
Ming Zise dan Dewa Pencipta Alam Para Dewa memang terikat darah tapi bukan saudara kandung. Saat Ming Zise diciptakan, darah Dewa Pencipta Alam Para Dewa masih diperlukan. Secara tidak sengaja, keduanya menjadi saudara.
Meski begitu, Ming Zise tidak pernah sembarangan menyebut Dewa Pencipta Alam Para Dewa sebagai saudara. Dia menghormatinya dengan cara yang benar.
"Siapa yang menduga jika Ming Ming ternyata adalah saudara Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Lalu apa yang terjadi sekarang? Apakah Alam Para Dewa tidak dalam masalah besar?"
"Tidak. Untuk saat ini semuanya baik-baik saja." Ming Zise menyipitkan mata.
Tidak mudah bagi Ning Siyu untuk melarikan diri. Kemungkinan besar saat ini terluka parah. Adapun Dewa Bencana yang saat ini bukan lagi dewa, tentu saja menjadi musuh Alam Para Dewa.
"Nama asli Dewa Bencana adalah Lu Zheng."
"Namanya tidak buruk." Xiu Jimei berkomentar. "Haruskah aku mengutuknya?"
"Tidak perlu. Perlahan saja." Pria itu terkekeh dan memeluknya lebih erat. "Mei'er," bisiknya sedikit memiliki keinginan lagi.
Xiu Jimei merasakan sesuatu di bawah tubuhnya menegang dan dia kesal. "Kamu sudah memanfaatkan ku begitu banyak. Tidak cukup?"
"Tidak pernah cukup jika itu tentang Mei'er."
Akhirnya adegan yang tidak cocok untuk anak-anak terulang lagi hingga pelayan di luar pintu memerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang makan, Yuu dan Dewa Binatang sedang minum teh bersama sambil menunggu waktu makan malam. Suasana di Dunia Langit berbeda dengan Alam Para Dewa. Energi spiritual keduanya ditekan setengahnya. Tapi meski begitu, tidak ada perbedaan sama sekali.
Dewa Binatang menghela napas dan terlihat sedikit dalam suasana hati yang tidak baik.
"Apa yang kamu pikirkan?" Yuu tidak terlalu suka teh jadi dia hanya makan kue kering yang disajikan.
"Tentu saja aku merindukan Dewi Binatang saat ini."
"Dewi Binatang? Tidak ada dewi terkait di Alam Para Dewa. Siapa yang kamu maksud?"
"Ini mantan Dewa Binatang di masa lalu."
"Maksudmu Dewi yang menyamar menjadi dewa dan memimpin kaum binatang roh itu? Siapa namanya? Aku tidak tahu."
"..." Dewa Binatang juga tidak tahu nama phoenix api itu.
Lalu Yuu membelalakkan mata. "Kamu jatuh cinta dengan phoenix itu di masa lalu?"
"... Sampai sekarang."
"..." Yuu tidak mengerti perasaan jatuh cinta pada lawan jenis. Pohon tidak memiliki pasangan bukan?
__ADS_1
Lalu Yuu teringat dengan Xiu Jimei yang tampaknya memiliki aura samar tentang burung phoenix di tubuhnya. Tapi dia tidak yakin.
"Kenapa kamu tiba-tiba merindukannya?"
"Entahlah. Aku merasa jika dia dekat tapi aku tak bisa menyentuhnya."
"..." Perasaan cinta itu mengerikan. Dewa Binatang tampak bodoh saat ini.
Tak lama setelah itu, waktu makan malam tiba
Pelayan menyiapkan semua jenis hidangan di atas meja bundar yang cukup untuk makan lima orang. Tepat setelah itu, Xiu Jikai tiba dan mencari keberadaan Xiu Jimei. Tapi dia melihat keberadaan dua orang asing yang tak tahu siapa.
Dewa Binatang dan Yuu memperkenalkan diri padanya sehingga Xiu Jikai tidak terlalu peduli lagi.
"Di mana adikku?" tanyanya.
"Dia bilang akan berendam di kolam air panas sebelumnya. Lalu pria itu juga mengikutinya."
Maksudnya adalah Ming Zise. Tanpa disebut namanya saja, Xiu Jikai sudah tahu. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi gelap. Tepat sebelum dia pergi untuk mendobrak pintu pemandian air panas, Xiu Jimei dan Ming Zise tiba. Kedua terlihat mengobrol di sepanjang jalan.
