
Sebelum melanjutkan tugas selanjutnya, kelompok Xiu Jimei beristirahat lebih dulu. Mereka makan dan minum, mengobrol sambil bertanya pada pengurus sapi perah yang lewat. Mereka harus memeras susu sapi secara lanjut. Terlebih lagi, kemungkinan besar untuk ditampar oleh ekor sapi sangat mungkin.
Xiu Jimei, Xiu Jikai dan Xuan Xing tenang-tenang saja. Tapi Yan Yujie dan Wang Xuyue tidak. Jia Lishan dan Kin Wenqian tampak biasa saja.
Setelah cukup beristirahat, mereka langsung membawa ember khusus untuk menampung susu sapi.
Ketika tiba di tempat sapi-sapi perah ditempatkan, mereka sedikit tidak optimis. Para sapi sesekali bersuara, melirik mereka dengan sombong—seolah-olah berkata, ayo datang jika berani!
"..." Yan Yujie yang pada dasarnya adalah raja hantu merasa tidak nyaman.
Sapi perah adalah sapi biasa di matanya. Tapi entah kenapa, sebagai seorang raja, dia agak memalukan untuk memeras susu sapi.
Petugas kandang sapi datang menyambut mereka, memberikan beberapa arahan sederhana. Xiu Jimei serta yang lainnya memegang ember khusus untuk wadah susu sapi.
Petugas memberi mereka contoh cara memerah susu sapi. Ketika petugas yang melakukannya, rasanya terlihat sederhana. Namun saat Yan Yujie yang mencoba, ekor sapi langsung menampar wajahnya.
"Aduhhh ...!" Yan Yujie menyentuh wajahnya yang sakit. Dia kesal. "Bisakah ekormu diam? Hati-hati agar aku tidak memotongmu untuk menjadi sapi panggang!"
Sekali lagi, ekor sapi berayun kencang ke arahnya dan menampar wajah tampan Yan Yujie. Wajah laki-laki itu kini terdistorsi dan warna rambutnya hampir berubah menjadi merah.
Sai itu meliriknya dengan sinis dan bersuara sombong.
"..." Yan Yujie yang mencoba menahan amarahnya mau tidak mau hanya bisa menyerah.
Petugas yang melihatnya hampir tak bisa menahan tawa. Dia pura-pura batuk dan pergi dengan alasan tak masuk akal. Lagi pula tugasnya hanya mengantar mereka dan memberi arahan. Sisanya bukan urusan dirinya.
Xiu Jimei melihat Yan Yujie yang sangat ingin memotong leher sapi, mau tidak mau menggelengkan kepala.
"Kamu harus membujuk sapinya lebih dulu. Jika tidak bisa dibujuk, maka ancam seperti ini ..."
__ADS_1
Xiu Jimei langsung menampar pantat sapi dengan sedikit energi spiritual di telapak tangannya. Sapi perah yang merasakan energi spiritual dari Xiu Jimei langsung menggigil alih-alih marah. Sangat menakutkan.
Xiu Jimei tersenyum melihat sapi itu akhirnya patuh. "Lihat, bukankah cara ini berhasil?"
"..." Yan Yujie dan yang lainnya hanya bisa tersenyum kaku. Ini ... Sepertinya cara yang tepat.
Pada akhirnya, di bawah bimbingan Xiu Jimei, semua sapi langsung patuh untuk diperah susunya. Pekerjaan yang sapi ini tidak menyita banyak tenaga tapi tangan mereka hampir mati rasa.
Setelah memerah susu sapi, mereka beristirahat dan menyeka keringat. Petugas datang untuk memeriksa dan melihat ember berisi susu, lalu mengangguk puas.
"Kerja keras kalian, terima kasih banyak. Ini hadiah untuk kalian," kata petugas pria itu seraya menyerahkan sebuah kotak kayu yang tidak terlalu tebal pada mereka.
"Apa ini?" Wang Xuyue membukanya. "Mentega?"
"Ya." Petugas itu mengangguk senang dan pergi seraya memerintahkan anak buahnya untuk mengambil semua ember berisi susu.
"Apa yang harus dilakukan dengan mentega ini? Kita menyelesaikan tugas seharian tapi hanya mendapatkan mentega? Ini tidak adil!" Yan Yujie yang tahu rasa sakitnya ditampar ekor sapi, dia mulai tidak suka dengan semua olahan susu saat ini.
