
Di ruang spiritual bawaan Xiu Jimei.
Whitely telah memulihkan diri dengan sangat baik. Bluewy, Blacky dan Reddish bergantian menjaganya. Harimau putih roh kuno yang sudah terbiasa dengan keberadaan mereka akhirnya hanya bisa rebahan di bawah pohon manga yang sedang berbuah matang.
Harimau putih roh kuno menguap dan berniat untuk tidur. Tiba-tiba saja mangga yang matang jatuh di atas kepalanya. Dia mengaum rendah. Lalu terdengar kicauan Tuit Tuit. Harimau putih menengadah dan melihat burung jingga kemerahan berada di salah satu ranting pohon mangga.
“Apakah kamu yang menjatuhkan mangga di atas kepalaku?” tanyanya.
Tuit Tuit sepertinya tidak sengaja menginjak ranting terlalu kuat tadi. “Aku tidak sengaja. Lagi pula, mangga-mangga di pohon ini sudah matang. Kenapa tuan tidak datang untuk memetiknya?”
“Mana aku tahu. Lagi pula aku tidak suka mangga.”
Tuit Tuit akhirnya menghampiri mangga yang tadi menimpa kepala harimau putih roh kuno. Kulit mangga berwarna kuning kejinggaan dan sedikit merah itu menguarkan aroma yang sangat harum. Dia seketika ingin mencoba makan buah mangga.
“Tidakkah kamu menyadari jika warna mangga ini sama seperti bulumu?” Harimau putih roh kuno bercanda dengannya.
“Kamu benar. Jadi tentu saja ini pasti enak.”
“He he he … Kupikir kamu juga pasti enak jika dipanggang.”
Seketika, Tuit Tuit langsung menyerangnya dengan cakaran dan patukan. Harimau putih roh kuno tidak berdaya dan kini hidungnya sedikit mengeluarkan darah karena dicakar burung itu.
“…” Harimau putih roh kuno tidak akan berani untuk menggodanya lagi.
Tuit Tuit yang kesal akhirnya mengalihkan perhatiannya pada mangga matang. Dia mematuknya beberapa kali untuk mencoba daging buahnya. Ternyata rasanya sangat manis. Ini semanis madu. Karena enak, Tuit Tuit hampir memakan semua daging buahnya.
Setelah kenyang, dia langsung terkapar di rumput hijau dengan perut membulat.
“Mangga itu enak sekali! Kamu menyesal tidak mencobanya,” kata Tuit Tuit.
Harimau putih roh kuno tidak tertarik sama sekali selain mencoba daging.
Di saat keduanya mengobrol ringan, Bluewy yang sudah mendengar suara dua binatang roh itu bicara pun penasaran. Sejak awal dia hanya tahu jika harimau putih roh kuno ada di ruang spiritual bawaan Xiu Jimei sebagai tunggangan. Tapi dia belum mengenal secara pasti tentang Tuit Tuit.
__ADS_1
Ketika melihat Tuit Tuit, Bluewy mengerutkan kening. Burung kecil itu juga melihat Bluewy. Lalu Tuit Tuit tiba-tiba saja memakinya.
“Kamu phoenix es yang buta akan kecantikan. Bisakah kamu memainkan seruling untukku? Aku sangat merindukan suara serulingmu.” Tuit Tuit tidak menyadari jika saat ini dia sedikit mabuk.
Siapa yang menyangka jika mangga yang sangat enak itu memiliki kandungan alkohol. Ini sungguh tidak biasa.
Saat Bluewy mendengar suara dan nada bicaranya, dia tiba-tiba saja tertegun. Sepertinya dia mulai mengingat pihak lain yang dulu pernah mengatakan hal serupa. Dan itu phoenix api suci roh kuno, Ziyura. Sementara Ziyura sendiri adalah wanita tak tahu malu yang sombong dan tak tahu malu.
Bluewy seketika berwajah gelap dan mencibir. “Ternyata itu kamu, Ziyura. Bagaimana bisa kamu menjadi seperti ini? Semakin lemah setelah dilahirkan kembali dari api?”
Tuit Tuit berkicau nyaring. “Jangan sembarangan bicara! Itu karena sebelumnya aku belum waktunya untuk menetas. Siapa yang tahu gunung api tempatku berkultivasi akan meletus. Jika bukan gadis itu membawaku, aku mungkin sudah jadi telur panggang!”
