Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Tumbuh Menggila (3)


__ADS_3

Mendengar penjelasan itu, para murid sedikit tidak berdaya. Mereka melihat sawah yang luas, masih dipenuhi oleh sisa batang pagi, rerumputan serta lumpur yang mulai mengering. Jika menanam di ladang masih cukup baik bagi mereka, maka menanam padi dianggap cukup merepotkan.


Salah satu murid sekte akhirnya bertanya. "Lalu bagaimana kami membajak sawahnya? Haruskah kami menggunakan cangkul?"


Meng Zhanluo tersenyum. "Sebenarnya ada dua cara. Menggunakan cangkul adalah salah satunya. Tapi jika mau lebih cepat, gunakan saja kerbau pekerja spiritual yang ada di sana."


Pria tua itu mengelus janggutnya dan menunjuk ke arah di mana para kerbau pekerja spiritual berada.


Semua kerbau pekerja spiritual memiliki ukuran besar, berisi dan bertanduk kokoh. Semua kerbau memiliki ekspresi garang dan sombong, menatap semua murid itu dengan peringatan jelas. Seolah berkata, 'Datanglah jika berani!'


"..." Semua murid yang melihat kerbau diam-diam berduka dalam hatinya. Jangan bercanda!


Meng Zhanluo puas melihat ekspresi mereka lalu memberikan arahan kecil sebelum akhirnya menyerahkan semua bimbingan pada salah satu orangnya.


Kelompok Xiu Jimei juga ragu untuk menggunakan kerbau. Tapi tidak masalah jika Xiu Jimei menginginkannya. Dia bisa mengambil satu kerbau untuk dimainkan.


Yan Yujie sudah mengambil cangkul dan tidak berniat untuk menggunakan kerbau. "Aku pasti salah lihat! Itu bukan kerbau, pasti banteng!!"


Kerbau hampir mirip dengan sapi, kecuali warna tubuh dan bulu, perawakannya hampir mirip. Hanya saja, kerbau suka dengan lumpur dan air untuk membuat tubuh mereka tetap lembap.


Wang Xuyue juga mengeluh. "Bagaimana bisa kerbau sebesar itu digunakan untuk membajak? Apakah mereka tidak takut kerbau menubruk orang?"


Jia Lishan dan Kin Wenqian menggelengkan kepala. Mereka juga memilih menggunakan cangkul.


"Xiaomei, kamu dan kakakmu bisa menggunakan kerbau. Aku yakin kerbau itu tunduk pada yang kuat dan sombong pada yang lemah." Xuan Xing menyarankan.


"Bagaimana denganmu?" Xiu Jimei meliriknya.


Xuan Xing menggelengkan kepala. "Aku tidak mau. Aku tidak suka kerbau."


"Baiklah, kalau begitu." Xiu Jimei justru menatap Yan Yujie yang masih mengomel. "Sebagai raja hantu, tidakkah kamu malu memegang cangkul?"


Yan Yujie yang siap turun ke sawah tiba-tiba menegang. Kemudian dia hampir meledakkan rambutnya (marah).

__ADS_1


"Kenapa malu? Raja ini enggan mengendalikan kerbau jelek yang bodoh itu. Harga diriku akan hilang!" Dia mencari alasan.


"Kupikir karena kamu takut sial."


"Mana mungkin!" Yan Yujie tidak mau mengakuinya.


Gadis itu tertawa ringan, seperti sedang mengejeknya. "Kalau begitu ayo bujuk kerbaunya. Aku tidak percaya jika raja hantu tidak mampu mengendalikan kerbau."


"..." Yan Yujie menyesal berdebat dengannya. Harusnya dia tidak jatuh ke lubang yang digali (jebakan) adik sepupunya.


Si kembar sudah pergi ke tempat para kerbau pekerja spiritual berada. Ada beberapa murid yang ingin mencoba keberuntungan. Belum lagi sebagian dari mereka adalah pengendali binatang.


Adapun Kin Wenqian yang sejatinya bisa mengerti bahasa binatang roh, mencoba keberuntungannya juga.


Para kerbau itu sangat sombong hingga ekornya akan naik ke langit (merasa bangga). Setelah bernegosiasi dengan salah satu kerbau pekerja spiritual yang tidak terlalu galak, Kin Wenqian berhasil mengambil satu.


Yan Yujie tidak percaya apafa kejahatan. Dia akan mengutuk Dewa Kesialan jika tidak mendapatkan kerbau hari ini.


Salah satu kerbau akhirnya berhadapan dengannya. Melihat aura ras hantu yang kuat darinya, kerbau itu sedikit ragu. Belum lagi, dia juga tunduk pada yang kuat. Namun karena dia tidak berada dalam penampilan raja hantu, kerbau itu tidak mau dengannya dan langsung menendangnya tanpa ampun.


