Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Akhir Dari Perang (1)


__ADS_3

Sebelum Ming Zise pergi, Xiu Jimei memberinya sedikit energi spiritual miliknya. Setidaknya ini bisa membuatnya bebas dari rasa khawatir. Ming Zise tidak menolak agar gadis itu lebih tenang. Ketika pria itu pergi, Xiu Jimei merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur.


Padahal dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Dunia Langit saat ini. Tentu saja perang masih berlanjut ....


Di Dunia Langit, kondisinya hampir distabilkan. Apa lagi di Istana Langit, Zhishu yang memimpin perang juga telah menyingkirkan lebih dari setengah pasukan Alam Neraka. Karena Ning Siyu dan Lu Zheng sibuk mengurus Alam Neraka sebelumnya, para jenderal tidak memiliki banyak perintah.


Ada pepatah mengatakan, tak ada raja yang memimpin maka pasukan kehilangan arah.


Adapun di Alam Neraka saat ini, Ming Zise kembali ke sisi Dewa Mimpi.


"Bagaimana?" tanya Dewa Mimpi.


"Kita selesaikan sesuai rencana cadangan. Karena Ning Siyu suka menggunakan array mimpi, maka gunakan itu untuk membunuhnya," jawab Ming Zise tidak ragu untuk mengakhiri perang lebih cepat.


"Kamu sungguh tidak berperasaan. Bagaimana pun, Ning Siyu telah menyimpan kasih sayang padamu." Dewa Mimpi tertawa ringan. Tapi segera, tubuhnya merinding. Dia tanpa sadar melihat Xiu Jichen menatapnya seperti ikan di talenan. "Maksudku, rasa suka Ning Siyu terlalu memalukan. Menghancurkan takdir pasangan, bukankah terlalu jahat?"


Dewa Mimpi mengubah nada bicaranya dan buru-buru mengoreksi. Dia lupa Xiu Jichen adalah calon ayah mertua Ming Zise. Bukankah dia mencari kematiannya sendiri?


Untungnya Xiu Jichen tidak mengkritiknya. Bahkan Ming Zise tidak tertarik dengan semua itu. Sehingga Dewa Mimpi kembali ke topik pembicaraan.


"Mudah untuk membuat Ning Siyu jatuh dalam mimpi indah hingga mati. Dia sangat tergila-gila denganmu. Buat dia bahagia dalam alam mimpi dan kemudian tarik jiwanya perlahan. Tapi tampaknya tidak akan berguna bagi Lu Zheng," jelasnya dengan ekspresi bermartabat.


Lu Zheng sebelumnya adalah dewa. Psikologis nya lebih kuat daripada Ning Siyu yang tergila-gila oleh cinta. Belum lagi, Lu Zheng sudah tahu sejak awal jika dirinya masuk alam mimpi. Dalam waktu dekat, mimpi mungkin akan segera pecah.


Hal ini diketahui karena Dewa Mimpi merasakan getaran array yang mulai melemah. Itu artinya, Lu Zheng tengah berusaha untuk keluar dari mimpi.

__ADS_1


Sementara Ning Siyu tampak damai. Mungkin sudah jatuh dalam mimpi indahnya sendiri. Dewa Mimpi akhirnya fokus ada Ning Siyu lebih dulu, melemparkan jimat mimpi indah tanpa akhir dan memperkuat efeknya.


Agar terlihat realistis dalam mimpi, Dewa Mimpi tak segan-segan menanam alur yang baik sehingga Ning Siyu percaya jika semuanya nyata.


"Pisahkan keduanya dan pindahkan Ning Siyu di suatu tempat. Dengan begitu, Lu Zheng tidak akan terfokus padanya." Dewa Mimpi mengelus dagunya.


"Lu Zheng tidak akan peduli padanya," kata Xiu Jichen.


"Memang."


Ning Siyu akhirnya ditempatkan di sebuah gua. Dewa Mimpi memasang array untuk mencegah aura Ning Siyu ditemukan oleh Lu Zheng. Dengan begitu, satu masalah terselesaikan.


Kurang dari satu jam, Ming Zise serta keduanya membunuh beberapa pasukan Alam Neraka. Terutama para petinggi Alam Neraka yang berpotensi berbahaya. Ini agak curang. Tapi dalam perang, curang atau tidak tentu kurang penting. Setidaknya, strategi dibutuhkan.


Menurut Dewa Mimpi, ini adalah strategi perang. Tidak curang sama sekali.


"Ming Zise, aku tidak tahu bahwa kamu sangat pintar sekarang. Bahkan mampu menipuku." Lu Zheng menggertakkan gigi.


Ming Zise yang berhadap-hadapan dengannya tersenyum santai. "Tentu saja."


"Tapi jangan berharap mampu mengalahkanku dengan mudah!" Seperti Lu Zheng mencari keberadaan Ning Siyu. "Di mana wanita itu?"


"Jangan khawatir, dia memiliki mimpi indahnya sendiri."


Lu Zheng sepertinya menebak apa maksud Ming Zise. Ning Siyu kemungkinan besar jatuh dalam mimpi dan menjalani kehidupan nyaman di dalamnya. Wanita itu sungguh tidak berguna. Karena otak cinta, Ning Siyu jatuh dalam array mimpi.

__ADS_1


"Sial!" Lu Zheng akhirnya menembak Ming Zise dengan energi spiritual.


Keduanya bertarung di udara dan sesekali akan pindah ke berbagai tempat. Dewa Mimpi dan Xiu Jichen tentu saja bergabung. Tiga lawan satu, Lu Zheng sedikit kewalahan. Tapi karena dia telah berkultivasi selama sepuluh tahun terakhir, kekuatannya juga tidak kecil.


Belum lagi Lu Zheng memimpin Alam Neraka. Semua penghuni mendengarkan perintahnya. Sebagian jenderal telah dikirim ke Alam Para Dewa, Istana Langit dan Dunia Langit. Tidak banyak yang tersisa di Alam Neraka. Mau tidak mau, Lu Zheng hanya bisa memerintahkan beberapa bintang spiritual Alam Neraka yang mendominasi beberapa wilayah.


Tanpa diduga, Dewa Binatang telah bersiap dengan pasukan binatang spiritual Alam Para Dewa. Perang semakin kacau di Alam Neraka hingga beberapa jenderal besar pun kembali untuk membantu Lu Zheng.


Semuanya telah diperhitungkan dengan matang oleh Dewa Perang. Karena mimpi Xiu Jimei awalnya diceritakan pada Dewa Mimpi, cerita itu akhirnya sampai ke telinga Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Karena itu lah, Alam Para Dewa juga telah menyiapkan rencana yang matang untuk memenangkan perang.


Lu Zheng masih tak bisa mengimbangi kekuatan para dewa meski sudah dibantu oleh jenderal lain. Pada satu sisi, dia muntah darah setelah organ dalamnya terluka akibat serangan Ming Zise. Bukan hanya itu, Xiu Jichen yang sudah lama tak bertarung lama seperti disegarkan kembali.


“Siapa yang tahu bahwa aku akan memiliki kesempatan untuk bertarung dengan mantan Dewa Bencana.” Xiu Jichen terkekeh. Energi spiritual ungu menguar di sekujur tubuhnya.


“Xiu Jichen!!” Lu Zheng menatapnya seperti cheetah yang memperhatikan mangsa.


Awalnya Lu Zheng bertarung dengan Ming Zise. Namun karena Xiu Jichen bisa dikatakan sama kuatnya, Ming Zise menyerahkan pertarungan itu padanya. Tentu Xiu Jichen tak akan menyia-nyiakan kesempatan.


Adapun Ming Zise, dia membereskan sisa kekacauan. Pasukan Alam Neraka terutama para jenderal sangat tidak berdaya. Mereka tak bisa mengalahkan Ming Zise, apa lagi Dewa Mimpi. Yang ada, mereka jatuh ke dalam mimpi yang direncanakan. Ini lebih mengerikan tentunya.


Peperangan di sana tentu saja lebih lama. Namun waktu Dunia Langit dan Alam Neraka cukup berbeda. Sehingga mereka yang bertarung di Alam Neraka merasa waktu bergerak lambat. Hal itu juga membuat para Dewa bisa memanfaatkan waktu.


Awalnya pertarungan terjadi di Alam Para Dewa. Lu Zheng berniat untuk merebut alam tersebut dan mendominasi Dunia Langit serta Istana Langit. Jadi dia tak bisa terjebak di Alam Neraka. Oleh karena itu, dia segera pergi menghindari serangan Xiu Jichen dan kembali ke Alam Para Dewa untuk mengacau.


Mengetahui hal itu, Xiu Jichen sedikit tidak senang. “Oh, rupanya masih terobsesi untuk merampok Alam Para Dewa,” katanya langsung tertawa.

__ADS_1


“Aku khawatir dia mengincar pohon abadi. Mengetahui Xiu Jimei sudah tidak bisa dibunuh saat ini, ia hanya bisa mengandalkan pohon keabadian,” jelas Ming Zise.


__ADS_2