
Di Alam Para Dewa.
Ming Zise sedang berada di Istana Dewa Perang saat ini. Beberapa dewa dan dewi juga hadir di sana untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi. Jika dulu Alam Neraka mengincar Alam Para Dewa, maka kini tujuan mereka lebih besar lagi. Penghuni Alam Neraka mengincar Dunia Langit.
Dewa Perang menjelaskan detailnya satu persatu dan beberapa dewa-dewi mengutarakan pendapat.
"Apakah Dewa Bencana tidak hadir lagi?" tanya Dewi Takdir kesal.
"Pria itu sibuk dengan tugasnya." Dewa Kegelapan menjawab seadanya. "Aku sudah mengajaknya untuk datang. Tapi tampaknya dia tidak berada di istananya akhir-akhir ini," tuturnya lagi.
"Dia lebih sibuk daripada kita," gumam Dewi Takdir.
"Benar." Yang lainnya juga setuju. Mereka sama sekali tidak curiga dengan Dewa Bencana yang jelas-jelas sudah berkhianat sejak lama.
Ming Zise tidak berkata apa-apa. Dia masih fokus dengan topik yang dibahas dengan Dewa Perang. Tak lama, dia merasakan pesan dari gulungan surat menyentuh ruang pikirannya.
Ming Zise keluar sebentar untuk membaca surat. Surat itu dikirim oleh Yamla. Saat Ming Zise membaca isinya, dia terkejut untuk sementara waktu lalu bersantai. Tapi jauh di lubuk hati, dia senang saat ini.
"Akhirnya waktu pertunangan akan segera tiba," gumamnya langsung terkekeh.
Ming Zise tidak kembali ke aula pertemuan tapi langsung pergi setelah meminta penjaga untuk menyampaikan beberapa patah kata pada Dewa Perang.
Dia harus kembali ke istananya untuk menyiapkan banyak hadiah pertunangan. Tentu saja hadiahnya tidak bisa murah. Jika tidak, Xiu Jichen pasti akan mengejeknya karena pelit.
Di aula Istana Dewa Perang, salah seorang penjaga membisikkan apa yang dikatakan oleh Ming Zise. Dewa Perang dengan santai menyesap tehnya.
Setelah penjaga itu selesai menyampaikan apa yang dikatakan Ming Zise, hatinya terkejut. Dia langsung menyemburkan teh ke wajah penjaga di sampingnya.
"..." Penjaga yang terkena sial hanya diam-diam mengelap wajahnya dengan jijik.
"Katamu, dia akan bertunangan?" Dewa Perang memelankan suaranya.
"Ya ..." Penjaga mengangguk.
Dewa Perang tidak berkata apa-apa saat ini dan mengeluarkan sebotol anggur untuk kompensasi penjaga yang kena sembur. Penjaga itu akhirnya pergi dengan ekspresi senang. Lupakan masalah kena sembur dari tuannya sendiri.
__ADS_1
......................
Sementara itu, Ming Zise yang sudah berada di istananya segera sibuk di gudang pembendaharaan.
Kepala Pelayan yang melihat tuannya datang dan memilah-milah barang pun kebingungan. “Tuan, apakah ada acara spesial dalam waktu dekat ini? Menyiapkan hadiah?”
“Aku akan bertunangan. Siapkan hadiah pertunangan untuk Mei’er.”
“…” Kepala Pelayan awalnya tidak terlalu merespons. Namun tak lama setelah itu, dia membelalakkan mata.
Tuan akan bertunangan?! Begitu cepat?
Namun kepala pelayan tidak berani bertanya lebih jauh. Saat ini Ming Zise begitu serius mengumpulkan banyak kotak berisi banyak barang-barang berharga, baik perhiasan, batu giok, obat-obat, kain sutra, parfum, bahkan masih banyak lagi.
Setelah memilih apa saja untuk dijadikan hadiah pertunangan, setidaknya membutuhkan waktu cukup lama. Tak lama Ming Zise mengirim surat pada Xiu Jichen dan Fu Chan Yin jika dirinya akan bertunangan dengan Xiu Jimei dalam waktu dekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika ujian spiritual gabungan dihentikan, Xiu Jimei dan Xiu Jikai sudah pulang ke Istana Golden Lotus. Mau tidak mau mereka harus berpisah dulu dengan Yan Yujie serta yang lainnya. Ketika keduanya tiba di istana, suara teriakan Roh Bunga menggema di halaman belakang.
Xiu Jikai tampak tidak peduli. Namun dia menebak sesuatu. “Apa lagi jika bukan masalah taman bunga kesayangannya.”