"Sepertinya aura raja hantumu hanya bisa terlihat jika berada daa penampilan asli." Xiu Jikai hanya memberinya dorongan semangat.


Yan Yujie yang dibenci kerbau sedikit bersemangat. Dia lebih suka mengumpat tentang Dewa Kesialan.


"Apakah Dewa Kesialan sangat membenciku? Kenapa dia tidak mencoba bagaimana rasanya ditendang binatang!" teriaknya marah.


Xiu Jimei bersimpati dengannya. "Jangan khawatir, Dewa Kesialan pasti akan sial juga hari ini."


Ini bukan sekadar kata-kata, tapi lebih pada do'a. Sebagai pewaris esensi delapan dewa-dewi dan kesayangan surga, semua kata-katanya mungkin akan menjadi nyata. Siapa yang tahu. Jika minta hujan pada Dewa Cuaca, pasti akan turun hujan bukan?


Yan Yujie akhirnya hanya bisa pergi dengan cangkulnya.


Sedang Xiu Jikai audus mengambil satu kerbau secara acak. Kerbau itu tidak berani melawan. Melihatnya saja sudah membuat tubuhnya gemetar, apa lagi ketika ditatap. Lupakan saja, yang kuat selalu menang, pikir si kerbau.

__ADS_1


Adapun Xiu Jimei, dia sedikit pemilih. Semua binatang roh selalu takut padanya dan melarikan diri setiap kali melihatnya. Kali ini sebenarnya bisa saja kerbau itu pada lari untuk bersembunyi. Namun karena ada pembatas kandang, mereka tidak berani pergi.


Salah satu kerbau yang dihampiri Xiu Jimei gemetar hingga kakinya hampir lemas. Dia tidak terlihat garang seperti sebelumnya, tapi lebih ke penampilan kedua yang takut melihat raja hutan yang berkuasa di wilayahnya.


Xiu Jimei mengelus tanduk kerbau dengan penuh kasih sayang. "Ayo bantu aku membajak sawah. Meski tanduk ini tidak berguna saat mengajak, tapi kakimu harusnya kuat, bukan?"


"..." Kerbau yang dielus tanduknya sedikit mati rasa. Jika tanduknya bisa patah, dia lebih suka tidak memiliki tanduk.


Kemampuan Xiu Jimei untuk menggunakan binatang tidak diragukan lagi. Semua murid tahu tentang hal ini. Jadi ketika melihat Xiu Jimei menunggangi kerbau, mereka hanya bisa iri diam-diam.


Semua peserta ujian mulai mengajak sawah dengan kedua dan cangkul. Tanahnya tidak terlalu kering sehingga masih bisa dicangkul dengan baik. Namun luasnya sawah membuat mereka harus membajak sehari penuh. Bahkan tidak akan selesai dari satu hari.


"Tanah sawah ini tidak terlalu basah. Kita harus mengairinya dulu untuk memudahkan pembajakan." Xuan Xing mencoba mencangkulnya, agak kurang nyaman.


"Ya, benar. Kerbau juga tidak berguna jika tanah sawah tidak menjadi lumpur bukan?" Wang Xuyue menggaruk kepalanya yang agak gatal.


Kerbau yang dikatakan tidak berguna sedikit tidak senang. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Lagi pula, dia hanya suka membajak sawah berlumpur.


"Di mana kita mendapatkan airnya?" Jia Lishan melihat ke sekeliling, mencari sumber air.


Akhirnya Kin Wenqian pergi untuk bertanya pada salah satu pengurus sawah. Lalu dia kembali lagi dengan ekspresi sedikit bingung dan ragu.


"Nah, bagaimana?" Yan Yujie tidak sabar.


"Pengurus bilang jika air untuk mengairi sawah berasal dari sungai yang cukup jauh dari sini. Ketika musim penghujan, sebenarnya baik-baik saja, tidak perlu pergi ke sungai. Walaupun beberapa hari yang lalu sempat hujan, tapi tanah di sini tidak bisa menampung air terlalu lama dan akan mengering lagi dengan cepat. Karena itu, setiap kali menanam padi, sawah diairi secara rutin oleh para petani," jelasnya.


"Di mana sungai itu?"


"Cukup jauh dari sini tapi tampaknya tidak terlalu sulit dilalui."


"Kalau begitu aku akan membiarkan anak beruang putih roh kuno dan Cip Cip untuk mengambil airnya. Apakah ini diperbolehkan?" Xiu Jimei ragu untuk memerintahkan dua binatang itu.


"Sebenarnya tidak masalah." Kin Wenqian mengangguk.

__ADS_1


Menggunakan binatang roh melakukan pekerjaan kecil sebenarnya tidak dilarang. Selama itu tidak curang.


__ADS_2