yang seperti ini. Citranya sebagai dewi kecantikan selalu dipuji lembut dan anggun. Dia tak bisa kehilangan kendali.
Hari ini Ming Zise membuangnya ke samping. Dulu, jika Ming Zise merasa marah, paling hanya memintanya kembali dan melarangnya datang ke Istana Minglan. Tapi kali ini pria itu bersikap menentukan.
"Dewi, perlukah saya bantu?" Kepala pelayan Istana Minglan sedikit canggung saat bertanya pada wanita bergaun merah muda.
Ning Siyu seperti sedang linglung dan memikirkan sesuatu tapi Ming Zise ditakdirkan memiliki bintang phoenix. Lagi pula, para dewa dan dewi kadang memiliki jodohnya tersendiri atau memintanya jika mau.
Ning Siyu yang menunjukkan sikap sedih dan tersenyum tak berdaya hanya menggelengkan kepala. Tapi hatinya sudah memaki. Dia pasti akan kembali lagi nanti dan mencari kesempatan yang bagus untuk membuat Ming Zise patuh padanya.
"Tidak apa-apa. Aku akan melakukannya sendiri. Maaf mengganggu kepala pelayan."
"Tidak masalah. Tuannya sedang sibuk, silakan kembali dulu." Kepala pelayan berkata sopan.
"Ya."
Ning Siyu bangkit dengan mudah dan membenarkan gaunnya kemudian meninggalkan Istana Minglan.
......................
Sementara itu ....
Ming Zise tidak langsung kembali ke sisi Xiu Jimei. Dia pergi ke Istana Dewa Kesialan untuk melihat kondisinya yang jatuh sakit. Dewa kesialan terkena demam cukup parah, badan sakit semua dan tentu saja ada ruam di kaki dan tangannya. Sepertinya alergi makanan.
Dewa kesialan sudah bosan makan udang roh dan gurita roh serta ikan roh. Dia ingin makan sesuatu yang lain. Saat bangun dari pingsan sebelumnya, dia menjadi lebih tenang. Namun kedatangan Ming Zise membuatnya naik darah.
"Kamu dewa tercela! Tidakkah kamu senang mengunjungi ku yang malang ini?" Dewa kesialan dalam mood buruk saat ini. Dikhawatirkan jika orang-orang yang ditakdirkan terkena sial hari ini akan tidak beruntung.
Ming Zise tersenyum datar, sama seperti sedang mengunjungi tetangga asing. "Nasibmu," jawabnya.
__ADS_1
"..." Dewa kesialan mencoba menahan diri untuk tidak meledakkan kemarahan ada Ming Zise.
Banyak dewa dan dewi yang mungkin takut pada Ming Zise tapi tidak dengan dewa kesialan. Temperamennya agak buruk. Dia juga jarang mencari masalah dengan Ming Zise sehingga komunikasi keduanya tidak terlalu banyak.
Hanya saja semua kesialan ini dimulai sejak dirinya membuat siap Yan Yujie. Siapa yang tahu Yan Yujie adalah kakak sepupu dari bintang phoenix Ming Zise?
Ini sungguh tidak beruntung.
"Apakah belum merasa baikan?" Ming Zise tidak terlalu kasar dan bertanya padanya dengan ramah.
Dewa kesialan menghela napas, setidaknya masih ada yang mau menjenguknya. "Tidak, ini justru semakin parah. Awalnya hanya demam tapi sekarang dipenuhi ruam. Aku khawatir nanti malam tubuhku bengkak-bengkak."
Memikirkan hal terburuk yang akan menimpanya kapan saja, dewa kesialan sudah siap sepenuhnya.
Ming Zise tahu bahwa sebagai dewa kesialan, beberapa hal buruk harus ditanggung. Dia mengeluarkan sebotol pil obat sejuk untuk mengurangi panas dan sakit di tubuh.
"Aku hanya bisa memberimu ini untuk meredakan efek kesialanmu."
"..." Dewa kesialan tidak memiliki ekspresi lain selain mengeluh. Namun masih menerima obatnya.
Setelah itu, Ming Zise segera meninggalkan istana dewa kesialan dan pergi ke sisi Xiu Jimei.
Adapun dewa kesialan yang memegang botol giok berusia pil obat sejuk, dia segera mengeluarkan satu dan menelannya tanpa ragu. Segera, rasa sejuk di tubuh mengurangi panas dan ruam-ruam tidak terlalu gatal lagi. Setidaknya ini ampuh.
"Sungguh mantan dewa yang luar biasa. Bahkan obat mahal di Alam Para Dewa seperti ini masih bisa diberikan pada orang lain. Tidak, tidak! Jangan sampai dewa atau dewi lain tahu, jika tidak, mereka bisa datang untuk meminta obat ini."
Dewa kesialan memeluk botol obat itu seperti harta karun. Tentu saja ada banyak obat di Alam Para Dewa tapi tidak semuanya bisa didapat. Entah itu karena langka atau terlalu mahal. Lagi pula, para dewa-dewi jarang sakit.
Namun Ming Zise dulunya adalah dewa tertinggi yang selalu berada di samping dewa pencipta Alam Para Dewa dan dewa pencipta Dunia Langit. Pasti punya banyak harta karun di tangannya.
"Bahkan jika aku tertimpa sial setidaknya masih ada keuntungan yang didapat," gumamnya lalu tertawa seperti orang gila.
__ADS_1
"..."
Para pelayan dan penjaga di luar kamar saling melirik. Apakah dewa mereka tidak tahan dengan demam tinggi hingga membakar otak dan menjadi bodoh?