Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Rencana Berkemah


__ADS_3

Secara kekeluargaan, Huang Fu Shi ini masih sepupuan dengan Jia Lishan. Ibunya Jia Lishan adalah Huang Fu Lin. Sedangkan Huang Fu Lin sendiri adalah adik kaisar saat ini—Huang Fu Jung.


"Aku sempat mampir ke kota terlebih dahulu dan bertemu dengannya. Dia bilang Xiaomei tidak pergi ke sekte hari ini dan memancing di danau."


"Memangnya kamu memberi tahu dia?" tanya Fu Yiyuan melirik gadis itu.


"Ya. Aku memintanya untuk datang nanti jika ingin bergabung." Xiu Jimei mengangguk lalu dia menatap Yan Yujie. "Kumpulkan kayu bakar untukku."


"..." Baru saja datang dan Yan Yujie sudah dipekerjakan.


"Jangan mengeluh di hatimu. Kakakku sedang pergi untuk berburu," imbuh gadis itu lagi.


Yan Yujie tidak menolak dan akhirnya pergi mencari kayu bakar. Mungkin ia bisa bertemu dengan Xiu Jikai di hutan. Sementara, ikan yang ditangkap sudah banyak. Xiu Jimei pergi ke sungai terdekat untuk membersihkan ikan. Dua bersaudara Fu masih memancing dan berharap mendapatkan ikan yang besar.


"Kenapa kalian tidak mencari udang saja. Seharusnya ada udang di sungai." Xiu Jimei memikirkan bendungan air sungai. Biasanya ada udang di sana. Tapi kebanyakan udang aktif di malam hari. "Lupakan saja, kalian memancing di sini."


"..." Fu Yanchi dan Fu Yiyuan masih memegang pancingan yang umpannya tidak dimakan ikan sama sekali.


Setelah gadis itu pergi, keduanya saling melirik. Keberuntungan Xiu Jimei selalu bagus. Tapi kenapa tidak menular pada mereka? Ini tidak adil bukan?


Xiu Jimei pergi ke sungai, membersihkan perut ikan dan sisiknya. Lalu mencuci beberapa bahan pelengkap lainnya. Kali ini, mereka berkemah, tentu saja bukan sedikit bahan yang dibutuhkan. Mereka juga akan makan daging ayam serta sayuran.


Tuit Tuit keluar dari ruang spiritual dan berubah menjadi seorang anak berusia lima tahun. Pada usia ini, seharusnya orangtua tidak mengizinkan anak-anak pergi ke sungai. Namun Tuit Tuit adalah binatang suci ilahi kuno, reinkarnasi dari dewa binatang di masa lalu.


"Tuan, apakah kamu ingin menangkap udang?" tanyanya.


"Jika kamu mampu melakukannya, lakukan saja. Aku akan pergi dulu." Xiu Jimei tidak peduli padanya dan meninggalkan sungai setelah membersihkan ikan.


"..."


Tuit Tuit yang ditinggal sendirian segera menatap bendungan sungai yang agak dalam. Menangkap udang tampaknya tidak sulit. Dia langsung mengeluarkan perangkap yang entah dari mana asalnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yan Yujie telah mengumpulkan kayu bakar. Dia menemukan Xiu Jikai tengah berburu beberapa ayam hutan dan kelinci. Laki-laki itu menarik tali busur dan bersiap untuk membidik seekor kelinci yang tengah bersantai di bawah pohon.


"Adik sepupu!" teriak Yan Yujie tiba-tiba.


Xiu Jikai hampir saja melepaskan anak panah dan kelinci itu kabut ketika mendengar suara teriakan Yan Yujie.

__ADS_1


"..." Orang yang ditakdirkan sial sepanjang hidupnya muncul entah dari mana.


Yan Yujie tidak tahu jika Xiu Jikai baru saja kehilangan mangsa empuknya. Dia menghampirinya sambil membawa banyak kayu bakar.


Percuma kesal hanya karena seekor kelinci. Xiu Jikai menurunkan busur dan menghela napas tidak berdaya. Ia melirik Yan Yujie.


"Kenapa kamu di sini?" tanyanya.


"Oh, aku hanya datang dan mampir untuk membahas ujian spiritual gabungan itu."


Xiu Jikai tidak menjawab. Dia mencoba untuk mencari mangsa lain. Yan Yujie melihat ada beberapa ekor kelinci dan ayam hutan gemuk berhasil diburu oleh adik sepupunya. Xiu Jimei harus senang saat melihat ini.


"Xiaokai, aku baru saja melihat sarang lebah madu tak jauh dari sini. Apakah kamu mau mengambilnya?"


"Lebah madu?"


