Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Saat Dewa Binatang Marah


__ADS_3

Dewa Binatang yang saat ini adalah jelmaan merak biru dengan ekor yang indah. Dia adalah eksistensi yang cukup kuat di Alam Para Dewa meskipun klan naga dan phoenix sudah langka.


"Apakah merak dan phoenix bisa bersatu?" Ming Zise bercanda dengannya.


"Kenapa tidak? Kami sama-sama ras burung!"


"Kamu tidak bisa terbang setinggi phoenix."


"..." Tolong jangan mengejekku, batin Dewa Binatang.


"Masalahnya bukan ini tapi ...."


Sebelum Ming Zise berkata lebih jauh, Dewa Perang datang dan meminta semua dewa-dewi untuk berdiskusi tentang masalah Alam Para Dewa.


Dewa Binatang diam-diam kesal dan ingin tahu apa yang hendak dikatakan Ming Zise padanya.


Di sisi lain, Dewa Bencana yang hadir berpura-pura tidak tahu apapun dan bersikap sewajarnya. Dia telah melihat seorang anak kecil yang sering hadir di sekitar Dewa Perang. Lalu Dewa Perang berkata jika anak itu adalah Yuu—murid Dewa Pencipta Alam Para Dewa yang telah lama berada di pintu tertutup.


Walaupun mereka tidak mau mempercayainya, namun Yuu memang berbakat. Dia berasal dari ras peri dewa yang sebelumnya diselamatkan dari perbudakan.


Alasan tersebut cukup untuk membuat dewa-dewi percaya. Tapi meski begitu, Dewa Bencana selalu merasa anak itu tidak sederhana. Tapi dia juga tidak tahu dari mana asal ketidaksederhanaannya itu. Oleh karena itu, dia sudah lama tidak mencurigainya.


Selama pertemuan berlangsung, beberapa informasi rahasia sengaja dibocorkan oleh Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Lalu membiarkan Yuu berpatroli untuk mencari keberadaan Ning Siyu. Meskipun Yuu masih kecil, tapi bakatnya yang luar biasa sudah dipercayai oleh dewa-dewi lainnya.


Yuu akan bergabung untuk mencari keberadaan Ning Siyu.


Setelah pertemuan berakhir, Ming Zise berniat kembali ke Istana Minglan. Tapi dicegat oleh Dewa Binatang.


"Tuan Ming, apa yang ingin kamu katakan sebelumnya?" tanyanya penasaran.


"Mengatakan apa?" Ming Zise pura-pura tidak tahu.


"Jangan berpura-pura lupa. Ini tentang phoenix api sebelumnya."


"Oh, ternyata untuk mantan dewa binatang." Ming Zise tersenyum. "Aku hanya ingin berkata, untuk identitas nya saat ini tidak mungkin untuk menikah."

__ADS_1


"Kenapa begitu? Apakah dia bersama burung yang lain?"


Ming Zise menggelengkan kepala. "Bukan karena itu. Hanya saja karena dia saat ini termasuk golongan binatang roh yang tidak memiliki nafsu untuk lawan jenis atau sebagainya."


"..." Untuk sementara waktu, Dewa Binatang berpikir keras. Lalu kemudian dia terkejut.


"Tidak mungkin dia menjadi binatang suci bukan?" tebaknya.


"Tebakanmu benar."


Ming Zise segera pergi dan meninggalkan Dewa Binatang yang sedang berpikiran aneh-aneh.


"..." Dewa Binatang tidak tahu harus berkata apa saat ini tapi kenapa semuanya menjadi begitu rumit?


Apakah cintanya tidak akan pernah bisa terbalas?


Di saat dia ingin menanyakan di mana keberadaan mantan dewa binatang, Ming Zise sudah menghilang dari pandangannya. Dia sangat kesal hingga langsung berubah menjadi seekor merak biru tua, berkicau sepanjang jalan.


Dewa-dewi lainnya yang melihat Dewa Binatang marah langsung menyingkir. Jangan sampai dipatuk oleh merak yang sedang marah.


"Ada apa dengannya? Tiba-tiba saja menjadi gila?" Dewa Kesialan berjalan berdampingan dengan Dewa Jodoh serta Dewa Kegelapan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dewa Binatang yang berwujud merak biru tua kembali ke istananya dengan perasaan yang campur aduk. Dia meneriaki para pelayan dan penjaga untuk mengajak duel dengannya. Lalu pergi ke halaman belakang untuk mengacak-ngacak tanaman kesayangannya.


