Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Keberadaan Ning Siyu


__ADS_3

Ning Siyu mengerutkan kening. Dia tahu ini tapi dirinya sudah tidak tahan. Tapi siapa yang tahu jika Mi Sai, Fan Li dan Mei Rong begitu tidak dapat diandalkan. Untuk masalah seperti ini saja tidak bisa.


Dia hanya meminta untuk mengacaukan Dunia Langit lalu kembali terlebih dahulu. Kenapa harus bertarung dengan mereka.


Sudah jelas kultivator ranah kekosongan masih bisa diatasi. Tapi berbeda jika sudah menghadapi Xiu Jimei serta saudaranya. Ditambah lagi menurut laporan anak buahnya, dua kaisar bunga roh kuno ikut campur.


"Kamu berkata, apakah anak kecil yang selalu berada di sisi Dewa Pencipta Alam Para Dewa tampak tidak biasa?" tanyanya mengubah topik pembicaraan.


"Ya."


"Apakah kamu tahu apa identitas aslinya?"


Dewa Bencana menggelengkan kepala. "Dia terlihat seperti anak pada umumnya."


"Aku tidak percaya! Kamu harus perhatikan dia lebih sering."


"Bagaimana kamu bisa yakin?" Dewa Bencana tersenyum acuh tak acuh.


"Insting seorang wanita tidak pernah salah," celetuknya.


"..." Apakah wanita begitu mengerikan di waktu-waktu tertentu?


Dewa Bencana tidak mengatakan apa-apa lagi tapi dia sudah diam-diam merencanakan ini. Anak kecil di samping Dewa Pencipta Alam Para Dewa memang tidak biasa. Dia harus waspada di setiap kesempatan. Dewa Bencana segera meninggalkan gua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Ning Siyu sudah terbiasa dengan kebisuannya. Dia hanya bisa menahan diri lagi dan lagi. Jika terus seperti ini, dia sendiri yang harus turun tangan.


Tapi di saat dia sedang memikirkan rencana lebih lanjut. Sosok anak kecil tiba-tiba muncul di mulut gua dengan senyum menawan yang polos.


“Kakak Cantik, ternyata kamu ada di sini,” kata Yuu.


Ning Siyu membelalakkan matanya dan segera waspada saat melihat Yuu yang tidak tahu sejak kapan datang. Tiba-tiba saja dia merasa jika anak kecil itu terlihat mengerikan di matanya.

__ADS_1


“Kamu! Bagaimana kamu bisa ada di sini?!” Ning Siyu setengah berteriak. Dia ingin memanggil Dewa Bencana kembali tapi entah kenapa suasana di sekitarnya menjadi aneh.


Tidak mungkin disebabkan oleh anak laki-laki yang memiliki penampilan berusia tujuh tahunan. Tapi dia tahu usia Yuu tidak sekecil itu. Belum lagi ada di sisi Dewa Pencipta Alam Para Dewa cukup lama tanpa diketahui siapapun, bukankah itu aneh?


Yuu tersenyum dan tidak langsung menjawab pertanyaan Ning Siyu yang penuh keingintahuan. Dia melihat gua yang selama ini menjadi tempat persembunyian wanita itu.


“Sepertinya kamu sudah terbiasa tinggal di sini,” katanya.


Ning Siyu menyipitkan mata dan dia tidak bersantai sama sekali. “Kenapa kamu tahu aku ada di sini?” tanyanya lagi. Dia khawatir jika selama beberapa waktu ini keberadaannya sudah diketahui oleh dewa lain.


“Oh, bagaimana menurutmu?” Suara Yuu yang polos seperti anak kebanyakan tidak membuat Ning Siyu percaya sama sekali. Akhirnya Yuu tertawa ringan. “Aku tahu kamu di sini tentu saja karena energi spiritual yang ada di alam ini. Di mana pun kamu berada, aku akan selalu tahu.”


“Tidak mungkin!” Ning Siyu sama sekali tidak percaya ada kemampuan seperti itu, kecuali jika sosok Yuu di depannya ini masih ada hubungannya dengan pohon keabadian.


Hanya pohon keabadian yang memiliki kemampuan untuk mengetahui keberadaan semua makhluk di Alam Para Dewa. Setidaknya selama mereka berkultivasi mengandalkan aura spiritual yang terkandung pada pohon keabadian. Mungkinkah Yuu ini salah satu elemen penting pohon keabadian.


Sebagai ratu Alam Neraka, Ning Siyu telah melihat banyak makhluk selain dewa dan manusia fana. Dia bisa tahu apakah mereka merupakan manusia langit, manusia dewa atau pun elemen roh tertentu. Seperti jelmaan tanaman roh, binatang roh ataupun jenis yang lain.