Xiu Jikai menaikkan sebelah alisnya dan berpikir. Xiu Jimei tidak kekurangan lebah madu tapi mungkin tidak masalah jika mengumpulkannya lebih banyak.


"Ayo pergi dan lihat."


Hasil buruannya sudah lumayan banyak. Belum lagi ada ikan dan makanan lainnya nanti, seharusnya cukup untuk semua orang. Suara serangga dan burung berkicau menemani keduanya saat menjelajahi hutan.


"Lihat di sana." Yan Yujie menunjuk sebuah pohon besar yang sangat tinggi. Ada sarang lebah madu di atasnya.


Suara ribuan lebah madu yang terbang di sekitar sarang membuat kepala Yan Yujie mati rasa. Dia tidak bisa melupakan hari di mana mengambil madu dari sarangnya langsung. Ia selalu sial di mana pun berada.


Tampaknya, lebah madu bisa mendeteksi keberadaan keduanya dan menjadi waspada. Bahkan saat Yan Yujie hanya menyentuh batang pohon, sebagian dari lebih madu itu mulai terbang lebih rendah, berjaga-jaga.


Apakah mereka sangat curiga? Yan Yujie sangat tidak berdaya.


"Sepertinya akan sulit untuk mengambil madunya," kata Xiu Jikai. "Jika Mei'er yang mengambilnya pasti tidak masalah."


"Kalau begitu ... haruskah kita memanggil Xiaomei?"


"Kita kembali dulu dan beri tahu dia. Jika dia ingin mengambilnya, biarkan ambil sendiri."


Setidaknya mereka sudah tahu di mana lebah madu ini berada. Pada akhirnya mereka hanya bisa kembali. Namun baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat itu, keduanya tercengang karena sekelompok lebah madu tiba-tiba saja mengejar mereka.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Kedua kaki Yan Yujie sedang lemas seketika.

__ADS_1


"Mungkin curiga jika kita akan kembali dan mengambil madu mereka."


"..." Ini tidak lucu. Sejak kapan lebah madu memiliki otak yang cerdas?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jimei sudah membumbui ikan dan membiarkannya dulu selama beberapa saat untuk marinasi. Lalu membuat potongan kecil pada daging ayam untuk dibuat sate. Huang Fu Shi dan Lei Mo baru saja datang beberapa saat yang lalu dan membantu gadis itu menyiapkan segalanya.


Fu Yanchi dan Fu Yiyuan menyerah untuk menangkap ikan. Keduanya memilih untuk mendirikan tenda. Sementara Tuit Tuit kembali dengan seember kecil udang besar.


"Gadis kecil, apakah kamu tidak tenggelam saat menangkap udang?" Lei Mo menggodanya.


Wajah Tuit Tuit sedikit merah. "Siapa yang kamu panggil anak kecil?! Aku lebih tua darimu!"


"Benarkah?" Lei Mo sepertinya lupa kapan pernah bertemu dengan Tuit Tuit. Namanya sedikit familiar. "Mungkinkah kamu benar-benar anak ayam berbulu itu?" tanyanya setengah berteriak.


Tuit Tuit hampir meledak di tempat. "Aku bukan anak ayam berbulu kuning! Dasar manusia! Aku ini phoenix!"


Kedua telinga Tuit Tuit mungkin bisa mengeluarkan asap kemarahan dan menatap Lei Mo dengan jijik.


Huang Fu Shi tidak terlalu peduli dengan pertengkaran keduanya. Xiu Jimei juga tidak menanggapi.


"Kamu berubah menjadi manusia. Apakah terbiasa?" tanyanya.


Tuit Tuit menenangkan diri. "Jangan khawatir, tidak jarang bagiku."


Tuit Tuit adalah dewa binatang di masa lalu. Mengambil wujud manusia tidak jarang baginya. Untungnya Lei Mo juga tidak mencari masalah lebih jauh dengan Tuit Tuit.


"Jika ada lobster, pasti enak jika dikukus dan dimakan dengan sambal pedas asam manis yang gurih dan segar dari perasaan jeruk nipis." Lei Mo tiba-tiba saja merindukan hasil tangkapan lain.


"Ini?" Xiu Jimei tiba-tiba saja mengeluarkan seekor lobster jumbo dari ruang spiritual bawaan.


Lei Mo terkejut dan hampir saja terjatuh dari tempat duduknya. Melihat lobster besar yang masih hidup, dia tidak bisa membayangkan.


"Dari mana kamu mendapatkan lobster itu?"


"Oh, saat pergi ke laut dan memancing ikan, aku tak sengaja menangkap beberapa lobster. Lalu besarkan saja."


"..." Sesederhana itu? Lei Mo masih tidak percaya. Ia khawatir jika ruang spiritual bawaan Xiu Jimei adalah wadah ternak ikan.

__ADS_1


__ADS_2