Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Memiliki Tuan Baru


__ADS_3

Istana Minglan tidak pernah kekurangan makanan atau pakaian. Gudang hartanya penuh dengan segala jenis barang bernilai tinggi hingga tumpukan uang tael serta barang-barang lainnya terlihat seperti pajangan.


Xiu Jimei bangun, membersihkan diri sebelum akhirnya sarapan. Dia tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi semalam. Kenapa dia bisa tidur dengan Ming Zise, hanya terbesit samar-samar.


“Ming Ming, apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tiba-tiba tidur denganmu?” tanyanya.


“Mei’er tidak ingat?” Ming Zise menaikkan sebelah alisnya.


“Aku hanya ingat sedang berendam di kolam air panas malam itu dan tertidur. Lalu samar-samar merasa tubuhku tidak nyaman,” jawabnya agak membingungkan. “Kenapa tiba-tiba aku bisa tidur dengan Ming Ming?”


“Apakah Mei’er menyesalinya?”


Xiu Jimei sedikit tersedak. “Bukannya seperti itu, hanya merasa aneh saja.”


“Mungkin Mei’er sedikit mabuk semalam,” katanya.


“Mungkin, aku memang minum cukup banyak waktu itu.”


Meski Xiu Jimei tidak yakin alasan kenapa dia bisa melakukan sesuatu pada Ming Zise, setidaknya bukan pria lain. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.


Namun Xiu Jimei tiba-tiba saja tertegun, dia menyentuh dahinya dan menyadari jika tanduk naganya sudah hilang. Dia memelototi Ming Zise saat ini seraya memastikan jika tanduknya tidak ada. Dia mengeluarkan cermin kecil dari ruang spiritual bawaan, lalu melihat jika dahinya memang mulus.


Tanduk naganya hilang!


“Kenapa aku tidak menyadarinya?” Xiu Jimei setengah berteriak.


“Tandukmu hilang tadi pagi. Aku pikir Mei’er sudah menyadarinya,” ujar pria seraya tersenyum.


Sepertinya dia membuat kontribusi semalam. Tanduk gadis itu hilang dengan sendirinya setelah keduanya selesai bersenang-senang. Sepertinya ini sedikit berhubungan.


“Bukankah Mei’er senang jika tanduk itu hilang?”


“Memang. Tapi bagaimana bisa? Bukankah masih banyak waktu sampai tanduk ini hilang dengan sendirinya?”

__ADS_1


“Ini masih ada hubungannya denganku. Jadi Mei’er harus membayarku bukan?”


“Bukankah semalam cukup?”


“Itu berbeda.”


Xiu Jimei ingin berteriak dan memarahinya. Namun dia harus akui jika Ming Zise benar. Mau tidak mau dia pun bertanya tentang apa yang diinginkan Ming Zise. Tapi pria itu berpura-pura berpikir saat ini hingga membuat sarapan di pagi hari sedikit tidak menyenangkan.


Namun Xiu Jimei tidak bisa membuang makanan. Dia menghabiskan sarapan dengan ketenangan pikiran. Biarkan pria berpikir sepanjang hari. Dia tidak peduli.


*


Gerbang Alam Neraka yang terbuka di Dunia Langit mulai teratasi. Jin Long menjaga pintu gerbang Alam Neraka yang terbuka di bawah gunung Negeri Atas. Beberapa makhluk Alam Neraka bahkan dibakar habis oleh naga emas itu.


Ning Siyu yang mendengar laporan itu langsung marah besar. Dua sudah kehilangan banyak pasukannya saat ini. Terutama Dunia Langit memiliki banyak kultivator berbakat yang saling bergandengan tangan untuk mengatasi kultivator Alam Neraka.


“Bagaimana bisa semuanya menjadi tidak terkendali seperti ini? Sejak kapan kualitas kultivator Alam Neraka begitu buruk?” Ning Siyu memecahkan cangkir teh yang sedang dipegangnya.


Dari hari ke hari, Ning Siyu mendapatkan banyak berita tentang Istana Minglan. Ming Zise dan Xiu Jimei semakin akrab satu sama lain. Bahkan Ming Zise telah kehilangan tubuh sucinya. Dia yakin jika kesucian dirinya diberikan pada gadis manusia langit itu.