Bukan hanya itu, Tuit Tuit bahkan berguling ke kanan dan ke kiri seperti sedang dianiaya. “Lan Lan … kamu sangat jahat. Aku menghabiskan ratusan tahun kultivasi tapi hanya berakhir menjadi burung kecil yang lemah,” tangisnya tampak palsu.
Ekspresi Bluewy bahkan lebih jelek. Dia benar-benar tidak ingin mengenali burung phoenix betina yang suka berakting ini.
Tangisan Tuit Tuit langsung menarik perhatian Reddish dan Blacky. Keduanya mengira jika Bluewy baru saja melecehkan seekor burung kecil.
“Maaf, tapi aku ini seekor burung, bukan manusia.” Sudut mulut Bluewy berkedut. “Lagi pula, burung kecil ini … kamu pasti merasa familiar. Tebak siapa dia?”
“…” Blacky dan Reddish mengerutkan kening dan melihat burung jingga kemerahan yang baru saja berhenti pura-pura menangis.
Tuit Tuit akhirnya memarahi mereka juga. “Kalian hitam dan merah, apakah kalian merindukanku?”
“…” Reddish sedikit berpikir.
“Apakah kamu Ziyura?” Blacky langsung menebak.
Tuit Tuit memujinya. “Ular kecil, kamu memiliki ingatan yang sangat baik.”
“…” Maksudmu, aku ini bodoh? Reddish tidak bisa berkata-kata. Ternyata burung kecil itu Ziyura.
Bagi Blacky dan Reddish, keberadaan Ziyura saat ini tidak menjadi masalah sama sekali. Tapi berbeda demgan Bluewy yang sangat tidak mengharapkan pertemuan ini. Dia tidak menginginkannya. Sepertinya di masa depan akan banyak drama terjadi.
__ADS_1
Blacky dan Reddish sangat menantikannya saat melirik Bluewy dan Tuit Tuit bergantian. Lalu terkekeh. Tak lama, mereka mendengar suara batuk Whitely.
Sosok Whitely yang ada di sofa empuk di wilayahnya sendiri tak sengaja mendengar suara keributan. “Apa yang terjadi di sana?” tanyanya.
Wajahnya sedikit pucat. Dia belum sembuh total tapi energi spiritualnya masih belum sepenuhnya terkumpul di dantian. Blacky, Bluewy dan Reddish kembali ke sisi Whitley.
“Kamu mungkin tidak akan menyangka. Ziyura sudah kembali!” Blacky memberitahunya.
“Aku tahu.” Whitely batuk kecil lagi.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Tentu saja semenjak anak majikan mengontrak burung kecil itu. Jangan lupa, ruang spiritual ini mengandung aura pelindungku. Tentu saja aku akan tahu apa yang terjadi di sini.”
“…” Membuat iri saja.
Tuit Tuit ingin pergi ke sana tapi tidak mampu terbang karena kekenyangan. Dia meminta harimau putih roh kuno membawanya ke sana. Tanpa diduga, harimau putih roh kuno mengaitkan kaki Tuit Tuit di antara celah giginya dan pergi ke arah yang dimaksud.
“Kamu sungguh tidak berperasaan. Cepat turunkan aku. Rasanya aku mau muntah.” Tuit Tuit yang digantung terbalik bergerak ke kanan dan kiri, mengakibatkan kepalanya pusing.
Setelah tiba di situs Whitely, Harimau putih roh kuno menjatuhkannya. Tuit Tuit berteriak kesakitan. Dia merasa lehernya akan patah saat ini.
“Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan. Tidak bisakah kamu menggunakan cara lain untuk membawaku selain dengan mulut?” Tuit Tuit bangun dan ingin mencakar wajah harimau jelek itu lagi.
Harimau putih roh kuno tampak tidak bersalah. Dia menunjukkan cakar-cakar setajam pisau di salah satu kaki depannya.
“Oh, aku khawatirkan kuku-kuku tajamku akan memotong bulu kecilmu menjadi beberapa bagian. Masih untung menggantung kaki kecilmu di celah gigiku.”
Cakar-cakarnya yang tajam langsung membuat Tuit Tuit sedikit merinding.
“Tidak, tidak masalah. Aku lebih suka digantung.” Suara Tuit Tuit menjadi kecil saat ini.
Blacky, Bluewy dan Reddish memiliki firasat jika di masa depan, harimau putih roh kuno bisa dijadikan target untuk memberi pelajaran pada Tuit Tuit.
__ADS_1