Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Memasuki Pagoda Dua Puluh Lantai


__ADS_3

Di penginapan, Yan Yujie sudah siuman. Dia tidak lagi mempermasalahkan udang roh yang menusuk kakinya. Kini semua bintik merah sudah hilang akibat pil penyembuh yang diberikan oleh Xiu Jimei.


Tiga hari kemudian, Ming Zise datang menjemput Xiu Jimei dan kelompoknya. Mereka berkumpul di halaman pagoda dua puluh lantai yang terletak di pusat ibu kota.


Pagoda yang tampak selalu bersih itu terlihat menjulang tinggi. Aura dari setiap lantai berbeda-beda menguar sedikit. Si kembar Xiu bisa merasakannya. Tapi tidak lagi penasaran.


Namun berbeda dengan Wang Xuyue, Kin Wenqian, Xuan Xing, Jia Lishan dan juga Yan Yujie. Meski mereka pernah memasuki beberapa lantai pagoda dua puluh lantai, tapi masih cukup penasaran dengan isinya.


"Dari dua puluh lantai yang ada, kalian setidaknya hanya bisa berada di lantai lima saja," kata Ming Zise menjelaskan tujuan dari ujian bakat spiritual kali ini. "Di lantai lima, ada beberapa obat-obatan serta racun dari berbagai bentuk dan jenis. Kalian harus mengumpulkan beberapa obat-obatan serta racun yang paling ampuh. Ingatlah untuk tidak terlalu mencolok."


Kalimat terakhir dikatakan pada Xiu Jimei yang jelas seorang ahli alkemis. Dengan kata lain, biarkan orang lain menerima kesempatan. Lagi pula ujian ini hanya untuk pelatihan bagi para kultivator. Menang atau kalah tidak masalah bagi Ming Zise.


Mereka mengangguk paham.


Di sisi lain, mereka juga melihat kelompok kultivator Sekte Hantu. Terutama keberadaan Mei Rong, Fan Li serta Mi Sai. Ketiga kultivator hantu itu terlihat lebih misterius dari pada yang lain.


Ketiganya melihat ke arah kelompok Xiu Jimei. Sempat saling menatap selama beberapa waktu, tapi ekspresi Mei Rong, Fan Li serta Mi Sai tampak biasa saja.


Yan Yujie kesal dan ingin menghajar mereka. Jika bukan karena ini tempat umum, dia sangat ingin tahu alasan apa yang membuat mereka ingin membunuhnya.


"Hati-hati saat ada di dalam pagoda," kata Ming Zise lagi ketika tak sengaja melihat kelompok kultivator Sekte Hantu.


Ketika ujian dimulai, setiap kelompok memasuki pagoda dua puluh lantai dengan sedikit ketegangan. Mereka masuk sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh panitia penilaian.


Namun tidak tahu apa yang terjadi, sebagian peserta ujian justru berlari keluar sambil berteriak ketakutan.


"Ahhh!!! Hantu! Ada hantu!"


"..." Kelompok yang lain merasa lebih tidak nyaman.


Apakah ada hantu di dalam?


Bukankah ini hanya pagoda dua puluh lantai yang setiap lantainya memiliki tahap uji coba yang berbeda?


Bagaimana bisa ada hantu?

__ADS_1


"Guru, apakah ada hantu?" tanya Kin Wenqian pada Ming Zise.


Pria itu hanya tersenyum, tidak menggelengkan kepala atau mengangguk.


"..." Kelompok Xiu Jimei justru semakin penasaran.


Ketika kelompok mereka mendapatkan giliran, Xiu Jimei berada di paling depan. Sebagai ketua tim, dia memiliki cara tugas untuk memastikan jika anggotanya baik-baik saja.


Saat memasuki pagoda dua puluh lantai, pintu berdaun dua di tutup begitu saja. Kegelapan menyelimuti sekitar.


Hawa dingin yang tiba-tiba saja datang entah dari mana, membuat bulu kuduk mereka merinding. Tiba-tiba saja suara cekikikan dan ratapan kesedihan terdengar sayup-sayup.


"Hu hu hu hu hu ...." Suara seorang wanita yang menangis tidak jelas seperti berada di belakang mereka.


"Apakah itu hantu? Benar-benar hantu?" Yan Yujie menelan salivanya dan merapatkan diri ke arah Xiu Jimei.


