Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Pergi Ke Istana Langit


__ADS_3

Di Istana Minglan saat ini, Yuu datang sambil membawa sekeranjang buah persik roh. Tak lama, dia langsung ditendang keluar istana oleh Ming Zise. Anak laki-laki itu menangis tanpa mengeluarkan air mata sama sekali. Penuh kepalsuan.


Tapi Xiu Jimei merasa kasihan dan meminta Ming Zise untuk membiarkannya datang.


"Yuu, kenapa kamu ke sini?" tanyanya.


"Oh, aku membawa buah persik untukmu." Yuu memberikan keranjang bersi buah persik itu pada Xiu Jimei.


Sedangkan gadis itu sendiri tidak tahu kenapa Ming Zise begitu tidak suka saat Yuu datang sambil membawa buah persik. Lalu salah satu pelayan berbisik padanya. Memberi buah persik bisa diartikan sebagai melamar seseorang di Alam Para Dewa. Buah persik melambangkan ungkapan hati seseorang.


Oleh karena itu, Ming Zise tidak suka dengan Yuu. Sebenarnya hal yang wajar. Yuu sendiri bahkan tidak tahu tentang masalah ini.


"Mei'er, dia bukan anak kecil seperti yang kamu pikirkan," ujar Ming Zise tampak tidak berdaya.


"Aku juga tidak sepolos yang kamu bayangkan," timpal gadinsitu mendengkus.


"Tentu saja aku tahu. Tapi tidak masalah. Namun Mei'er, memberi buah persik pada lawan jenis ini tidak dibenarkan." Ming Zise masih keras kepala.


Yuu menuduh Ming Zise karena melecehkan seorang anak. "Ini hanya buah. Kenapa kamu begitu marah?"


Ming Zise tidak peduli dengan omelannya. "Darimana kamu mendapatkan buah-buah ini?"


"Dari halaman belakang Istana Dewa Binatang."


"Kamu mencuri?"


"Tentu saja tidak! Saat itu ..." Yuu menceritakan segalanya dari awal hingga akhir.


Barulah setelah itu Ming Zise mengetahui kenapa Dewa Binatang sampai patah kaki hari ini. Karena ini adalah buah perak roh dari halaman Istana Dewa Binatang, Ming Zise tidak lagi terlalu kesal. Lagi pula dia memang sedang marah pada pria itu.


"Apakah kamu sudah menemukan di mana Ning Siyu berada?" tanya Xiu Jimei seraya makan buah persik roh.


"Ya, aku sudah menemukannya. Dewa Pencipta Alam Para Dewa sudah tahu ini. Pria mu juga sudah tahu." Yuu mengangguk.

__ADS_1


Xiu Jimei melirik Ming Zise. "Kenapa kamu tidak memberi tahuku?"


"Aku lupa."


"Jangan khawatir tentang masalah Ning Siyu. Kami memiliki rencana. Untuk beberapa waktu ke depan, Alam Para Dewa harus fokus untuk memperkuat diri terlebih dahulu. Alam Neraka bisa menyerang kapan saja." Yuu menjelaskan dengan ekspresi serius.


"Siapa dewa yang terlibat dalam urusan Ning Siyu?"


"Ini rahasia." Ming Zise dan Yuu berkata secara bersamaan.


"..." Xiu Jimei melihat keduanya memiliki konspirasi, mau tidak mau hanya bisa mengabaikannya.


Setelah makan buah persik roh, Xiu Jimei berencana untuk pergi ke Istana Langit. Dia ingin membawa teman-temannya menjelajahi Istana Langit. Untungnya Zhishu mengizinkannya untuk membawa mereka hari ini.


Ming Zise hanya bisa memintanya untuk berhati-hati saat tiba di sana. Karena Istana Langit adalah wilayah Zhishu, dia lebih lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Dunia Langit, Xiu Jimei tiba di negeri Atas terlebih dahulu untuk menjemput Lei Mo dan Huang Fu Shi yang berada di istana. Di sana, Xiu Jimei juga bertemu dengan kaisar serta ayahnya Lei Mo.


Xiu Jimei selalu meras jika kakaknya lebih sibuk dibandingkan dirinya sendiri.


Setibanya di Istana Langit, Wang Xuyue merasa tidak percaya jika dirinya menginjak tanah Istana Langit. Rasanya seperti mimpi.