Melihat adiknya tidak terlihat dianiaya sama sekali, Xiu Jikai melepaskan rasa khawatirnya. Tapi dia masih tidak senang dengan Ming Zise yang selalu mencari pelecehan pada l adiknya.
"Kakak, akhirnya kamu kembali. Apakah urusan di Dunia Bawah sudah selesai?" tanya Xiu Jimei langsung melemparkan pikirannya tentang Ming Zise ke tempat yang lain.
"Ya. Semuanya baik-baik saja. Aku juga berkunjung ke rumah kakek sebelumnya dan bertemu dengan kakak sepupu. Dia mengajak kita untuk berkemah."
"Besok."
"..." Begitu mendadak?
Mereka semua duduk di mengelilingi meja makan.
Yuu tidak tahu banyak tentang kegiatan para manusia. "Apa itu berkemah?" tanyanya polos.
Xiu Jikai menatap Yuu yang polos tapi jelas bukan anak kecil. "Kamu sudah tua tapi tidak memiliki banyak pengetahuan." Ejekannya halus tapi tidak terlalu serius.
"..." Yuu yang sudah tua dan baru saja membentuk tubuh manusia langsung tak bisa berkata-kata.
Xiu Jimei menjawabnya. "Itu artinya kita akan bermalam di sesuatu tempat dan mendirikan tenda untuk tempat beristirahat."
"Apakah menyenangkan?"
"Tentu saja. Rasanya seperti hidup di zaman batu," celetuknya.
"..." Yuu juga tidak tahu tentang zaman batu.
__ADS_1
Namun Xiu Jikai tersenyum. Dia tahu adiknya sedang bercanda dengan anak itu.
Meski Yuu tidak tahu, dia juga ingin mencoba untuk berkemah. Dia menatap Dewa Binatang yang sedang menikmati sayuran.
"Berapa banyak waktu yang kita miliki di sini?"
"Bukankah hanya tujuh hari?"
Dewa Pencipta Alam Para Dewa hanya memberikan waktu tujuh hari saja. Itu sudah cukup untuk bermain di Dunia Langit. Berkemah mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak tahu apakah mereka masih sempat untuk berkeliling Dunia Langit.
"Berkemah hanya membutuhkan waktu lima hari saja." Xiu Jikai memberi tahu.
"Di mana kita akan berkemah?" tanya Xiu Jimei.
"Kakak sepupu bilang, mari kita pergi ke dekat pantai Negeri Atas untuk bermalam."
"Negeri kita?" Xiu Jimei terlihat berpikir. "Kalau begitu kita juga bisa bertemu dengan Sin dan Yuyu dari ras duyung juga."
"Ini ide bagus."
"Ras duyung masih hidup?" Dewa Binatang sedikit terkejut saat mendengar nya.
"Ya. Aku juga terkejut awalnya."
Ming Zise yang tenang saat duduk dan makan akhirnya buka suara. "Mereka tertutup dan tidak mau bergaul dengan manusia semenjak ras duyung pernah dijadikan sebagai budak oleh manusia kultivator."
"Bangsaku diperlakukan sangat tidak adil!" Dewa Binatang tampak tidak lagi berselera makan tapi perutnya berkhianat. Jelas dia sangat menikmati makanan di atas meja.
"Salahmu sendiri tidak memperhatikan bangsamu," cibir Yuu. Dia membela ras manusia.
"Sebenarnya kamu ada di pihak siapa?"
"Tentu saja di pihak gadis itu."
Pengkhianat kecil! Dewa Binatang tidak menyalahkannya.
Pada akhirnya, makan malam berlangsung dengan lancar.
Karena keduanya memiliki waktu enam hari lagi, akhirnya setuju untuk bergabung dalam kegiatan gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Xiu Jimei tidak perlu menyiapkan banyak hal karena semua keperluannya ada di ruang spiritual bawaan. Kondisi Roh Bunga sudah membaik dan dia tinggal di istana untuk mengurus taman bunga kesayangannya. Namun tanpa diduga, Poppy juga ikut setelah dijadikan pekerjaan paksa oleh Bai Shiyu.
Jadi kemah kali ini lebih ramai. Xiu Jimei tentu saja senang. Semakin banyak yang ikut, maka lebih mudah untuk memperkejakan orang. Poppy belum tahu jika pelecehan lainnya akan segera menghampirinya.
__ADS_1
Xiu Jimei serta rombongannya sudah tiba di pantai lebih dulu. Mereka menunggu kelompok Yan Yujie.
"Adik Sepupu!" Yan Yujie tiba dengan menunggangi burung elang roh.