Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Penghuni Baru, Bunga Mawar Putih Kanibal


__ADS_3

Ming Zise memberikan kunci gudang Istana Minglan. Dia juga berkata bahwa kunci cadangan ada pada kepala pelayan. Setelah mendapatkan bunga pohon keabadian, Ming Zise meminta kepala pelayan kepercayaan untuk mengantar Xiu Jimei ke gudang harta istananya.


Setelah itu, Ming Zise pergi lagi entah ke mana. Xiu Jimei kali ini tidak peduli dengannya. Setelah mengontrak bunga mawar putih kanibal, dia menempatkan bunga itu di ruang spiritual bawaan.


Kepala pelayan yang selalu disebut Butler Meng tampak sopan pada Xiu Jimei.


"Butler Meng, kenapa Ming Ming membutuhkan bunga itu?" tanya Xiu Jimei penasaran.


"Apakah tuan tidak mengatakan sesuatu tentang kultivasi nya?"


Melihat Butler Meng yang terkejut, Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Dia hanya menyentuh bunga itu beberapa hari yang lalu, lalu meminta bunga itu dariku. Dia tidak menjelaskan apapun."


Butler Meng akhirnya mengerti. Tuannya mungkin tidak ingin sang putri ini khawatir. Tapi dia malah menjelaskan secara singkat.


"Tuan telah berada di periode macet kultivasi sejak seribu tahun lalu."


"Apa alasannya?"


Butler Meng menggelengkan kepala. "Pelayan Tua ini juga tidak tahu. Tapi kemungkinan besar karena tuan telah banyak bertarung demi melindungi Alam Para Dewa di masa lalu."


Meskipun pada akhirnya, setelah peperangan dengan Alam Neraka berakhir, Ming Zise melukai tubuhnya. Mau tidak mau hanya bisa tertidur panjang untuk memperbaiki tubuhnya.


Akhirnya Xiu Jimei tahu kenapa Ming Zise menginginkan bunga itu. Kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal? Apakah khawatir akan malu di depannya?


Untuk masalah ini, Xiu Jimei mengesampingkannya lebih dulu dan pergi ke gudang harta.


"Ming Ming berkata aku bisa mengambil beberapa pil kultivasi dari gudang istana sebagai bayarannya."


Butler Meng tersenyum mengerti. "Ternyata seperti itu. Kalau begitu, Pelayan Tua ini akan membantu Putri untuk memilihnya."


Xiu Jimei mengangguk. Dia yakin Butler Meng juga tahu banyak tentang isi gudang harta di sini.


......................


Adapun di ruang spiritual bawaan Xiu Jimei saat ini ....

__ADS_1


Ketika bunga mawar putih kanibal dilempar ke ruang spiritual tersebut, Tuit Tuit dan harimau putih roh kuno sudah mengetahuinya. Tapi keduanya masih berhati-hati untuk mendekati bunga mawar putih yang tingginya tak lebih dari dua puluh inchi.


Bunga mawar putih kanibal itu akhirnya mencari lokasi yang nyaman untuk mengubur akarnya.


"Bunga jelek, apakah kamu benar-benar salah satu peliharaan Dewi Tanaman?" Tuit Tuit masih curiga.


Bunga mawar putih kanibal tidak bisa bicara. Tapi dia mengerti apa yang dikatakan Tuit Tuit. Daun-daunnya bergerak sedikit lalu kelopaknya mekar dan menyemprotkan serbuk sari pada Tuit Tuit yang terbang di depannya.


Tuit Tuit bersin beberapa kali dan dia memarahi bunga itu. "Jangan sombong!"


Tiba-tiba saja bunga mawar putih kanibal mengubah ukurannya sedikit lebih besar dan mencaplok Tuit Tuit tanpa kesulitan.


"...?!" Harimau putih roh kuno terkejut dan dia sangat khawatir.


Bunga mawar putih kanibal yang menguncup itu merasakan perlawanan di dalam ruang bunga. Tak lama setelah itu, dia memuntahkan Tuit Tuit dan batuk seolah-olah jijik.


Tuit Tuit yang dimuntahkan dipenuhi oleh serbuk sari. "Beraninya kamu memakan leluhur ini! Kamu tidak tahu siapa aku kan?!!" teriaknya.


"Berhentilah berteriak. Berapa usiamu? Tidakkah kamu malu?"


