Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Tanpa Sengaja Melihatnya Mandi


__ADS_3

Pada pagi hari di alam sekuler.


Xiu Jimei terbangun lebih awal, setidaknya mungkin masih menunjukkan pukul lima pagi jika dilihat dari waktu modern. Dia menguap, merasa tidak nyaman di tubuhnya. Melihat semua orang masih tidur kecuali Xiu Jikai yang sudah terjaga, dia memutuskan untuk mencari sumber air terlebih dahulu.


Karena hubungan saudara kembar, Xiu Jikai kadang akan bangun pada saat yang sama dengan adiknya.


"Kamu mau ke mana?" Xiu Jikai mengerutkan kening.


"Aku ingin mandi," jawab gadis itu saat tubuhnya merasa sedikit tidak nyaman. "Suhu di sini terlalu panas dan energi spiritual rendah, tubuhku berkeringat terus," imbuhnya.


Xiu Jikai juga bangkit sambil mengambil teko.


"Kakak, apakah kamu mau mandi bersamaku?" tawar Xiu Jimei.


Xiu Jikai menunjukkan ekspresi jijik. "Kamu sudah dewasa, mandi sendiri."


Xiu Jimei terkekeh. Dia hanya menggoda kakaknya. Lagi pula sebagai saudara kandung, mandi bersama tidak menjadi masalah. Hanya saja usia keduanya sudah beranjak dewasa jadi tidak pantas untuk saling telanjang. Lagi pula, keduanya masih lawan jenis.


"Aku akan merebus air. Kamu jangan terlalu lama mandi, ini masih terlalu pagi. Hati-hati masuk angin," kata Xiu Jikai.


"Ya."


Xiu Jimei pergi ke sungai yang ada tak jauh dari lokasi mereka menginap. Karena marah belum terbit sama sekali, dia menggunakan lentera batu roh cahaya untuk menerangi sekitar.


Batu roh cahaya biasanya didapat dari binatang tipe api atau cahaya, ada juga dari bawah gunung api serta sumber air panas terdalam. Ketika batu roh cahaya disuntikkan energi spiritual, cahayanya akan muncul.


Xiu Jimei merasa jika airnya terlalu dingin. Jadi dia mencari kolam sungai yang biasanya ada di dekat air terjun. Siapa tahu, dia akan menemukan sumber air panas di dekat air terjun.


"Air ini hangat tapi menjadi dingin ketika mengalir ke hilir," gumamnya. "Ini menarik. Tapi kenapa rasanya ada yang aneh?"


Xiu Jimei melihat kepulan uap di kolam air terjun. Suhunya hangat yang pas untuk berendam. Dia tidak suka mandi air terlalu dingin karena selalu mudah membuatnya jatuh sakit.


Xiu Jimei merasakan tidak ada seorang pun di tempat tersebut sehingga dia pun membuat penghalang spiritual agar tidak ada yang melihatnya.


Satu persatu pakaiannya dilepas. Tubuh putih mulus gadis itu terekspos. Bentuk badannya bagus dan buah persiknya (*payud*ra*) berkembang dengan baik. Lawan jenis mana pun yang melihatnya pasti akan bereaksi pada saat yang sama.


Saat Xiu Jimei menginjakkan kaki ke kolam air terjun hangat, ada gelombang energi spiritual asing yang sedikit berputar di sekitar. Namun Xiu Jimei tidak menyadarinya.


"Ini sangat nyaman," ujarnya pada diri sendiri. Xiu Jimei mencuci wajahnya.

__ADS_1


Di balik air terjun, ada sebuah gua yang cukup besar dan dalam. Ming Zise yang sedang bersila sambil memejamkan mata tiba-tiba saja membuka matanya dengan tidak percaya.


Ada orang lain yang memasuki kolam air terjun.


Setelah kembali ke alam sekuler, Ming Zise mencoba menetralkan energi spiritual dewa yang sedikit berkecamuk di dantian nya. Lagi pula ini bukan Dunia Langit sehingga energi spiritual dewa yang ada di tubuh sedikit terganggu.


Ming Zise mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak mengejutkan kultivator ranah bumi dan ranah kekosongan yang mungkin ada di alam sekuler.


Tapi saat ini, seseorang datang untuk berendam?


Padahal Ming Zise mencari tempat yang tenang untuk bermeditasi. Dia pikir karena ini terlalu pagi, para kultivator lain sedang beristirahat.


Ming Zise ingin keluar, namun melihat melalui mata dewanya jika orang yang berendam itu adalah Xiu Jimei.


"Xiao Mei?" gumamnya agak terkejut. "Kenapa dia terbangun jam segini?"


Xiu Jimei mandi pada jam seperti ini, Ming Zise seperti tahu alasannya.


