
Pohon keabadian adalah akar Alam Para Dewa. Pohonnya besar dan penuh vitalitas. Apa lagi setelah terkena energi spiritual Xiu Jimei sebelumnya, pohon keabadian bertambah kuat. Lu Zheng tak akan mudah untuk menyerap vitalitas nya.
Dewa Mimpi tak bisa pergi karena dia harus menjaga Ning Siyu yang masih terjebak dalam alam mimpi. Ia ingin memastikan sendiri jika Ning Siyu kehilangan vitalitas nya sedikit demi sedikit. Jadi, Ming Zise yang harus kembali.
Xiu Jichen menepuk bahu Ming Zise. “Kembalilah. Tidak mungkin bagimu jika tidak bisa mengatasi Lu Zheng. Bahkan jika putriku sendiri mampu melakukannya, aku tak ingin mengandalkan anak-anak,” ucapnya sedikit menyindir.
Untungnya Ming Zise bukan orang yang berpikiran sempit. Dia tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja aku tahu apa yang harus kulakukan. Yakinkah, masalah ini akan selesai sebelum fajar mendatang.”
“Kamu terlalu percaya diri.” Xiu Jichen mendengkus. “Pergilah.”
“Kalau begitu, hati-hati di sini.” Ming Zise tersenyum dan segera menghilang dari tempatnya.
“Dia sendiri hampir seusia denganku. Aku merasa malu menjadikan dia menantu,” gumam Xiu Jichen.
Tanpa diduga, Dewa Mimpi tertawa. “Mempunyai menantu seperti dia, bukankah istrimu senang?”
“Memang, aku merasa tidak berdaya.”
Xiu Jichen tak bisa pergi. Dia akan mengurus musuh yang tersisa di Alam Neraka. Bahkan jika tak bisa membunuh mereka, setidaknya buatlah jadi pasukannya sendiri. Sebenarnya tak masalah jika ingin mengubah Alam Neraka menjadi bagian Alam Para Dewa. Tapi mungkin banyak yang harus diurus.
Pasukan Alam Neraka yang tersisa merasa mati rasa. Sebelumnya Ming Zise sudah sangat kuat. Sekarang Xiu Jichen sendiri lebih kuat. Karena Ning Siyu tidak ada, mereka tak mendapatkan perintah lain. Ada pun Lu Zheng, tentu saja lebih mementingkan kekuatan pohon keabadian.
Bagi Lu Zheng, menguasai Alam Para Dewa dan Dunia Langit sangat penting. Belum lagi jika berhasil menaklukkan dunia lainnya, ia akan menjadi paling kuat di alam semesta.
Jadi, bagaimana mungkin dia masih peduli dengan pasukan kecil Alam Neraka?
__ADS_1
Saat ini, Lu Zheng sedang bertarung dengan dewa lainnya dan sesekali akan melukai vitalitas pohon keabadian. Saat Ming Zise datang, Dewa Pencipta Alam Para Dewa bisa menghela napas lega. Dengan keberadaan Ming Zise, tentu saja bebannya sedikit ringan.
“Ming Zise, jangan mengira aku akan jatuh ke tanganmu untuk kedua kalinya. Bahkan jika kamu mampu mengalahkan Ning Siyu di masa lalu, kamu tidak mungkin mampu mengalahkanku.” Lu Zheng menatap Ming Zise yang berdiri di dekat pohon keabadian.
“Belum tentu. Aku bahkan sudah siap sejak lama, sama sepertimu.” Ming Zise tersenyum santai.
“Apa maksudmu?” tanya Lu Zheng curiga.
Apa yang dipersiapkan Ming Zise sebenarnya? Lu Zheng tiba-tiba saja merasakan firasat buruk akan datang. Sudah seminggu lebih sejak perang dimulai namun belum menemukan titik kemenangan. Jika terus seperti ini, Lu Zheng hanya bisa menggunakan kartu truf terakhirnya.
“Kamu akan tahu sebentar lagi.”
Ming Zise mengeluarkan seruling giok putih dan mulai meniupnya. Alunan musik yang tenang dan merdu membius telinga semua makhluk di sana, tak terkecuali para dewa. Lu Zheng awalnya mengira jika Ming Zise hanya ingin membangkitkan semangat juang pasukannya. Namun dia salah.
Bunyi seruling tersebut ternyata mengundang angin kencang dan petir di langit. Dengan energi spiritual yang diberikan Xiu Jimei sebelumnya, Ming Zise mampu membangkitkan binatang mitologi Alam Para Dewa yang telah lama tertidur.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa kamu memanggil Beilong?”
