
Xiu Jimei segera menjelaskan jika dia ingin makan daging ular hijau, mengambil batu energinya lalu mengupas kulitnya yang berharga.
Huang Fu Shi ragu. Tapi mengetahui kekuatan Xiu Jimei, dia sepertinya setuju.
"Bagaimana cara membunuhnya? Ular itu besar," kata Huang Fu Shi.
"Jangan khawatir, aku punya cara."
"..." Ular hijau roh kuno menyaksikan dua manusia itu bicara tanpa memedulikannya. Hah, apakah kalian masih menyadari jika aku masih di sini? Batinnya.
Kapan aku mulai makan?
Xiu Jimei segera mengeluarkan gulungan kuno dan membentangkannya. Setelah meneteskan darah, gulungan kuno mengeluarkan cahaya. Dari cahaya tersebut, munculah sebuah pedang berwarna biru es.
Ada ukiran naga biru keputihan pada bilah serta gagangnya. Hawa dingin langsung menyebar ke sekitar. Kelompok Huang Fu Shi mulai kedinginan.
Dari mana hawa dingin ini datang? Mereka tanpa sadar melihat sekeliling untuk mencari tahu. Mereka belum menyadari jika hawa dingin es itu muncul dari pedang naga es di tangan Xiu Jimei.
"Ini diwariskan oleh ibuku. Dia berkata, pedang ini sangat luar biasa," kata Xiu Jimei.
Pedang naga es tidak sering dipakai oleh Fu Chan Yin. Tapi Xiu Jimei suka bermain pedang jadi dia mewariskannya pada putri kesayangannya. Terlebih lagi, gulungan pedang naga es ini merupakan salah satu artefak penting milik Whitely—naga putih suci ilahi kuno.
Baru saja Xiu Jimei mengeluarkan pedang itu, ular hijau raksasa sudah berbalik dan melarikan diri secepat mungkin. Kepergiannya sangat tidak terduga bagi mereka.
"Hei, ular hijau, kamu mau ke mana? Aku belum memperkenalkan pedang kesayanganku padamu!" teriak Xiu Jimei.
Dari kejauhan, suara ular hijau terdengar semakin menjauh. "Tidak perlu! Anggap saja aku hanya lewat. Aku pergi dulu, ada urusan lain! Selamat tinggal!"
Jangan bercanda! Ular hijau roh kuno itu mengetahui pedang naga es di tangan Xiu Jimei. Ini merupakan pedang legendaris dari leluhur naga putih, salah satu makhluk suci ilahi kuno.
__ADS_1
Dia hanyalah ular hijau kecil yang tidak ada apa-apanya di depan sang naga. Mana berani mencoba disayat pedang es itu. Dia masih ingin hidup. Bahkan binatang roh purba pun tidak akan berani melawan makhluk roh suci ilahi kuno.
"..." Xiu Jimei serta yang lain melihat ular itu meliuk-liuk semakin menjauh sebisa mungkin, merasa sangat aneh.
Apa yang salah? Xiu Jimei hanya mengeluarkan pedang, belum mengupas kulitnya. Tapi ulat hijau sudah melarikan diri seakan-akan melihat lubang neraka.
"Sia-sia saja aku mengeluarkan pedang," gumam Xiu Jimei sangat menyesalinya.
"Baiklah, kita bisa melanjutkan perjalanan." Xiu Jikai tidak mau berlama-lama.
Tak lama kemudian, kelompok Xiu Jimei yang lain tiba dengan napas terengah-engah, terutama Yan Yujie, Jia Lishan serta Kin Wenqian. Adapun Wang Xuyue menunggangi Cip Cip, jadi tidak lelah. Sedangkan Xuan Xing merupakan pengguna elemen es, bahkan jika lelah, dia tidak berkeringat sama sekali.
Ming Zise sudah tiba entah sejak kapan. Dia berdiri di samping macan putih roh kuno, seperti sudah ada sejak lama.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa ada gempa bumi?" Wang Xuyue tidak turun dari punggung Cip Cip.
Mereka hanya merasakan ada getaran saat mendekati lokasi tersebut.
Xiu Jimei juga tidak mampu memberi tahu mereka. Dia belum mengerti apa tujuan murid Sekte Hantu dengan menyerang kelompok Huang Fu Shi. Namun yang jelas, mereka ingin kelompok Huang Fu Shi mati.
Untungnya tidak ada yang menyadari tentang panah hantu itu. Jadi mereka melanjutkan perjalanan setelah Lei Mo merasa lebih baik.