Benar saja, Roh Bunga meneriakkan nama Bai Huazhi sebagai pencuri bunga lalu marah-marah. Array seratus lapis yang pernah dibuat Fu Chan Yin sedikit bergetar. Xiu Jimei penasaran dan pergi ke halaman belakang. Sedangkan Xiu Jikai sibuk dengan urusannya sendiri.
Ketika tiba di halaman belakang, Roh Bunga memegang sapu dan mengejar Bai Huazhi yang kewalahan dengan kemarahannya.
“Dasar perusak bunga!! Aku memintamu untuk merawat bunga-bungaku dan menggantinya dengan yang baru. Tapi apa yang kamu lakukan? Sungguh rusak total!”
Bai Huazi hampir tersandung bebatuan di dekat jembatan kolam ikan. “Tidak, aku sungguh tidak sengaja. Tidak sengaja memotongnya. Sungguh! Percayalah padaku!”
“Percaya dengan hantumu!” Roh Bunga tidak percaya sama sekali.
“…” Xiu Jimei yang menyaksikan dari samping sama sekali tidak berniat untuk melerai.
Gadis itu masuk ke array seratus lapis dan memeriksa kebun bunga kesayangan Roh Bunga yang kini tampak seperti ladang sayuran terkena badai dan dirusak binatang liar.
__ADS_1
Sudut mulutnya berkedut. Namun memang benar jika beberapa tanaman bunga tercabut dari akarnya, ada yang patah bahkan dipotong.
Sepertinya semua ini mahakarya Bai Huazhi.
Xiu Jimei menyuntikkan sedikit energi spiritual esensi delapan dewa-dewipada salah satu tanaman yang dipotong. Seketika, tanaman itu berbunga kembali seperti sedia kala. Sementara tanaman bunga yang lainnya sedikit bergetar, ingin merasakan kekuatan esensi delapan dewa-dewi juga.
Hal ini langsung membuat Roh Bunga yang awalnya mengejar Bai Huazhi tiba-tiba saja berhenti. Dia menatap sosok anak majikannya di antara taman bunga. Matanya langsung berbinar.
"Tuan!" Roh Bunga melemparkan sapu ke arah Bai Huazhi dan segera bergegas menuju Xiu Jimei.
Bai Huazhi yang masih berlari langsung mengerang kesakitan saat sapu itu menimpanya. "Dasar Kaisar Bunga tidak berperasaan," gumamnya.
Saat ini Roh Bunga sedang dalam suasana hati yang baik ketika melihat Xiu Jimei. Tentu saja dia tidak kesulitan untuk menyembuhkan semua bunga-bunga di tamannya sendiri. Hanya saja dia ingin memberi pelajaran pada Bai Huazhi.
"Tuan, apakah ujiannya sudah selesai?"
"Sudah diberhentikan. Ujiannya sudah tidak dilanjutkan lagi semenjak insiden gempa beberapa waktu lalu. Sepertinya masalah kali ini serius," jawab Xiu Jimei seraya memetik beberapa bunga mawar potong yang masih utuh.
Roh Bunga tidak keberatan saat bunga-bunga itu dipetik. Gadis itu pasti akan membuat sesuatu dengan bunga-bunga itu.
"Mawar sangat bagus untuk kecantikan. Aku ingin membuat teh mawar," katanya.
"Tidak, tidak masalah. Tidak masalah. Petiklah semau Tuan."
Roh Bunga tertawa tapi hatinya sakit. Bagaimana pun juga bunga-bunga itu dia rawat sepenuh hati dan penuh cinta sejak lama. Melihat Xiu Jimei memetiknya tanpa rasa bersalah, hatinya berdarah tanpa terluka.
Ketika Xiu Jimei pergi dengan keranjang kecil penuh bunga mawar, Bai Huazhi terkejut. Lalu dia melihat Roh Bunga yang patah hati, perasaannya sedikit segar.
Dia menyapa Xiu Jimei sebentar. "Gadis, kamu akhirnya kembali. Kenapa kamu tidak memakai untukku? Kakek ini sangat lapar," katanya.
"Hari ini kakakku yang memasak. Mari barbeque di malam hari." Xiu Jimei ingat jika Xiu Jikai akan masuk dapur kali ini.
Bai Huazhi terkejut. "Kakakmu masuk dapur? Apakah kamu yakin?"
"Walaupun dia tidak pandai memasak seperti diriku, dia juga tahu caranya memasak." Xiu Jimei yakin.
__ADS_1
"..." Bai Huazhi masih ingat saat si kembar masih berusia sepuluh tahun waktu itu ... Xiu Jikai memasak dan rasanya terlalu asin, terlalu pedas dan terlalu manis. Pada saat itu Bai Huazhi ingin menangis!