Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Semuanya Telah Direncanakan


__ADS_3

Ning Siyu sendiri jelas tak bisa mengalahkannya. Dia menatap Lu Zheng. “Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kedatangannya jelas tidak menguntungkan kita!”


Lu Zheng menggertakkan gigi. “Apa lagi? Lebih baik menyiapkan pasukan lebih banyak!”


Tidak ada gunanya mengeluh sekarang. Rencana yang telah dibuat selama sepuluh tahun lamanya tak bisa dikalahkan begitu saja. Mau tidak mau, Lu Zheng hanya bisa bertempur sampai akhir.


“Xiu Jimei sudah menyatu dengan esensi delapan dewa-dewi. Tidak bisa menyerangnya sembarangan apa lagi mencoba merebut esensi tersebut. Kecuali membunuhnya.”


“Apa katamu?” Ning Siyu membelalakkan mata. “Bagaimana bisa dia melakukan itu? Kapan itu terjadi?”


“Seharusnya setelah dia menghilang entah ke mana. Itu adalah hari di mana dia sebenarnya bersembunyi di tempat awal mula esensi delapan dewa-dewi tinggal.”


Ning Siyu mengepalkan kedua tangannya. Tak heran jika dia merasa Xiu Jimei lebih kuat dari sebelumnya. Ternyata berani mengambil risiko sebesar itu. Apakah dia tidak takut akan gagal melakukannya?


“Ming Zise tidak ada. Aku tidak tahu di mana dia. Sekarang gadis itu mengamuk. Jika dibiarkan, Alam Neraka akan hancur!” Ning Siyu hanya bisa memuntahkan semua keluhannya.


Siapa tahu, Lu Zheng mencibir. “Tempat sekecil ini tidak perlu ditangisi.”


“Kamu—!!” Ning Siyu memelototinya.


Keduanya berdebat tentang perbedaan pendapat. Sedangkan dua naga sedang bertarung di langit.


Xiu Jimei yang sudah kehilangan kendali sepenuhnya, sama sekali tidak mengenali sosok naga Xiu Jichen saat ini. Dia hanya tahu untuk menyerang dan menyingkirkan naga itu. Sedangkan Xiu Jichen sendiri yang telah berubah menjadi naga hitam dengan sisik agak kemerahan, menyerang naga putih Xiu Jimei tanpa ragu.


Tentu ada perbedaan kekuatan di sini. Xiu Jimei memiliki kultivasi esensi delapan dewa-dewi. Sedangkan Xiu Jichen memegang kultivasi iblis. Kedua kekuatannya tidak cocok. Tapi sebagai seorang ayah, Xiu Jichen harus menghentikan putrinya. