Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Sangat Mirip


__ADS_3

Kelompok Xiu Jimei panen pada hari itu juga. Setelah panen mereka tidak memiliki kegiatan apapun sehingga membantu kelompok lain untuk menyelesaikan tugas.


Sementara itu, Xiu Jimei pergi dengan Ming Zise ke Alam Para Dewa untuk menemukan Dewi Kehidupan.


Menurut Ming Zise, Dewi Kehidupan tinggal di pegunungan. Ada istana megah di sana yang dikelilingi tembok indah penuh tanaman bunga merambat.


Sekumpulan angsa dan dan bangau roh dewa terlihat santai di kolam ikan koi yang cukup luas. Ada bunga teratai juga di sekitar sehingga terlihat seperti di alam liar.


Xiu Jimei menikmati pemandangan itu dengan penuh minat dan sesekali menyentuh bunga teratai merah muda yang tumbuh di tepi kolam.


"Jika Mei'er mau, petiklah." Ming Zise tak tahan untuk melihat kecantikannya bersama teratai merah muda.


"Apakah tidak apa-apa? Dewi mungkin akan marah nanti."


"Tidak apa-apa. Ada banyak teratai di sini. Dia tidak akan marah hanya kehilangan satu bunga yang disukainya."


Xiu Jimei pun memetik satu bunga itu dengan santai.


Keduanya belum tahu jika saat ini, Dewi Kehidupan sedang bersila di sebuahbatu besar di halaman belakang. Matanya terpejam, sibuk menyerap energi spiritual alam yang melimpah.


Namun tiba-tiba saja dia merasakan ada getaran energi spiritual yang besar. Energi yang murni itu tampaknya menyentuh salah satu bunga teratai di kolam ikan koi halaman depan.


Mau tidak mau, Dewi Kehidupan membuka matanya dan mengakhiri meditasi. Gaun putih berbunga-bunga terlihat sangat cantik. Ketika melompat turun dari atas batu, gaun lapis kasanya berkibar seperti peri dari langit.


Ia ingin tahu siapa yang berani menyentuh barang-barang nya. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang untuk melapor.


"Dewi, di depan ... Tuan Ming datang membawa tunangannya. Katanya mereka ingin bertemu Dewi," ucapnya.


"Ming Zise? Anak itu datang ke sini, sangat tidak biasa." Dewi Kehidupan tersenyum senang.


Jangan salah, meski dia terlihat cukup muda, suaranya sudah jelas hampir mirip dengan seorang wanita paruh baya. Bagaimana pun juga, Dewi Kehidupan memiliki usia yang lebih tua dari Ming Zise.

__ADS_1


Dewi Kehidupan mengangguk pada pelayan itu. "Pergilah, aku akan menemui mereka."


Pelayan itu akhirnya mundur untuk melakukan pekerjaannya kembali.


Dewi Kehidupan pergi ke halaman depan dan melihat Ming Zise dengan seorang gadis di dekat kolam ikan koi. Dia tak sengaja mendengar percakapan keduanya tentang memetik bunga teratai.


Mau tidak mau, Dewi Kehidupan mencibir diam-diam. Ming Zise semakin nakal setelah bersama bintang phoenix nya.


"Kamu tahu bahwa aku tidak akan marah. Masih sama nakalnya seperti dulu," ucap Dewi Kehidupan tiba-tiba membuat keduanya menoleh.


Ming Zise tidak terkejut ketika melihatnya. Namun berbeda dengan Xiu Jimei. Ia bukan hanya terkejut tapi tak bisa berkata-kata. Menatap wanita bergaun putih lapis kasa di yang berjalan menuju arah mereka, kenapa dia sangat mirip dengan ....


Dewi Kehidupan juga merasakan tatapan Xiu Jimei tapi hanya tersenyum misterius. "Ini pasti Mei'er. Dia sangat cantik seperti ibu dan neneknya. Belum lagi darah dewa di tubuhmu, membuatmu sangat disukai oleh esensi delapan dewa-dewi."


Xiu Jimei masih tak bisa mengucapkan sepatah kata pun dengan benar. "Kamu— sebenarnya ... kenapa kamu—"


Kamu sangat mirip dengan nenekku? Batin Xiu Jimei mengucapkan sisa kata-kata di dalam hatinya.


Xiu Jimei tidak sopan untuk menikmati kue itu dan lupa tujuannya datang ke sini. Jika Dewi Kehidupan tidak bertanya, dia mungkin hanya berkunjung saja.


"Sudah lama sekali kamu tidak datang ke sini. Apa yang kalian inginkan dariku?" Dewi Kehidupan menyesap tehnya.


Ming Zise melirik Xiu Jimei. "Aku kamu ingin Dewi memeriksa tunanganku. Aku ingin tahu apakah energi spiritual esensi delapan dewa-dewi telah bocor atau tidak."


"Kenapa ingin memeriksanya? Bukankah esensi delapan dewa-dewi selalu patuh berada di tubuh pewarisnya?" Dewi Kehidupan sedikit heran dengan permintaan itu.


"Memang. Tapi kali ini mungkin agak tidak terkendali meski Mei'er tidak sengaja menanam sesuatu. Bibit padi yang baru saja ditanam kemarin telah tumbuh besar dan berbuah dalam semalam."


"Oh ... Tidak heran aku merasakan energi spiritual murni yang menyentuh bunga terataiku sebelumnya." Dewi Kehidupan menatap Xiu Jimei. "Jadi kamu hanya menyentuhnya tanpa menggunakan energi spiritual apapun?"


Meski Xiu Jimei bingung kenapa ditanyai seperti itu, dia hanya mengangguk. Lagi pula dia tidak melakukan apapun selain memetik bunga teratai. Dan ... sejak kapan esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya bocor begitu saja? Kenapa dia tidak merasakan apapun?

__ADS_1


"Coba ulurkan salah satu tanganmu. Aku akan memeriksanya."


Xiu Jimei dengan patuh mengulurkan tangannya. Dewi Kehidupan memeriksa telapak tangan gadis itu lalu mengerutkan kening. Kemudian dia meminta pelayan untuk mengambil pot bunga mawar potong yang ada di kamarnya.


Ketika pelayan membawa bunga itu, tanam mawar yang ada dalam pot masih muda dan belum memiliki kuncup bunga sama sekali.


"Apa yang dilakukan dengan pot bunga itu?" Xiu Jimei tidak mengerti semua hal yang dilakukan Dewi Kehidupan.


"Kamu akan tahu. Ayo cabut dan pindahkan ke dekat kolam ikan di sana," pintanya.


"..." Xiu Jimei yang sedang makan kue kering, malas untuk melakukan sesuatu.


Setelah ditatap oleh Ming Zise, ia pun akhirnya melakukannya. Lupakan saja. Dia tidak ingin kehilangan kue kering di piring jadi pergi melakukan apa yang diminta.


Ketika Xiu Jimei selesai menanam tanaman bunga mawar itu, tiba-tiba saja sesuatu terjadi. Tanaman mawar yang masih pendek tiba-tiba saja tumbuh menjadi lebih tinggi dan agak besar. Hampir setinggi dua meter. Hampir setiap cabang dahan memiliki kuncup dan mekar.


Xiu Jimei hampir bodoh di tempat dan bingung kenapa bisa seperti itu. Ini berbeda dari apa yang dipikirkannya.


"Ada apa ini? Kenapa mawar ini tumbuh setelah ditanam? Terlalu cepat bukan?"


Xiu Jimei bukan kultivator yang khusus tipe kayu. Sebagai kultivator dengan elemen lengkap, dia selalu terukur dengan apa yang dilakukannya. Ming Zise masih sedikit terkejut ketika melihatnya. Namun Dewi Kehidupan hanya mengangguk dengan senyum lembut.


"Sudah kuduga akan terjadi. Alam Para Dewa penuh dengan vitalitas pohon keabadian. Ketika Mei'er menanam sesuatu dengan tangannya sendiri, maka pasti akan tumbuh lebih cepat. Hal itu karena esensi delapan dewa-dewi di tubuhmu bereaksi dengan energi spiritual di alam sekitar," tuturnya menyimpulkan semua dengan tepat. "Ini memang energi spiritual murni dari esensi delapan dewa-dewi yang melimpah."


"Lalu ... apa yang harus kulakukan. Aku tidak mungkin terus seperti ini di masa depan bukan?"


"Ya, ada dua cara yang paling efektif." Dewi Kehidupan melirik Ming Zise dan tersenyum nakal. "Pertama, kalian bisa bisa melakukan kultivasi ganda dan secara otomatis saat itu terjadi, energi spiritual murni yang berlebihan akan mengalir pada pasangan."


Xiu Jimei sedikit canggung ketika mendengar ini hingga wajahnya memerah. Bahkan Ming Zise terbatuk ringan.


"Lalu ... apa pilihan kedua?" tanya gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2