Di tempat lain yang cukup jauh dari keberadaan kelompok Xiu Jimei dan Huang Fu Shi ....
Tiga kultivator dari Sekte Hantu mengambil tempat tersembunyi untuk mengamati kelompok Xiu Jimei dari kejauhan. Mereka menyipitkan mata, tidak senang sekaligus marah. Terutama Mei Rong. Lagi-lagi rencana mereka untuk mengambil mangsa gagal.
Meski kali ini tidak menargetkan Yan Yujie, tapi mereka juga butuh darah atau jiwa manusia untuk mengisi energi spiritual. Bahkan jika mereka memiliki kultivasi tersendiri di Dunia Hantu, sebenarnya darah dan jiwa manusia lebih enak untuk disantap.
Sayangnya, mereka berencana untuk membunuh kelompok Huang Fu Shi, mengelabui nya dengan serangan seekor ular hijau roh kuno. Tapi Xiu Jimei datang.
__ADS_1
Bahkan panah hantu yang ditembakkan Mei Rong tiba-tiba saja kaku sebelum menyentuh tubuh Xiu Jimei. Lalu kehilangan energi spiritual dan jatuh begitu saja sebelum akhirnya menghilang. Hal ini membuktikan jika Xiu Jimei tidak biasa.
"Gadis itu, siapa sebenarnya dia?" Mei Rong tahu namanya Xiu Jimei karena telah bertanya pada orang satu kelompoknya.
Murid ras hantu memang agak menakutkan, tapi dalam ujian kali ini mereka tidak berbahaya. Jadi banyak yang mengenal Xiu Jimei.
Gadis yang merupakan anak dari pasangan legendaris seratus tahun yang lalu itu, kini memiliki bakat ibunya. Belum lagi saudara kembarnya tak kalah kuat.
Xiu Jimei terkenal ceroboh dan santai, melakukan segala sesuatu dengan senang hati tanpa adanya beban. Bahkan masih seorang pecinta makanan yang tidak pernah gemuk.
Mei Rong, sebagai seorang wanita, merasa iri dengannya. Makan tanpa khawatir gemuk, wanita mana yang tidak menginginkannya?
"Gadis itu dan saudara kembarnya sulit dihadapi. Ini benar-benar akan menjadi misi yang panjang dari raja. Kita harus pikirkan cara untuk menyingkirkan mereka dan membunuh Yan Yujie!" Mi Sai yang memiliki perawakan anak kecil itu mencoba untuk menggendong boneka menyeramkan yang ada di punggung.
Boneka itu memiliki perawakan seperti beruang tapi bukan boneka beruang. Jika diperhatikan secara saksama, mata hitam boneka itu bergerak sedikit.
"Bukankah kamu ingin mencoba darah dan jiwa mereka?" Mi Sai melirik Fan Li.
"Ya, tentu saja. Sebelum keluar dari Dunia Kecil Array Kuno, kita harus mencicipi darah mereka bahkan jika tidak membunuhnya." Fan Li menjilat bibirnya yang sedikit kering.
Dia malas berurusan dengan manusia. Tapi jiwa hantunya meronta-ronta minta darah dan jiwa. Ini sulit ditolak. Dia mengelus seruling giok ilusi pelahap jiwa yang dipegangnya. Fan Li sudah tidak sabar saat ini.
"Baiklah, mati kita kembali dulu ke kelompok masing-masing. Akan merepotkan jika para manusia itu mencurigai kita karena hilang terlalu lama," ucap Mei Rong menengahi.
Meraka selesai berdiskusi dan baru saja hendak pergi. Tapi, tiba-tiba saja mereka melihat bayangan gelap di tempat yang dipijaki. Lalu desisan juga sayup-sayup terdengar di belakang ketiganya.
Mi Sai merinding. Bahkan boneka kanibal di punggungnya memiliki tatapan aneh, mungkin berkeringat dingin jika memiliki kulit berpori-pori seperti manusia. Tapi sayangnya itu hanya sebuah boneka. Mi Sai terhubung dengan jiwa boneka kanibalnya, jadi dia tahu apa yang ada di belakang.
Ada dengusan dingin yang membuat siapapun merinding.
__ADS_1
"Mei Rong, Fan Li ... Sebelum kita memikirkan cara untuk berurusan dengan kelompok Xiu Jimei, lebih baik kita urus dulu sesuatu yang ada di belakang," kata Mi Sai agak gemetar.
Mereka pun segera menoleh ke belakang dan tertegun. Desisan itu berasal dari seekor ular hijau raksasa yang menatap ketiganya dengan mata penuh amarah.