"Apakah kita benar-benar di Istana Langit? Tempat paling indah di mana kita bahkan bisa bertemu dengan roh petir?" Wang Xuyue tampak antusias.


"Ya." Xuan Xing mengangguk.


Setelah masalah di negeri mereka diurus sebelumnya, Xuan Xing serta yang lainnya merasa bosan tinggal di sekte. Ketika Xiu Jimei mengajak mereka untuk pergi ke Istana Langit, tentu saja langsung setuju.


Mereka tidak perlu datang ke istana untuk menyapa Zhishu. Lagi pula Xiu Jimei tidak perlu menunduk pada pria itu. Mereka pergi ke beberapa tempat, jalan-jalan di kota bahkan pergi berburu selama beberapa hari.


"Xiao Mei, pil yang kamu berikan pada kami sebelumnya sangat efektif. Kultivasi kami melonjak cukup tajam sebelumnya. Bahkan ayahku bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan pil yang begitu bagus," kata Jia Lishan.

__ADS_1


"Aku juga." Kin Wenqian mengangguk setuju.


"Termasuk aku." Xuan Xing menghela napas.


Xuan Xing masih ingat ekspresi terkejut ayahnya tentang pil yang diberikan Xiu Jimei sebelumnya. Tapi ayahnya tidak banyak mengatakan hal-hal lain. Hanya memintanya untuk berhati-hati sebelumnya. Adapun ibunya yang ketat, Xuan Xing hanya bisa diam-diam pergi.


"Kalian masih untung diperlukan dengan sangat baik. Lalu bagaimana denganku? Ayahku terus mendesakku untuk menunjukkan pil yang kutelan. Tapi pil itu tidak ada lagi. Dia tidak percaya dan menggeledahku berulang kali. Mengira aku bohong!" Yan Yujie sangat sangat.


Yan Rusheng bukan sosok ayah yang tegas tapi sangat perhatian dan penyayang. Meski begitu, Yan Rusheng menyebalkan di masa lalu. Yan Yujie tidak tahu harus menghadapi sikap ayahnya seperti apa. Ayah dan putra sama-sama memiliki nasib sial.


"Kalau begitu, kami mungkin yang paling tenang." Lei Mo tertawa ringan.


Huang Fu Shi juga mengangguk. Ayah dan ibunya tidak terlalu peduli dengan ini. Selama itu diberikan oleh Xiu Jimei, mereka langsung menunjukkan ekspresi biasa. Seolah-olah bukan hal yang aneh. Ayah Lei Mo tak berbeda jauh.


Oleh karena itu, saat keduanya melean pil dan meningkatkan kultivasi, orang tua hanya bisa menghela napas.


"Apa itu?" Kin Wenqian melihat sekelompok makhluk kecil bertubuh putih kebiruan melayang di sekitar pepohonan. Mereka terlihat sedang sibuk dengan urusannya sendiri.


Yang lainnya menggelengkan kepala. Sepanjang perjalanan, mereka melihat banyak makhluk aneh. Ketika melihat makhluk yang aneh, mereka tidak lagi terkejut.


Wang Xuyue ingin bertanya pada Xiu Jimei namun sosok gadis itu sudah tidak ada di tempatnya.


"Di mana Xiao Mei?" tanyanya.


Tempat di mana Xiu Jimei berdiri sebelumnya sudah kosong. Lalu Xuan Xing tak sengaja melihat ke satu sisi dan menunjuknya.


"Dia di sana," jawabnya.


Mereka semua melihat ke arah yang dimaksud Xuan Xing. Tak jauh dari mereka, Xiu Jimei sudah berdiri di dahan pohon besar berusia lebih dari seribu tahun. Lalu diam-diam memegang Makhluk putih kebiruan yang melayang di udara.


Mereka tidak tahu jika makhluk berwarna putih kebiruan itu adalah roh petir yang biasanya berkeliaran di sekitar wilayah jiwa petir.


Banyak roh petir yang sedang tertidur di atas pohon saat ini. Ketika Xiu Jimei menangkapnya, roh petir terbangun dan terkejut. Dia berteriak hingga membangunkan roh petir lain yang tengah beristirahat.

__ADS_1


Karena terkejut, mereka mengeluarkan kilatan petir secara tidak sengaja.


"Manusia, kamu sangat berani untuk menangkapku. Apakah kamu tidak takut mati oleh petir kami?" tanya roh petir yang ditangkap Xiu Jimei.


__ADS_2