"Sepertinya enak. Kebetulan aku mulai lapar sekarang." Jia Lishan mengangguk.
Kin Wenqian tidak terlalu suka mentega tapi sepertinya dioleskan pada roti dan dipanggang juga enak. Mentega juga bisa dijadikan bahan memasak atau membuat kue.
Mereka meninggalkan penangkaran sapi dan kuda lalu mencari tempat yang cocok untuk beristirahat. Ketika melihat gulungan ujian, tugas yang mereka baru saja selesaikan langsung menghilang dari permukaan kertas. Dengan ini, mereka tahu jika tugas berhasil dilaksanakan.
Hari ini sangat melelahkan. Mereka tidak berencana untuk melanjutkan tugas berikutnya. Segera, mereka menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat.
Xiu Jimei mengeluarkan panci pemanggangan anti lengket. Sebungkus roti tawar, beberapa selai aneka rasa serta air minum rasa lemon manis yang segar.
Mereka minum seolah-olah kehausan selama berhari-hari.
__ADS_1
"Rasanya aku hidup kembali," gumam Kin Wenqian.
“Aku tidak tahu jika dua tugas sederhana ini akan memakan waktu dan melelahkan.” Jia Lishan menghabiskan segelas air lemon manis yang dicampur es batu.
Xiu Jikai tidak merasa tubuhnya terlalu lelah. “Kita hanya tidak terbiasa dengan semua pekerjaan ini,” katanya.
“Yah … itu benar juga. Apa tugas selanjutnya?”
“Kita akan mencari tanaman dan buah herbal yang tidak terlalu banyak di pasaran,” jawab Wang Xuyue.
“Tampaknya tugas yang satu ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit.” Xiu Jimei memikirkan berapa hari mereka akan menyelesaikannya.
Wang Xuyue mengoleskan mentega ke panci pemanggangan yang mulai memanas, lalu memanggang roti dengan sedikit menekannya. Roti dipanggang bolak-balik dengan mengoleskan mentega beberapa kali. Ketika roti mulai melunak, Xiu Jimei mengoleskan selai di atasnya, kemudian tambah roti lagi di atasnya dan panggang bolak-balik hingga selai meleleh dan tercampur dengan roti.
Xiu Jikai lebih suka roti panggang yang selainya langsung dioles dan langsung dimakan. Tapi Xiu Jimei berbeda. Dia membuat roti dua lapis selai dengan menggunakan tiga, lebih banyak mentega dan parutan keju.
“Xiaomei, dari mana kamu mendapatkan resep roti bakar seperti ini sebelumnya? Aku belum pernah melihat roti bakar isi selai di restoran manapun,” kata Yan Yujie.
“Ibuku yang memberi tahu.” Xiu Jimei menjawab dengan mulut penuh.
Xuan Xing tidak merasa ada yang aneh dengan roti bakar isi selai. Ayahnya juga sering membuat ini sebelumnya dan berkata jika seseorang dulu menyukai makanan tersebut. sekarang dia ingat jika ibu Xiu Jimei adalah mantan pacar ayahnya di masa lalu. Apa yang tidak disukai ibunya Xiu Jimei, Xuan Bing tidak mungkin jika tak mengetahuinya bukan?
Setelah makan roti bakar, mereka memutuskan untuk membangun tenda dan berkemah.
Pada malam harinya, Xiu Jimei, Wang Xuyue, Kin Wenqian dan Xuan Xing berada dalam satu tenda. Xiu Jimei tidur paling sisi dan sangat suka menyentuh dinding tenda yang dingin. Saat tertidur, Xiu Jimei kembali memimpikan semua adegan yang pernah dimimpikannya beberapa hari lalu.
Ini membuatnya terbangun dan menatap langit-langit tenda. Tuit Tuit keluar dengan wujud seekor burung kecil berwarna jingga kemerahan. Dia menyadari ketidaknyamanan tuannya. Xiu Jimei melihat ketiga temannya tertidur lelap. Agar tidak mengganggu mereka, Xiu Jimei menaburkan bubur bunga tidur.
“Tuan, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Tuit Tuit.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur,” jawabnya tidak bersemangat.
Xiu Jimei awalnya sudah mulai mengesampingkan mimpi aneh itu. Semua mimpi itu terasa sangat nyata baginya. Apakah dia dan Ming Zise akan dipisahkan suatu hari nanti?