Alam sekuler terlalu panas dan energi spiritual di udara juga rendah sehingga membuat tubuh tidak terjaga dari hawa panas.


Ming Zise awalnya ingin pergi ke tempat lain dan merasa tidak pantas menontonnya mandi. Tapi pikirannya berkata lain. Dia adalah seorang pria. Gadis yang berendam itu adalah bintang phoenix-nya. Tidak ada salahnya jika dia melihatnya mandi seperti ini 'kan?


Ming Zise memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan diri. Lalu dia mencium aroma bunga yang sangat harum. Dia membuka mata lagi dan memperhatikan Xiu Jimei sedang mencuci rambutnya dengan sejenis shampo. Sepertinya berasal dari sana.


Xiu Jimei tidak menyadari ada pihak lain yang memperhatikan dari balik air terjun. Setelah mencuci rambut dan tubuhnya, Xiu Jimei berenang ke sana dan kemari terlebih dahulu untuk menikmati sensasi mata air panas.


Tak lama, dia kembali ke daratan tanpa mengenakan apa-apa.


"Tubuhku merasa jauh lebih nyaman," ujar gadis itu pada diri sendiri.


Ming Zise yang melihatnya telanjang seperti itu tiba-tiba saja menutupi hidungnya. Dia tercengang. Tubuhnya kaku. Tanpa sadar, hidungnya mengeluarkan darah.


Mimisan!


Untuk kali pertama, Ming Zise terpesona oleh tubuh lawan jenis seperti ini. Bahkan membuat perut bawahnya bereaksi.


Ini tidak benar!


Ming Zise memiliki kontrol yang baik terhadap pikirannya sendiri. Namun kali ini semuanya goyah karena melihat tubuh Xiu Jimei. Lekukan tubuhnya, buah persik di dadanya, kaki rampingnya, leher jenjangnya. Semuanya.

__ADS_1


Ini adalah bintang phoenix-nya. Secara hukum perjodohan langit dan bumi, dia berhak menyentuh tubuh bintang phoenix nya. Hanya saja ... Ming Zise tidak ingin menjadi tercela. Tapi sampai kapan dia harus menahan diri?


Di saat Xiu Jimei mengeringkan tubuhnya dan memakai body lotion ke seluruh tubuh, Ming Zise menggertakkan gigi. Tidak bisa menahannya lagi. Dia langsung menghilang dari tempat semulanya.


Xiu Jimei merasakan embusan angin pertanda kehadiran seseorang. Ekspresi wajahnya serius. Dia berniat mengambil pakaiannya untuk menutupi tubuh tapi pihak lain justru menjatuhkan jubah besar ke tubuhnya.


Jubah brokat putih berpola perak. Ini jubah pria.


"Apakah Xiao Mei mencoba merayu guru?" Ming Zise berdiri di belakangnya, menyentuh bahu gadis itu dan mencoba menenangkan dirinya. Tenggorokannya sedikit kering.


"Guru Ming?" Xiu Jimei terkejut.


Sejak kapan gurunya ada di sini? Kenapa dia tidak merasakannya? Dia tahu jika kultivasi pihak lain lebih tinggi. Tapi dia berada di ranah kekosongan. Ini yang tertinggi di dunia kultivasi.


Jika kultivasi Ming Zise lebih dalam darinya, maka harus melebihi ranah kekosongan. Jadi, di tingkat mana kultivasi Ming Zise.


Xiu Jimei sedikit malu saat menyadari dirinya telanjang saat ini. Ming Zise menggunakan jubahnya sendiri untuk menutupi tubuhnya.


"Kenapa guru di sini?"


"Tidak sengaja lewat."


Xiu Jimei harus percaya. Ming Zise sudah menghilang sejak dia bangun. Jadi harusnya pergi ke suatu tempat dan baru saja kembali. Xiu Jimei menutupi tubuhnya dengan jubah besar itu. Ini memalukan. Apakah guru melihatnya tanpa pakaian seperti ini?


Xiu Jimei merasa tangan Ming Zise di pundaknya sedikit mengencang.


"Guru, ada apa denganmu?" tanyanya polos.


"Tidak ada apa-apa," jawab Ming Zise masih bersikap tenang di permukaan.


Ming Zise membalikkan tubuh gadis itu hingga jubah besar yang dipakaikannya pada Xiu Jimei sedikit melorot. Jubah brokat nya licin saat bersentuhan dengan tubuh Xiu Jimei. Untung saja Ming Zise menahannya sebelum melihat tubuh gadis itu lebih jauh lagi.


Di sini, Xiu Jimei bahkan lebih malu. Tidak tahu kenapa, dia tidak berdaya di depan Ming Zise. Dia menyukai pria tampan dan cantik, hanya mengaguminya saja.


"Guru, apakah kamu menyukai Xiao Mei?" tanyanya bingung.


...****************...


NB: Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2