
Setelah jamuan makan dilakukan, serangkaian acara lain dilakukan. Ads pertunjukan menyanyi dan menari serta memainkan alat musik. Xiu Jimei tidak suka acara seperti itu jadi dia pergi lebih awal bersama teman-temannya.
Ia dan kembarannya kembali ke Istana Golden Lotus untuk istirahat. Xiu Jimei merindukan rumah setelah berada di alam sekuler cukup lama. Roh Bunga melakukan rutinitas biasanya untuk mengurus kebun bunga kesayangan.
Tuit Tuit yang berwujud anak perempuan berusia lima tahunan juga berkeliaran bebas di halaman belakang, bertengkar dengan Roh Bunga.
"Bunga jelek! Kamu berani memerintahkanku untuk menyiram bunga? Tidakkah kamu mengintimidasi seorang anak?" Tuit Tuit bertingkah seperti anak kecil yang dianiaya.
"Malu dengan usiamu, sayang ..." Roh Bunga menggodanya.
"..." Tuit Tuit tidak bisa menyangkal usianya yang telah ribuan tahun berlalu.
Sementara itu, Xiu Jimei yang mengingat tentang wanita bernama Mye Ai itu akhirnya menulis surat pada ibunya. Dia menceritakan apa yang terjadi saat berada di alam sekuler, serta pertemuannya dengan Mye Ai.
Xiu Jimei memiliki kecurigaan jika Mye Ai dan ibunya memiliki hubungan darah. Jika tidak, kenapa begitu mirip? Meski demikian, dia tidak pernah bertanya langsung pada Mye Ai sebelumnya. Karena dia tidak mau mendengarkan sebuah fakta.
Mye Ai adalah sebongkah jiwa yang tersisa. Jiwa itu tertinggal di dalam esensi delapan dewa-dewi selama bertahun-tahun lamanya. Tidak terhitung berapa tahun. Belum lagi menerima buah persik esensi delapan dewa-dewi, Xiu Jimei sebenarnya cukup terkejut.
Setelah menulis cerita panjang lebar, ia menggunakan burung pengantar pesan kilat. Dengan menggunakan segel darah ibunya, ia tidak khawatir burung itu akan tersesat.
Setelah menulis surat, ia bisa bersantai dan berencana pergi ke Alam Para Dewa dalam waktu dekat. Ia ingat jika Ye Jue akan membuatkannya permen susu buah persik nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alam Neraka.
Setelah Lu Zheng menarik kembali semua pasukannya dan mundur dari alam sekuler, ia hampir ingin menghancurkan istana. Kemarahannya tidak terbendung hingga Ning Siyu sendiri enggan untuk memukul sisik terbaliknya (garis bawah).
Pasukan Alam Neraka telah banyak yang gugur dan dibersihkan oleh Ming Zise serta Dewa Perang secara langsung. Bagaimana mungkin Lu Zheng bisa menahannya.
"Bagaimana bisa Alam Para Dewa mengetahui rencana yang telah kubuat salam bertahun-tahun? Jelas semuanya tidak meninggalkan jejak!" Ia menggertakkan gigi.
"Apakah Dewa Perang diam-diam memperhatikan buku perangnya sendiri? Jika itu tercatat dalam buku perangnya, tidak ada aneh bagiku," jelas Ning Siyu.
__ADS_1
"Seharusnya! Tapi aku tahu bahwa Dewa Perang bukan orang yang selalu harus memperhatikan pekerjaan buku perangnya. Ini pasti pihak lain."
"Bagaimana dengan gadis itu? Apakah mungkin?"
"Xiu Jimei?" Lu Zheng mengerutkan kening, sedikit tidak suka. "Bagaimana bisa dia melakukannya?"
"Jangan lupa, dia sangat licik! Jangan lihat usia dan kepolosan di wajahnya."
Ning Siyu menyimpan dendam pada gadis itu. Secara alami selalu ingin memikirkan cara untuk bertarung. Dulu Xiu Jimei datang ke perbatasan Alam Neraka dan menghancurkan sebagian tempatnya. Bagaimana mungkin Ning Siyu tidak dendam.
Belum lagi, gadis itu adalah bintang phoenix Ming Zise. Pria yang disukainya juga dirampok olehnya. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak awal jika Ming Zise punya bintang phoenix. Jika dia tahu lebih awal, mungkin bisa diatasi sejak lama.
Lu Zheng tidak menganggap kata-kata Ning Siyu sebagai omong kosong. Kali ini dia tidak ingin melepaskan kemungkinan kecil sekalipun. Xiu Jimei memang dicurigai. Tapi bisakah seorang gadis kultivator Dunia Langit lebih peka ketimbang para dewa?
