Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Makan Cuka (Cemburu)


__ADS_3

Xiu Jimei selalu memperhatikan Roh Bunga. Dia juga peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar ibunya. Tak terkecuali pada Roh Bunga. Pria berpakaian serba merah muda itu telah menemaninya sejak kecil, mengurusnya serta menjaganya dengan baik. Roh Bunga sudah seperti setengah kakak laki-laki atau setengah ayah baginya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Xiu Jimei sedikit khawatir. Dia tahu Roh Bunga suka menjual kesedihannya yang pura-pura, tapi kali ini dia malas untuk membongkar aktingnya.


Roh Bunga menyentuh wajahnya yang sedikit merah. "Pinky merasa demam. Anak Majikan harus merawat Pinky."


"Oh."


Xiu Jimei memeriksa dahi Roh Bunga. Sedikit panas. Jika Roh Bunga adalah pohon persik saat ini, pasti daunnya rontok atau pohonnya sedikit layu lalu karena sakit.


"Kalau begitu, aku akan menyiapkan obat untukmu."


"Anak Majikan selalu yang terbaik."


"..." Semua orang yang menyaksikan mau tidak mau sedikit mencibir.


Bahkan Ming Zise tidak tahan. Wajahnya gelap dan dia ingin menarik Xiu Jimei ke sisinya. Beraninya pohon persik roh itu memprovokasi dirinya?


Dengan wajah gelap, Ming Zise tersenyum dingin pada Roh Bunga. "Sebagai seorang roh bunga penyembuh, kamu jatuh sakit? Ternyata kamu begitu lemah."


Roh Bunga tidak peduli dengan nya. "Aku memang lemah. Jika tidak, anak majikan tidak aman merawatku."


Ming Zise kali ini menumpahkan cuka di perutnya. Pria sialan itu benar-benar tak tahu malu lebih dari dirinya sendiri.


Xiu Jimei melihat Ming Zise tidak senang, tapi dia juga khawatir dengan Roh Bunga. "Baiklah, jangan bertengkar, mari cari tempat yang cocok untuk istirahat. Besok kita harus melanjutkan perjalanan."


Tak lama setelah itu, seorang penjaga gelap Istana Kekaisaran datang untuk menjemput mereka. Tapi suasananya terlihat lebih tenang sehingga penjaga gelap juga bingung harus mengatakan apa.


"Ada apa tiba-tiba datang? Tidak mungkin kami harus keluar hutan 'kan?" tebak Yan Yujie.


Penjaga gelap yang baru saja menerima perintah dari Istana Kekaisaran mau tidak mau langsung menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Karena semuanya baik-baik saja sekarang, kaisar tidak meminta kalian untuk kembali. Tapi peserta lain telah dipindahkan ke lokasi yang aman saat ini dan akan melanjutkan perjalanan besok. Bagaimana dengan kelompok kalian? Apakah mau melanjutkan perjalanan atau tinggal di pengungsian darurat lebih dulu?" Penjaga gelap tidak malu sama sekali hanya sedikit canggung.


"Kami melanjutkan perjalanan," kata Xiu Jimei.


"Kalau begitu, berhati-hatilah. Burung mata-mata akan selalu memantau sekitar. Jika ada sesuatu, kami akan segera datang." Penjaga gelap memberi hormat kepalan tangan pada mereka dan bersiap pergi.


"Malam ini saja kalian lambat datang. Sudah terlambat untuk menolong," gumam Xiu Jimei.


Penjaga gelap lain yang ada di kegelapan hampir saja terpeleset dari dahan pohon. Ini memang salah mereka. Tapi siapa yang membuat sulur roh pembunuh begitu merepotkan?


Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera meninggalkan mereka. Kelompok Xiu Jimei juga mencari tempat yang lebih nyaman untuk membangun tenda kembali. Lalu Xiu Jimei menyiapkan obat untuk Roh Bunga.


Roh Bunga benar-benar banyak bicara dengan Xiu Jimei sehingga tidak membiarkan Ming Zise mengambil kesempatan sama sekali. Ming Zise kesal dan wajahnya sudah menggelap sejak lama. Jika Roh Bunga ini adalah bawahannya, dia mungkin sudah mengirimnya ke hutan tergelap di Alam Para Dewa untuk berburu binatang mitos.


Sayangnya, Roh Bunga adalah orang-orang Xiu Jimei. Dan gadis itu juga peduli dengan orang-orangnya. Ming Zise hanya bisa makan cuka malam ini. Barulah setelah Roh Bunga minum obat, Xiu Jimei memintanya masuk ke ruang spiritual bawaan untuk beristirahat. Keempat makhluk suci ilahi kuno juga ada di sana. Mereka tidak mungkin karena tidak ada perintah, jadi memilih untuk diam.


......................


"Sepertinya dia sangat lelah?" Harimau putih roh kuno menduga jika Roh Bunga benar-benar sakit.


"Mungkin cedera lamanya masih ada dan malam ini memang cukup melelahkan." Tuit Tuit hanya berkicau ringan dan memilih hinggap di atas kepala harimau putih roh kuno.


"Jadi dia tidak berbohong tentang demamnya?"


Tuit Tuit memutar bola matanya. "Demam kepalamu! Dia hanya kekurangan cairan hingga pohonnya agak kering. Tentu saja tubuhnya panas tapi bukan demam. Dia hanya tidak minum saja sejak awal."


"..." Apakah pohon yang tidak disiram artinya kehausan tapi bukan demam karena sakit? Harimau putih roh kuno membatin.


......................


Pada pagi harinya, semua peserta melanjutkan perjalanan. Meski hutan sedikit berantakan karena pertarungan semalam, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk mencari harta hutan.

__ADS_1


Xiu Jimei serta yang lainnya menyiapkan sarapan. Mereka membuat sup dari bahan-bahan yang ditemukan di hutan. Ming Zise masih sedikit merajuk sehingga Xiu Jimei harus membujuknya.


“Apakah kamu masih marah tentang apa yang terjadi semalam?” tanya Xiu Jimei.


“Tidak.” Ming Zise menghela napas. Dia sedikit malu sebenarnya jika harus menunjukkan kemarahannya.


“Lalu kenapa kamu tidak bicara denganku sejak malam tadi?”


“Aku hanya sedikit lelah.”


“Kamu bahkan tidak melakukan apapun yang menguras banyak tenaga semalam, bagaimana bisa lelah begitu saja?” gumamnya.


Ming Zise tidak bisa membantah sama sekali. Dia sebenarnya hanya mencari alasan acak. Ia hanya merangkul Xiu Jimei dan mencium kepalanya. Tidak peduli berapa pasang mata yang melihatnya saat ini, Ming Zise menunjukkan kepemilikannya.


Xiu Jimei sedikit malu tapi tidak menghindar. Yang lainnya pura-pura tidak melihat. Anjing tunggal seperti mereka tidak pantas berkomentar tentang kecemburuan. Adapun Xiu Jikai, ia hanya memutar bola matanya. Tidak ada komentar, lupakan saja.


Tapi bukan berarti burung mata-mata yang ada di sekitar mereka tidak tahu sama sekali. Semua adegan jatuh ke mata burung kolibri biru.


Di istana kekaisaran, Kaisar Alam Baka, Fu Heng serta kasim kepercayaan kaisar melihat semuanya.


Ternyata pria berjubah brokat putih yang sangat tampan itu merupakan tunangan Xiu Jimei bernama Ming Zise. Fu Heng mengetahui ini dan tidak mau memakan kecemburuan anak muda. Dulu, Fu Chan Yin dirampok oleh Xiu Jichen sebagai bintang phoenix. Dan sekarang giliran Xiu Jimei yang dirampok oleh Ming Zise.


Belum lagi usia Ming Zise dan Xiu Jichen hampir sama sehingga keduanya merupakan sapi tua yang makan rumput muda. Pooh! Fu Heng mengejek di hatinya. Para pria tua berwajah muda itu pura-pura menjadi anak muda, sangat memalukan!


“Lalu, siapa yang mengendalikan sulur roh pembunuh sebelumnya?” tanya kasim kepercayaan kaisar.


“Ini mungkin masih ada hubungannya dengan musuh cucuku,” jawab Fu Heng.


“Musuh? Kultivator mana yang berani bermusuhan dengan cucumu, Xiu Jimei?”


“Seharusnya dari Alam Para Dewa,” jawabnya lagi seraya menghela napas tidak berdaya. “Atau Alam Neraka. Dari mana pun itu seharusnya bukan hal yang baik. Tapi untungnya cucuku pintar dan kuat sehingga musuh-musuh itu mungkin kewalahan saat ini,” jelasnya.

__ADS_1


“Kalau begitu, masalah ini bukan giliran kita untuk ikut campur,” gumam Kaisar Alam Baka sedikit tidak berdaya.


__ADS_2