
Pelayan yang dipanggil Ming Zise segera datang. Mereka membawa Ning Siyu keluar dari ruangan tersebut dengan cara yang sopan. Bagaimana pun juga, Ning Siyu adalah Dewi Kecantikan. Tidak sopan jika membawanya secara kasar.
Tapi Ning Siyu tidak mau. Dia ingin tinggal di sini. Hanya saja penjagaan di Istana Minglan lebih ketat dan mereka tidak peduli. Akhirnya, Ning Siyu hanya bisa diusir keluar.
Ming Zise yang mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar melirik ke arah lain. Ada senyum di wajahnya.
"Mei'er, sejak kapan akan terus menonton di sana?" godanya.
Xiu Jimei melihat pemandangan di dalam menggunakan mata tembus pandang, wajahnya tiba-tiba saja memerah. Tapi dia masih marah dan tidak mau menghampiri Ming Zise.
Kali ini Xiu Jimei memilih untuk pergi dan merajuk. Tapi di mana Ming Zise membiarkannya pergi setelah berani datang ke Istana Minglan?
Ming Zise menghilang dari tempatnya dan muncul tiba-tiba di depan Xiu Jimei yang hendak melarikan diri. Gadis itu tidak siap untuk berhenti dan akhirnya menabrak dada bidangnya.
"Aduh!" Xiu Jimei mengelus hidungnya yang sedikit kesakitan dan menyadari jika Ming Zise sudah ada di depannya.
Pria itu meraih pinggang Xiu Jimei dan memeluknya. Tapi gadis itu tidak suka dan mendorongnya dengan keras.
"Jangan sentuh aku! Kamu kotor!" teriaknya.
Ming Zise tidak berdaya dan membawa gadis itu ke dalam istananya. Barulah saat itu Ming Zise melepaskannya.
"Apakah Mei'er cemburu?" tanya Ming Zise.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya? Kamu pasti sengaja menolaknya karena tahu aku datang bukan? Tapi hatimu masih tertuju padanya," keluh gadis itu. Ekspresi nya jelas menunjukkan dia sangat marah saat ini hingga rambutnya hampir berubah menjadi putih keperakan.
"Tidak. Sejak awal, Guru tidak berniat untuk menjadikannya selir," kata Ming Zise.
Sulit untuk membujuk seorang gadis, batinnya.
"Kamu berbohong padaku! Jelas tadi kamu terlihat ragu untuk menolak. Pasti kamu tahu aku bersembunyi dan menyaksikan semuanya jadi berpura-pura menolak. Tidak heran kamu pergi selama seminggu, ternyata memiliki hari yang baik dengan Dewi Kecantikan!" Xiu Jimei berteriak hingga pelayan saja mungkin bisa mendengarnya.
Para pelayan dan penjaga sudah tahu jika Ming Zise memiliki bintang phoenix. Kali ini bintang phoenix nya datang ke istana dan menangkap perselingkuhan tuannya. Tapi ini salah Ning Siyu yang tak tahu malu selalu datang mengganggu Ming Zise.
Seberapa marahnya Xiu Jimei yang menuduh tentang perselingkuhan, Ming Zise menanggapinya dengan tenang. Pria itu melepaskan jubah brokatnya yang sempat disentuh oleh Ning Siyu dan melemparkannya ke lantai.
"Baik, baik. Ini salah Guru. Mei'er jangan marah lagi. Guru bersumpah, tidak ada pemikiran untuk menjadikan Ning Siyu sebagai selir atau istri kedua. Hanya ada Mei'er. Guru hanya ingin tahu apa yang diinginkan pihak lain, jadi menahannya sebentar."
"Kamu bohong!" Suara Xiu Jimei sedikit lebih lembut saat ini setelah mendengar sumpahnya.
Melihatnya sedikit lebih tenang, Ming Zise memeluknya lagi dan mencium bibir lembutnya yang ranum. Ciumannya sedikit berapi-api. Tangan pria itu mulai tidak jujur.
"Apakah sekarang Mei'er percaya?" bisiknya.
Xiu Jimei memerah, jelas masih marah dan enggan.
"Karena Mei'er sudah datang ke sini, bagaimana jika tinggi selama beberapa hari lagi?"
__ADS_1
"Tidak, ujian belum selesai." Xiu Jimei langsung menolak.
"Mari kembali besok." Ming Zise tidak memaksanya lagi.
Xiu Jimei berkompromi. Dia akhirnya menyadari jika gaunnya sedikit berantakan saat ini karena ulah Ming Zise. Pria itu tidak melepaskannya dengan mudah dan membawanya ke tempat tidur.
"Kamu—" Xiu Jimei tidak menduga jika Ming Zise bahkan berani untuk menidurinya saat baru datang.
"Kenapa? Tidak lagi memanggil 'Guru'?" Ming Zise tersenyum menggoda, jelas mencobanya untuk menyenangkannya.
"Kenapa harus memanggilmu 'Guru'? Ning Siyu bahkan memanggilmu begitu dekat."
"Mei'er bahkan cemburu." Pria itu akhirnya menekan Xiu Jimei di bawahnya setelah pakaian keduanya dilepas.
Xiu Jimei sedikit mengerang karena gerakan tiba-tiba yang dilakukan Ming Zise. Wajahnya panas dan memerah bercampur malu. Ming Zise lebih bersemangat. Dia akhirnya mewujudkan keinginannya untuk menyentuh gadis itu di tempat tidurnya.
Tirai tempat tidur lepas dengan sendirinya dan menghalangi pemandangan indah dua orang di tempat tidur empuk beraroma bunga.
Xiu Jimei belum pernah tidur di tempat selembut ini sebelumnya. Hingga merasa nyaman dan ingin tidur. Tapi Ming Zise yang bergerak di atasnya membuat pikirannya berkabut tidak karuan. Dia bahkan tak bisa menahan suaranya.
Untuk waktu yang cukup lama, Ming Zise menyentuhnya dengan berbagai gaya. Melihat Xiu Jimei kelelahan setelah ledakan musim semi terakhir, Ming Zise tidak memaksanya lagi.
Gadis itu dengan cepat tertidur karena kelelahan meski tubuhnya berkeringat saat ini. Jelas bahwa tempat tidur nya sangat nyaman.
__ADS_1
Ming Zise terkekeh. Ranjangnya terbuat dari bahan khusus sehingga mampu membuat orang lain tidur pulas ketika berbaring selama beberapa saat saja.
Pria itu akhirnya bangkit dan membawa Xiu Jimei untuk membersihkan diri.