"Aku akan mengirim seseorang untuk mencari tahu." Lu Zheng segera memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menyelinap ke Alam Para Dewa dan mencari tahu.
"Omong-omong, aku pernah mengirim salah satu wakil jenderal ke Dunia Langit untuk mengacaukan situasi saat itu. Tapi pihak lain tidak kembali aku yakin mereka menahannya." Ning Siyu teringat dengan kekacauan yang dibuatnya saat masih menjadi Dewi Kecantikan.
"Aku ingin membawanya kembali. Jika tidak, bunuh saja."
"Hanya seorang wakil jenderal, apa yang kamu takutkan?" cibir Lu Zheng. "Daripada memikirkan itu, lebih baik pikirkan cara untuk memulihkan setengah pasukan yang hilang."
Ning Siyu mengepalkan kedua tangannya, menahan diri untuk marah. "Aku hanya tidak ingin meninggalkan bukti apapun."
"Kalau begitu kirim orang untuk membunuhnya. Kenapa begitu sulit?" Lu Zheng justru meremehkannya.
"Sayangnya wakil jenderal yang satu ini berdarah campuran antara iblis rubah Alam Neraka dengan siluman Rubah Alam Para Dewa. Kekuatan keturunannya tidak kecil."
Jika tidak, Ning Siyu tidak akan mengangkatnya sebagai wakil jenderal yang cakap. Meskipun penampilan pihak lain selalu berwujud anak kecil, sebenarnya sudah dewasa.
Kali ini Lu Zheng tidak langsung menolak. "Siapa dia?"
"Namanya Tongluo."
__ADS_1
Tongluo adalah salah satu keturunan campuran yang berhasil lahir ke dunia. Belum lagi memiliki kekuatan yang unik. Jika elemen api Tongluo diasah lebih baik lagi, mungkin bisa menjadi jenderal kepercayaannya.
Sayangnya Tongluo yang memiliki temperamen seperti anak kecil tidak suka dikendalikan. Jadi Ning Siyu sengaja mengirimnya ke Dunia Langit untuk membuat keributan. Siapa tahu bahwa Tongluo justru jatuh ke tangan Xiu Jimei.
Lu Zheng teringat dengan pertarungan singkatnya dengan Xiu Jimei sebelumnya dan ekspresinya kembali tidak enak dilihat. Ia sepertinya harus memikirkan cara untuk membuat esensi delapan dewa-dewi jatuh ke tangannya.
“Kalau begitu bawa Tongluo kembali.” Ia membuat keputusan sementara. “Lalu cari orangtuanya untuk digunakan sebagai pegangan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xiu Jimei pergi ke Alam Para Dewa pada hari ketiga. Ia datang seorang diri. Kakaknya pergi ke Dunia Bawah untuk mengurus hal lain. Setelah mengirim surat pada ibunya hari itu, ia akhirnya tahu jika wanita bernama Mye Ai adalah neneknya.
Dalam surat balasan yang ditulis ayahnya, ibunya menangis saat membaca surat itu. Terutama ketika berkaitan dengan Mye Ai. Xiu Jimei mungkin bisa merasakan betapa sedih ibunya ketika tidak bisa melihat Mye Ai untuk pertama dan terakhir kalinya.
Karena itu saat pergi ke Alam Para Dewa, Xiu Jimei pergi ke sebuah pagoda surga untuk berdo’a pada Dewa Pencipta Alam Semesta. Dia ingin Mye Ai mendapatkan tempat yang nyaman di mana pun berada sehingga ibunya bisa tenang.
“Tumben kamu datang ke tempat ini,” kata Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
Xiu Jimei menoleh dan melihatnya datang. “Aku ingin berdo’a untuk nenekku.”
“Untuk Mye Ai? Kamu bertemu dengannya?”
“Bagaimana dewa itu tahu?”
Dewa Pencipta Alam Para Dewa tersenyum dan menatap patung delapan dewa-dewi yang telah dihormati pada masanya.
“Apa yang tidak diketahui dewa ini?” candanya. Lalu ekspresinya sedikit serius. “Dulu nenekmu datang ke Alam Para Dewa dengan mengandalkan esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Seharusnya dia cerita padamu tentang ini kan?”
Xiu Jimei mengangguk. “Nenek bilang dia ingin mengubah takdir ibuku.”
“Benar. Demi mengubah takdir Fu Chan Yin, dia rela mengorbankan setengah jiwanya sendiri. Mengubah takdir adalah tindakan terlarang dan berdosa, kecuali Dewa Pencipta Alam Semesta memberikan pengecualian.”
“Jadi, ke mana nenekku pergi setelah jiwanya pergi ke tempat yang seharusnya?”
__ADS_1