“Ming Zise, kamu jelas adalah milikku. Aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu bahkan menjadi dewi hanya demi dirimu. Kenapa kamu tidak bisa melihatku sama sekali?” gumamnya.


Ning Siyu sedang berpikir keras saat ini. Tidak mungkin tinggal diam begitu saja. Dia harus memikirkan cara agar hubungan Ming Zise dan Xiu Jimei hancur.


Pada akhirnya dia teringat dengan kematian Raja Hantu—He Lang sebelumnya. Bukankah raja hantu yang bodoh itu memiliki tiga anak buah? Seharusnya mereka masih hidup sekarang.


"Benar juga. Masih ada tiga hantu kecil yang bodoh itu. Aku harus memanfaatkan ini," gumamnya.


Ning Siyu segera mengirim anak buahnya ke Dunia Hantu untuk menemukan Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong. Ternyata ketiganya sedang dihukum untuk menjadi pelayan Dunia Hantu untuk jangka waktu tertentu. Mereka diperlakukan seperti budak, melayani banyak hal dan bahkan harus patuh pada hantu kecil yang malang.


Ketika Ning Siyu memanggil mereka, ada sedikit keraguan untuk mematuhi perintah. Tapi karena ketiganya ingin terbebas dari hukuman yang konyol tersebut, akhirnya bersedia untuk menemui Ning Siyu.


Dengan kemampuan Ning Siyu, ketiga kultivator ras hantu itu berhasil memasuki Alam Para Dewa.

__ADS_1


Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong masih memakai pakaian khusus pelayan Dunia Hantu. Saat menghadap Ning Siyu yang penuh aura, ketiganya sedikit malu.


"Maukah kalian mengabdi padaku dan membalaskan dendam?" tanya Ning Siyu.


"Balas dendam? Kami tidak memiliki kemampuan untuk membalaskan dendam. Raja hantu saat ini sangat kuat dan kami tunduk pada hukum Dunia Hantu," jawab Mei Rong kesal.


"Raja hantu yang sekarang adalah anak manusia yang selalu sial itu?"


"Benar," jawabnya langsung mengangguk.


Ning Siyu memandang mereka dengan acuh tak acuh. "Aku bisa memberi kalian kekuatan tapi tentu saja ada syaratnya."


"Kamu ingin kami mengabdi?" Fan Li mengerutkan kening.


"Tentu saja. Sama seperti kalian mengabdi pada raja hantu sebelumnya ... Tapi, tentu saja pengabdian kalian padaku harus berbeda. Kalian harus mengabdi sampai mati. Jika berkhianat, maka kalian akan mati," tutur Ning Siyu langsung terkekeh.


Ketiga kultivator hantu itu bergetar di hatinya. Mengabdi sampai mati? Ini sama sekali tidak mungkin. Dengan begitu, cepat atau lambat bukan kah tidak ada ruang pengampunan? Ning Siyu hanya memaksa ketiganya untuk bertarung sampai mati.


Melihat ketiganya terdiam dan kusut, Ning Siyu tidak senang. "Ada apa? Kalian tidak mau? Bukankah dengan kekuatan, kalian bisa membunuhnya? Raja hantu kecil itu bukan lawanku. Tentu saja selama aku memberi kalian kekuatan, raja hantu kecil itu bisa dihadapi. Tergantung pada keinginan kalian. Itu saja."


Ketiganya saling melirik sebelum akhirnya berlutut pada Ning Siyu.


"Kami telah melihat Tuan!" sambut ketiganya dengan antusias.


"Bagus!" Ning Siyu menyeringai dan akhirnya tertawa keras di gua tersebut. Bahkan jika para hantu ini bodoh, mereka masih memiliki nilai guna.


Ning Siyu menjentikkan jarinya dan gumpalan asap hitam terbang ke arah ketiganya. Gumpalan asap hitam itu menyelimuti tubuh mereka. Tak lama setelah itu, pakaian lusuh mereka telah berubah menjadi jubah brokat dan gaun hitam. Sangat elegan dan mahal.


"Karena kalian sudah menjadi bawahanku, maka tentu saja kalian tidak akan dirugikan." Ning Siyu tersenyum penuh arti.


"Terima kasih Tuan," kata ketiganya sangat bersyukur.


"Kalau begitu, waktunya untuk meningkatkan kultivasi kalian ..." Ning mengeluarkan tiga pil hitam dari udara kosong.

__ADS_1


__ADS_2