
Xiu Jimei menatap kakaknya yang sedang menghitung jimat teleportasi yang tersisa. Dia memiliki ide untuk ini. Gunakan jimat teleportasi!
Tapi menurut Xiu Jikai, jimat tersebut hanya bisa berlaku jika energi spiritual di udara sedikit lebih kaya. Sayangnya di alam sekuler ini semuanya serba rendah. Jangankan air yang kualitasnya agak buruk, bahkan udara saja sedikit menyesakan.
"Guru!" Xiu Jimei menatap Ming Zise.
"Nah, minta bantuan guru?" Ming Zise tersenyum, memiliki rencana kecil di hatinya.
"Ya, ya. Ini tidak akan melanggar peraturan ujian kan?"
"Memang tidak. Tapi jangan khawatir, seseorang akan datang untuk membawa kita ke tempat tujuan."
Ming Zise sudah mengukur jarak antara tempat mereka berada saat ini dengan lembah hantu. Jaraknya memang masih jauh dan bisa menghabiskan waktu beberapa hari dengan berjalan kaki atau menunggangi bintang roh daratan.
Tak lama, suara elang menggema di langit. Xiu Jimei serta yang lainnya tanpa sadar menengadah, melihat seekor elang oh raksasa terbang di atas mereka berputar beberapa kali hingga merendahkan jarak terbangnya.
Elang hitam roh itu sedikit kesulitan untuk melipat sayapnya ketika mendekati area hutan. Namun karena ada seseorang di punggungnya, elang hitam roh itu mau tidak mau mencoba melipat sayap dan menapaki tanah berumput.
"Elang roh?" Yan Yujie bingung.
Elang hitam roh memiliki badan yang besar dan juga sayap lebar yang kokoh. Tingginya saat berdiri tentu saja lebih dari dua meter, kaki berkuku tajamnya seperti pisau yang bisa memotong daging kapan saja. Belum lagi, tatapan tajamnya itu membuat mereka tidak nyaman.
Kecuali si kembar dan Ming Zise yang tampak biasa saja, Yan Yujie sendiri sudah berkeringat dingin.
Seseorang berpakaian seperti penjaga rahasia turun dari punggung elang dan memberi hormat pada Ming Zise.
"Tuan, binatang roh tunggangan lewat udara sudah datang," kata Wuming melapor.
"Ya, di mana sisanya?"
"Ada di belakang."
Elang hitam roh itu memutar bola matanya, kesal. Dia memiliki kesadaran tapi tidak bisa bicara. Sebagai binatang roh yang dihormati oleh kultivator karena tubuhnya yang gagah, dia justru ditakuti Wuming hanya dengan sekali pukul.
Ini memalukan bagi kaum elang.
Hanya saja elang hitam roh tidak mampu melakukan apa-apa selain menjadi tunggangan gratis untuk sementara waktu.
"Guru, apakah orang ini milikmu?" tanya Xiu Jimei saat menatap Wuming.
__ADS_1
"Ini Wuming, orang kepercayaan guru." Ming Zise tidak menyembunyikannya. Cepat atau lambat Xiu Jimei harus tahu.
Akhirnya Kin Wenqian tidak bisa menahan diri untuk menebak. "Apakah yang membawa bukit batu untuk menutupi lubang gunung api itu jika dia?"
"Ya."
"..."
Semuanya yang ada di sana merasa tidak menyangka jika tubuh kecil Wuming mampu mengamati batu yang besar untuk menutupi lubang letusan gunung api.
"Tubuhnya kecil tapi tenaganya besar. Ini luar biasa." Yan Yujie memujinya.
Wuming sedikit canggung. Dia buru-buru kembali ke bayang-bayang untuk meredakan rasa malunya. Setelah itu, Ming Zise meminta mereka untuk menaiki punggung elang hitam roh. Lalu beberapa elang juga datang untuk membawa mereka.
Satu elang bisa dinaiki oleh dua orang.
Ming Zise membawa Xiu Jimei sebelum Xiu Jikai bereaksi.
"Tak tahu malu!" gerutu Xiu Jikai seraya menatap Ming Zise dengan ekspresi dingin.
"Kakak, kenapa kamu menatap guru seperti itu?" Xiu Jimei tak sengaja melihat kakaknya seperti sedang memusuhi Ming Zise.
"Bukan apa-apa, Kakak hanya sedang kesal."
Semua burung elang hitam roh membawa kelompok Xiu Jimei ke perbatasan Lembah Hantu yang dimaksud. Dari udara saja mereka bisa melihat jika kabut memenuhi sekitar lembah.