Beilong adalah naga mitologi yang telah lama tidak muncul di daratan mana pun. Namun sebenarnya selalu berjemur di balik langit Alam Para Dewa. Beilong sangat cuek dan kejam, tidak peduli dengan apapun. Ia sendiri adalah bawahan Dewa Pencipta Alam Semesta yang sengaja ditempatkan di Alam Para Dewa.
Kemunculan Beilong membuat Lu Zheng sedikit merinding. Benar-benar tidak terduga. Ukuran Beilong lebih besar dibandingkan binatang spiritual mana pun. Bahkan Jin Long sekalipun bukan apa-apa. Ketika kepala Beilong muncul dari balik awan gelap berpetir, napasnya seperti embusan angin kencang yang bercampur hujan.
Beilong sepertinya sedang mencari siapa yang memanggilnya saat ini. Lalu tatapannya beralih pada Ming Zise yang tubuhnya dipenuhi energi spiritual esensi delapan dewa-dewi.
“Rupanya kamu yang memanggilku. Sungguh hal menarik,” gumamnya.
__ADS_1
Namun ucapan Beilong terdengar oleh semua makhluk di bawahnya. Ia sendiri tak mungkin muncul seutuhnya di Alam Para Dewa karena ukuran tubuhnya yang besar. Walaupun hanya setengah badannya saja yang terlihat, semua binatang spiritual di sana berlutut padanya.
Akhirnya Ming Zise selesai meniup seruling dan menatap Beilong. “Demi kedamaian seluruh alam, aku ingin kamu membantuku menyelesaikan perang.”
Beilong mendengus. “Meski enggan, aku sudah lama di dunia ini. Mungkin saatnya membalas budi,” ucapnya. “Siapa yang ingin kamu bunuh?” tanyanya santai.
“Dia.” Ming Zise menatap Lu Zheng.
Saat ini, Lu Zheng menggertakkan gigi dan mundur beberapa langkah. Melihat tatapan Beilong padanya, keringat dingin membanjiri tubuh. Sungguh sial! Kenapa dia tidak memikirkan Ming Zise akan memanggil Beilong?
Beilong hanya makhluk mitologi yang keberadaannya tak diketahui kebenarannya. Tapi ketika muncul di sini, seluruh dunia sepertinya bukan apa-apa di mata Beilong. Sebagai salah satu binatang mitologi di sisi Dewa Pencipta Alam Semesta, Beilong terkenal sombong dan jahat sehingga ditempatkan di balik langit Alam Para Dewa.
“Oh … iblis kecil ini bahkan memiliki banyak keberanian.” Beilong menatap Lu Zheng seperti ikan di talenan.
Lu Zheng tak bisa mundur bahkan jika dia mau. Ia hanya bisa menggunakan kartu trufnya untuk mencoba. Bahkan jika dia tak bisa mengalahkan Beilong, ia bisa mengulur waktu dan bersembunyi lebih dulu.
Atau … temukan Xiu Jimei dan bunuh, lalu rebut esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Dengan begitu, Beilong akan menuruti perintahnya.
Sebelum Beilong menyerang, Lu Zheng sudah merapalkan mantra. Tubuhnya diselimuti oleh energi spiritual kegelapan. Semakin bertambah banyak energi spiritual kegelapan yang terkumpul. Pasukan Alam Neraka banyak mengalami perubahan.
Satu persatu dari mereka seketika jatuh kesakitan, tubuhnya perlahan mengering dan akhirnya meninggal. Kondisi ini mengejutkan semuanya. Para pasukan Alam Neraka ketakutan.
“Apa yang terjadi? Kenapa mereka menjadi seperti itu?” Salah satu jenderal Alam Neraka membelalakkan mata.
“Ini mantra pengorbanan! Sebenarnya Lu Zheng mengorbankan rakyatnya sendiri untuk menjadi lebih kuat.” Dewa Pencipta Alam Para Dewa mengerutkan kening.
__ADS_1
Satu persatu, vitalitas pasukan Alam Neraka berkurang dan berakhir dengan kematian. Mengetahui hal tersebut, para jenderal Alam Neraka sangat ketakutan. Mereka ingin melarikan diri namun terlambat. Sejak awal, mereka telah terikat dengan Lu Zheng.
Beilong menatap Lu Zheng dengan mata menyipit. “Ini sangat kejam. Seorang raja harusnya melindungi rakyatnya. Namun ini justru sebaliknya.”