“Apakah kamu tanaman roh?” tebaknya.


Yuu terkekeh dan tampak senang saat Ning Siyu mampu menebaknya.


“Benar-benar Ratu Alam Neraka. Tidak pernah salah menebak,” jawabnya. Suara kekanak-kanakan Yuu berubah menjadi pria dewasa.


Ning Siyu mengecilkan pupil matanya. Suara ini sepertinya tidak terlalu asing. Lalu dia teringat dengan kejadian saat perang Alam Neraka dengan Alam Para Dewa di masa lalu. Dulu dia mencoba untuk merebut pohon keabadian dari akar Alam Para Dewa. Tapi gagal.


Dia ingat jika pohon keabadian pernah bicara layaknya manusia yang memiliki kesadaran. Walaupun tidak terlalu banyak kata, Ning Siyu tidak pernah lupa dengan suaranya. Semenjak saat itu, pohon keabadian tidak pernah lagi bersuara. Justru semakin melemah.


“Kamu— kamu …!” Ning Siyu akhirnya memiliki tebakan kasar. “Pohon keabadian!!” geramnya.


Yuu tertawa sebentar sebelum akhirnya bicara lagi. "Ya, ini memang aku. Apakah kamu terkejut?" tanyanya.

__ADS_1


Ning Siyu menggertakkan giginya. "Pohon keabadian! Siapa yang menyangka jika kamu akan memiliki wujud ini. Sejak kapan kamu tahu aku di sini?"


Dia juga penasaran. Bagaimana bisa pohon keabadian tumbuh menjadi lebih kuat. Tidak ada informasi yang akurat mengenai ini sehingga Ning Siyu sudah lama tidak ingin menggalinya lagi.


Tapi melihat Yuu yang tampak sombong saat menemukannya, Ning Siyu tahu jika dirinya tak bisa lagi berada di gua ini. Dia harus segera melarikan diri. Mungkinkah Yuu juga tahu tentang rencananya bersama Dewa Bencana?


"Aku tahu kamu di sini semenjak berubah menjadi sosok ini."


"Lalu kenapa kamu tidak langsung datang padaku?" Ning Siyu mengerutkan kening.


"Tentu saja karena aku ingin tahu seberapa tahan kamu berada di sini."


Yuu tidak menyebutkan konspirasinya dengan Dewa Bencana. Sudah cukup baginya untuk berurusan dengan Ning Siyu lebih dulu. Dia segera mengubah tubuh menjadi tanaman merambat yang cukup tebal dan kokoh lalu menyerang Ning Siyu.


Wanita itu menghindar. Tapi pertarungan di dalam gua tidak akan berjalan mulus. Di sisi lain, Ning Siyu tak bisa meninggalkan gua ini karena hanya di sinilah dia menyegel auranya agar tidak bocor. Namun jika Yuu menyudutkannya, mau tidak mau dia harus pergi dari tempat ini.


"Kamu tampak menjadi tua sekarang. Apakah kemampuanmu melemah?" ejek Yuu.


Ning Siyu menggertakkan gigi. Semua ini gara-gara dia tidak mengambil mangsa lagi. Tentu saja wajahnya akan segera menua. Dia harus segera meninggalkan tempat ini untuk mencari tempat yang aman lebih dulu.


Menghadapi sulur-sulur hijau yang ditumbuhkan Yuu, Ning Siyu segera menggunakan kekuatannya untuk memblokir dan menyerang balik. Lalu dia menyelinap keluar gua dan melarikan diri.


"Pengecut! Kenapa kamu lari lagi? Tidakkah kamu ingin menyerap semua energi spiritual pohon keabadian? Aku akan memberikannya padamu," jelas Yuu yang telah kembali ke wujud anak-anak.


Ning Siyu tentu saja tidak percaya. Meski dia ingin menyerap energi spiritual pohon keabadian, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Ditambah energi spiritual pohon keabadian dipenuhi oleh aura vitalitas asing yang tidak cocok dengan energi spiritual di tubuhnya.


Dulu tidak ada masalah seperti ini, tapi sekarang ... Ning Siyu ragu jika energi spiritual pohon keabadian telah bercampur dengan energi spiritual lain.


Ning Siyu mengubah tubuhnya menjadi asap hitam. "Ini belum berakhir! Tunggu pembalasanku!"


Lalu Ning Siyu segera menghilang dari pandangan Yuu.

__ADS_1


__ADS_2