"Kamu memiliki mata Yin dan Yang yang mampu melihat hantu dan menakuti mereka? Bagaimana kamu yang takut pada mereka?" cibir Wang Xuyue.


Tapi Xiu Jikai yang ada di samping nya segera menyeret Yan Yujie itu menjauh dari adiknya.


"Tidak ada hantu!" Dia berkomentar dengan sudut mulut berkedut.


Xiu Jimei justru menggaruk kepalanya dengan kebingungan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Berburu hantu di lantai pertama?" tebaknya.


Yang lain juga kebingungan.


"Mari berpencar, mungkin ada sesuatu yang akan kita temukan sebagai petunjuk," saran Jia Lishan.


"Baiklah."


Mereka pun berpencar. Lantai pertama cukup luas. Tidak terlalu gelap karena di dinding sudah dipasang lentera yang menyala. Meski pencahayaan nya agak minim, mereka masih bisa melihat satu sama lain.


Xuan Xing pergi ke tumpukan kotak di sudut. Ada banyak barang di sana, segala jenis yang belum pernah dia lihat. Namun dia tidak penasaran sama sekali.


Ketika memindahkan salah satu kotak dan tak sengaja membuka tutupnya, dia terkejut. Xuan Xing sedikit pucat. Dia segera mengembunkan palu es lalu memukul sesuatu yang menyembul dari dalam kotak tersebut.

__ADS_1


Setelah itu, dia menutup kotak dan melemparkannya ke sisi lain.


"Xing Xing, apa yang terjadi?" tanya Yan Yujie yang kini berada di sekitar rak buku.


"Bukan apa-apa, hanya serangga yang menyebalkan." Xuan Xing mencari alasan agar yang lain tidak menjadi panik.


Apa yang baru saja dilihat Xuan Xing merupakan sebuah kepala wanita dengan wajah agak mengerikan, berdarah serta menyeringai. Jadi dia langsung memukulnya karena terkejut. Entah itu nyata atau tidak, dia merasa sedikit berkeringat dingin.


Kenapa lantai pagoda tingkat satu ini sungguh aneh? Hantu kepala wanita?


Di dalam kotak, kepala yang baru saja di pukul Xuan Xing hampir meringis kesakitan. Apa lagi ketika kotak di lempar, dia justru tambah pusing.


Akhirnya, sosok kepala wanita yang mengerikan itu menghilang dari dalam kotak dan kembali ke tempat di mana para penguji ujian berkumpul.


Di dalam sebuah ruangan rahasia, seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul dengan riasan wajah mengerikan itu pun tak bisa menahan diri untuk meringis.


Teman-teman nya yang lain terkejut saat melihat wajah wanita itu sedikit merah dan hidungnya hampir rata.


"Ada apa denganmu?" tanya salah satu dari mereka dengan kaget.


"Salah satu peserta ujian itu memukulku dengan palu es," jawab si wanita tersebut. Dia pun langsung mengeluh, "aku pikir aku bisa menakutinya dengan efek wajah berdarah dan gigi tajam seperti monster. Tapi siapa tahu, gadis berambut putih itu bukan hanya tidak berteriak ketakutan tapi justru mengembunkan palu es dan memukul wajahku hingga bengkak seperti ini!"


Salah satu rekannya yang juga seorang penguji ujian lantai pertama pagoda dua puluh lantai itu pun akhirnya tertawa. Dia merasa adegan ini sangat lucu, melihat wajah wanita itu yang kini terlihat jelek.


Wanita itu marah dan memukul kepala orang yang baru saja menertawakan nya.


"Humph! Kamu juga pasti akan merasakannya nanti! Mereka bukan kelompok biasa!"


Rekannya yang baru saja kena jitakan di kepala itu pun meringis. "Memangnya kelompok yang mana?"


"Itu kelompok putri Xiu!"


"..."


Saat mendengar kata 'putri Xiu' mereka terdiam. Oh, bukankah ini gadis abnormal yang telah melewati tahap ranah kekosongan pada usia yang begitu muda? Anak perempuan dari mantan Kaisar Iblis—Xiu Jichen?

__ADS_1


Pada akhirnya, rekannya yang baru saja dijitak itu pun menepuk pundak si wanita dengan lembut. "Jangan khawatir, kaisar langit membayar kita untuk melakukan tugas ini. Sepadan dengan hasilnya."


"..." Sepadan pantatku! Teriak wanita itu dalam hati.


__ADS_2