Kepala Pelayan yang panik melihat dewa nya mengamuk langsung berusaha untuk menenangkannya.


“Dewa, apa yang terjadi? Tenanglah lebih dulu dan mari bicarakan secara baik-baik.”


Dewa Binatang tidak peduli. Dia menendang salah satu pot bunga hingga hancur. “Cintaku tidak terbalas!”


“…” Kepala Pelayan segera memiliki tiga garis hitam di kepalanya.


Cinta yang tidak terbalas? Sudut mulut Kepala Pelayan berkedut. Dia pikir ada dewa lain yang sengaja membuat Dewa Binatang menjadi marah. Tapi ternyata hanya karena cinta?

__ADS_1


“Dewa, apakah sudah waktunya untuk musim kawin?” tanyanya polos.


“…?!”


Dewa Binatang semakin tersinggung. “Kamu berani mengatakan aku sedang mengalami musim kawin?!”


Dia langsung mengejar Kepala Pelayan dan ingin mematuknya. Kepala Pelayan segera berwajah pucat dan melarikan diri untuk menghindari kejarannya. Namun tak lama setelah itu, Dewa Binatang tersandung akar pohon persik yang mencuat ke mana-mana.


Seketika, Dewa Binatang langsung tersungkur dan mencium tanah berumput. Merak biru tua itu berusaha berdiri dengan kedua kaki kurusnya. Lalu memarahi pohon persik yang tumbuh tak jauh jari pagar istana.


“Tidakkah kamu mengurus akarmu dengan baik agar tidak mencelakakan orang lain.” Merak biru tua itu menendang akar yang telah membuatnya terjatuh.


Tanpa diduga, dahan dan akar pohon persik bergerak seolah-olah bisa mengerti apa yang dikatakan Dewa Binatang. Namun bukannya menuruti apa yang dikatakan Dewa Binatang, pohon persik langsung menamparnya dengan akar yang tersebar di sekitar.


“Ahhh!!” Merak tua itu berteriak kesakitan dan terpental cukup jauh. Tatapan matanya langsung penuh dendam, jambulnya berdiri seolah-olah siap untuk bertarung.


Pohon persik mengejeknya diam-diam. Akar yang baru saja menampar merak itu kembali ke posisinya semula.


Di saat merak biru tua itu hendak bertarung lagi, Kepala Pelayan langsung memeluknya dari belakang. “Dewa, tenanglah. Ini tidak baik untukmu. Lagi pula itu hanya pohon,” katanya ingin menangis tapi tidak bisa mengeluarkan air mata.


“Pohon jelek ini berani mengejekku. Aku menanamnya di masa lalu dengan penuh kasih sayang. Aku juga suka bertengger di dahannya. Tapi dia berani tidak menghormatiku sebagai dewa. Tebang saja pohon tidak berguna ini!” teriaknya sangat marah.


Kepala Pelayan hanya mengiyakan dengan santai. Dia tahu Dewa Binatang tidak mungkin ingin menebang pohon persik itu. Tunggu saat emosinya tenang, bicarakan lagi secara baik-baik. Dia segera membawa merak biru tua itu di pelukannya ke istana.


Seberapa keras Dewa Binatang yang berwujud merak itu meronta di pelukan Kepala Pelayan, tetap saja tidak bisa membebaskan diri. Dia masih berteriak untuk segera menebang pohon persik itu.


Ketika keduanya menjauh, sosok Yuu terbentuk dari batang pohon persik lalu terkikik. Pohon persik yang sudah mengetahui Yuu ada di balik dirinya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia menggerakkan cabang-cabang dahannya hingga beberapa buah persik berjatuhan.


Yuu segera mengambil semua buah persik itu. “Aku ingin memberikan ini pada gadis itu. Bukankah anak perempuan selain suka makan, bunga dan perhiasan serta pakaian bagus … mereka juga suka buah yang manis?” tebaknya.


Pohon persik tidak bisa memberikan tanggapan. Dia tidak tahu tentang kehidupan manusia sama sekali. Setelah Yuu pergi, pohon persik kembali seperti pohon biasa yang tertipu angin.


......................


Sementara di Istana Dewa Binatang saat ini.

__ADS_1


Merak biru tua yang awalnya marah-marah kini mengerang kesakitan saat kaki jenjangnya disentuh oleh kepala pelayan. Dia langsung mematuk lengan Kepala Pelayan.


“Bisakah kamu melakukannya dengan hati-hati?!” omelnya.


__ADS_2