Selama satu jam perjalanan, elang hitam roh menurunkan mereka di dekat hutan karena tidak bis mendarat di cabang pohon yang rindang. Sayap mereka bisa tersangkut. Namun itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya mereka menghemat waktu.
Untuk membayar mereka, Xiu Jimei memberikan beberapa kilo daging dan ikan sebagai balas budi. Elang hitam roh suka daging jadi tak segan untuk menerimanya.
"Apakah ini kurang?" Xiu Jimei melihat tumpukan daging di dekat para elang hitam roh.
"..." Cukup, cukup! Ini sudah cukup, batin para elang hitam roh.
Mereka khawatir jika manusia di depannya ini sengaja memberi mereka daging untuk membesarkan elang sebelum akhirnya menjadi burung panggang. Jadi beberapa kilo daging sudah cukup bagi mereka.
"Kalau begitu terima kasih sudah membawa kami." Xiu Jimei tersenyum.
Para elang itu bersuara kecil sebagai bentuk menimpali perkataan Xiu Jimei. Kemudian membawa ikatan daging dan ikan dengan tenang di udara. Tatapan mereka tidak setajam sebelumnya.
__ADS_1
"Jika kita memberi makan elang sebagai imbalan, bisakah kita menyewa mereka lagi?" tanya Yan Yujie seraya memeluk anak beruang roh kuno.
"Aku khawatir kamu yang akan jadi santapan mereka lain waktu. Para binatang predator tidak sebaik itu." Xuan Xing mencibir padanya.
"..." Mungkin aku akan terkena sial lagi, batin Yan Yujie.
Mereka segera memasuki hutan lebat yang cukup gelap. Ada banyak pohon menjulang tinggi, ilalang di setiap sisi serta beberapa kubangan lumpur. Bukan hanya itu, air juga sedikit menggenangi wilayah hutan.
Mereka tidak menggunakan sepatu tahan air yang cocok sehingga air merembes ke sepatu.
"Kenapa air menggenangi tempat ini? Apakah hutan ini selalu dilanda hujan lebat?" Jia Lishan memeriksa sekitar dan semuanya tergenangi air.
"Mungkin ini hutan hujan," tebak Xiu Jimei.
Kalau seperti itu, mereka tidak bisa mendirikan tenda ataupun membuat api unggun. Untung saja Lembah Hantu tidak jauh dari keberadaan hutan tersebut. Mereka hanya perlu berjalan ke tengah hutan.
Xiu Jimei tidak mau basah-basahan jadi dia mengeluarkan harimau putih roh kuno dan menungganginya. Secara alami, Ming Zise duduk di belakangnya untuk mendekatkan hubungan.
Meski Xiu Jimei sedikit malu, tapi dia tidak mau membiarkan gurunya basah-basahan di bawah sana.
Adapun Wang Xuyue yang menunggangi Cip Cip, sisanya tidak memiliki masalah saat berjalan kaki.
Tiba-tiba saja Yan Yujie berteriak kaget dan mundur hingga menabrak Jia Lishan yang berada di belakangnya. Keduanya pun terjatuh tanpa ada persiapan lebih dulu.
"Ular!" Yan Yujie yang merasa takut dengan ular setelah insiden di gua gunung api sebelumnya, merasa was-was.
Jia Lishan menampar punggungnya. "Kamu benar-benar pembawa sial!" ejeknya tidak serius. "Bisakah kamu tidak teriak?"
"Ada ular! Aku hanya terkejut."
"Terkejutmu berlebihan."
Melihat Yan Yujie yang mengangkat anak beruang putih roh kuno tinggi-tinggi agar tidak terkena genangan air, sudut mulut Jia Lishan berkedut. Bahkan demi menyelematkan anak beruang bodoh itu, Yan Yujie lebih mengorbankan teman di belakang. Respons ini sungguh luar biasa, pikirnya.
Mereka berhati-hati dengan keberadaan ular yang mungkin berkeliaran di genangan air. Namun desisan ular terdengar jelas di telinga mereka hingga tak sengaja melihat sekitar.
"Apakah ini sarang ular?" Xiu Jimei kebingungan. Dia sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda ular roh di sekitar mereka.
"Xiao Mei, tolong jangan menakutiku," kata Yan Yujie mulai khawatir.
__ADS_1
Kabut mulai turun dan menghalangi pandangan mereka. Tapi kabut yang mereka temui kami ini tidak berwarna putih seperti pada umumnya, melainkan hijau.
Ming Zise menyipitkan mata. "Kabut hijau ini beracun, hati-hati," ujarnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi gelap.