Harimau putih roh kuno menggunakan salah satu kaki depannya untuk menahan ekor Tuit Tuit ke tanah. Dengan begitu, burung itu tidak bisa terbang atau berjalan untuk melawan bunga mawar putih kanibal.


Bunga mawar putih kanibal tidak peduli. Setelah memulihkan ukuran tubuhnya menjadi kecil, dia mengabaikan mereka dan pura-pura mati.


"..." Tuit Tuit yang diabaikan sangat marah hingga dia berkicau sepanjang waktu.


Keempat makhluk suci ilahi kuno yang merasa terganggu mau tidak mau mengambil tindakan. Terutama Bluewy. Pria jelmaan burung phoenix es itu langsung mengurung Tuit Tuit di sangkar emas besar dan biarkan dia mengoceh sebanyak yang diinginkannya. Tapi suaranya tidak akan bocor ke luar kandang.


"Apakah ini baik-baik saja?" tanya harimau putih roh kuno yang melihat Tuit Tuit mencak-mencak di dalam kandang.


Bluewy tersenyum dan duduk seraya bersiap untuk meniup seruling nya. "Tidak apa-apa. Dia akan tenang sendiri nanti dan sadar jika dirinya ada di dalam kandang."


Bluewy terkekeh.


"..." Harimau putih roh kuno pura-pura tidak tahu apa yang terjadi hari ini. Dia kembali rebahan di bawah pohon mangga favoritnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di gudang harta Istana Minglan, Xiu Jimei selesai memilih beberapa pil kultivasi untuk teman-temannya. Semua pil itu ternyata dibuat oleh Dewa Obat atau kadang hadiah dai dewa-dewi lainnya.


Ming Zise menyimpan semua itu untuk waktu yang dibutuhkan di masa depan. Tapi tidak tahu jika itu akan berguna sekarang.


Meski pilnya tidak banyak namun semuanya berkualitas baik. Butler Meng sedikit enggan awalnya karena pil-pil itu berada di kotak kesayangan Ming Zise.


Jika tuannya tahu bahwa sang putri mengambil pil-pil berharga itu, apakah akan marah padanya?


"Butler Meng, aku akan pergi dulu. Terima kasih sudah membantuku memilih pil yang bagus." Xiu Jimei tersenyum lalu meninggalkan gudang harta dengan perasaan senang.


"..." Butler Meng sedikit tidak berdaya. Baiklah, apakah ini salahnya karena membantu mencari pil yang lebih baik?


Butler Meng yang sudah tua ingin menangis tapi tidak memiliki air mata untuk ditumpahkan.


Saat ini, Xiu Jimei pergi ke Dunia Langit untuk memberikan pil-pil tersebut pada teman-temannya.


Beberapa kemudian, Xiu Jimei belum kembali ke Alam Para Dewa. Tapi Ming Zise pulang setelah meminta Dewa Obat untuk mengekstrak bunga pohon keabadian menjadi pil kultivasi untuknya.


Saat tiba di Istana Minglan, tampaknya terlalu sepi. Butler Meng sedikit khawatir awalnya karena sang putri belum kembali. Tapi melihat tuannya pulang, dia sedikit menghela napas.


"Tuan ...," sapanya.


"Di mana Mei'er?" Ming Zise menaikkan sebela alisnya.


"Ini ... Semenjak sang putri memilih pil dari gudang harta, dia pergi ke Dunia Langit. Tapi belum kembali hingga saat ini. Tuan, apakah sang putri baik-baik saja?"


Ming Zise tidak langsung menjawab. "Dia baik-baik saja saat ini. Pil apa yang dia ambil dari gudang?"


"Masalah ini, Pelayan Tua ini memohon ampun pada Tuan. Sang putri mengambil pil-pil dalam kotak khusus yang selalu disimpan oleh Tuan ...."


"Oh?" Ming Zise tersenyum. Dia tidak marah sama sekali. "Seperti biasa, Mei'er memang tahu barang mana yang paling berharga dan mahal."


"..." Apakah Tuan memuji sang putri?

__ADS_1


"Karena dia mengambilnya, maka biarkan saja. Lagi pula pil-pil itu tidak akan berguna lagi bagiku. Semua hartaku adalah milik Mei'er, jadi biarkan dia mengambil apapun dari sana."


"Ya, Tuan." Butler Meng menghela napas lega. Tuan sangat memanjakan sang putri. Dia hanya berharap jika sang putri bisa melihat kebaikan tuannya di masa depan.


__ADS_2