
Yang lain menggelengkan kepala. Tapi sedikit menebak. Tiga kelompok saja bahkan diminta untuk membangunkan Jin Long dan mengambil sisik serta darahnya. Kelompok lain ... bisakah lebih menyedihkan atau lebih ringan?
Mereka tidak tahu jika para murid di kelompok lain tak lebih baik. Nasib mereka menentukan hasil ujian kelompok.
Kelompok yang bercampur dengan ras hantu saja tidak berdaya. Mei Rong, Fan Li dan Mi Sai contohnya. Ketiganya tidak beruntung semenjak mendapatkan misi untuk mendapatkan telur ular di sebuah pegunungan.
Ini bukan sejenis telur biasa, tapi telur dari ular roh yang sangat membenci manusia. Meski Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong bukan manusia, tapi ketiganya membentuk wujud manusia. Siapa yang tahu, ular itu bahkan tidak peduli.
Ular gunung roh tinggal dia sebuah gua gunung tidak aktif. Biasanya suka berburu di malam hari dan menjaga sarang saat pagi tiba.
Tapi kali ini, kelompok Mei Rong tidak beruntung. Saat ketiganya keluar dari gua gunung tersebut, ular roh gunung mengejarnya. Semuanya panik dan melarikan diri sebelum berhasil menemukan telurnya.
Mi Sai yang paling bertubuh kecil di antara yang lain. Dia menggendong boneka kanibalnya dan mulai berpikir.
"Kalian alihkan perhatian ular itu dan aku akan mencoba mengambil telurnya," kata Mi Sai pada yang lain.
Tak peduli apakah dirinya adalah ras hantu yang membenci ras lainnya. Tapi kali ini mereka bekerja sama untuk membuat tugas ujian berhasil. Jadi semua permusuhan atau ketidaksukaan dikesampingkan lebih dulu.
Yang lain segera bekerja sama, membiarkan ular roh gunung itu tidak lagi memedulikan sarang. Di saat ular itu sibuk dengan para manusia yang berani memasuki wilayahnya, Mi Sai sudah menyelinap ke gua ulat itu.
"Manusia, kalian berani datang ke sini untuk mencari kematian! Aku pasti akan membunuh kalian," kata ular roh gunung seraya menghitung jumlah orang yang datang. "Satu, dua, tiga ... lima ... sepuluh ... enam belas ...?"
Ular roh gunung itu menyipitkan mata, menatap mereka waspada. Rasanya ada yang hilang satu.
__ADS_1
"Ke mana perginya anak kecil yang membawa boneka jelek itu?!" Makhluk melata bersisik hijau itu membelalakkan mata. Jangan-jangan ....
Ulat roh gunung melihat ke arah gua. Kemungkinan Mi Sai sudah masuk ke sana tapi ulat roh gunung masih tenang.
"Huh! Cari mati sendiri!" ejeknya.
Yang lain memiliki firasat buruk. Mungkinkah ada sesuatu di dalam gua yang membuat ular roh gunung tidak panik sama sekali. Meraka berkeringat dingin namun tidak memiliki kesempatan untuk berpikir lebih jauh. Meraka harus menghadapi ular roh gunung yang sangat agresif tersebut.
Fan Li juga kelelahan. Dia sudah meniup seruling giok ilusi pelahap jiwa nya untuk membuat ular itu pingsan. Tapi tidak berhasil. Dia tidak tahu sudah berada di tingkat mana kultivasi ular tersebut. Yang pasti tidak kecil.
"Ular hijau ini sungguh sulit untuk ditaklukkan. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Mei Rong.
"Cekik dia sampai mati," kata Fan Li sudah kesal.
"..." Tugas macam apa ini?
Meninggalkan dua kelompok yang sedang melawan ular roh gunung, saat ini kepada Mi Sai belum diketahui.
Di dalam gua besar, Mi Sai menggunakan obor untuk melihat sekeliling. Lalu pergi ke tempat di mana telur ular roh gunung itu itu berada.
Ular roh gunung biasanya bertelur hanya tiga buah saja setiap masa kawin. Kadang tidak ada yang berhasil menetas atau mungkin dimakan binatang roh lain yang lebih kuat. Tapi yang pasti, keberadaan ular roh gunung sangat jarang di Dunia Langit saat ini.
"Di mana ular jelek itu menyimpan telurnya?" Mi Sai mengerutkan kening, melihat cabang gua yang sedikit dingin dan mencekam, Mi Sai sedikit takut.
__ADS_1
Dia langsung menggunakan bonekanya untuk menuntun jalan. Melalui mata boneka kanibalnya, Mi Sai bisa melihat apa yang ada di depan.
Hingga akhirnya, dia tiba di sebuah ruangan yang sangat luas dan agak hangat. Dan menemukan tiga telur di tengah-tengah ruang gua gunung.
"Itu dia!" Mi Sai berbinar dan segera waspada. Setelah memastikan jika tidak ada bahaya apapun, dia mendekati ketiga telur ular roh gunung.
Telur ular roh gunung setidaknya memiliki tinggi lebih dari 23 inchi. Lumayan berat dan memiliki cangkang yang kokoh.
Mi Sai mengambil salah satu telur ular tersebut. Tanpa diketahui, seekor ular hijau tua diam-diam merayap dari pintu masuk ruang gua dan menatap Mi Sai.
Kali ini, Mi Sai merasakan kehadiran sosok lain selain dirinya di sana. Mau tidak mau menoleh ke belakang dan melihat seekor ular hijau tua yang penuh permusuhan padanya saat ini.
"..." Ini bukan ular yang tadi, batin Mi Sai. Dia tidak tahu jika ular tadi berpasangan.
Ular roh gunung berwarna hijau tua akhirnya menyipitkan mata. "Hantu Kecil, kamu mau membawa anakku ke mana?" tanyanya datar tapi dingin.
"..." Mi Sai terkekeh dan pura-pura hanya menyentuh telur dengan tangan kosong. Lalu dia menatap boneka kanibalnya.
Boneka kanibal yang diberi perintah melalui telepati, akhirnya menelan salah satu telur ular. Mi Sai juga memeluk satu telur dan langsung melarikannya diri.
"Aku pinta telur istrimu!" teriak Mi Sai langsung membuat ular roh gunung berwarna hijau tua marah.
"Dasar pencuri!"
__ADS_1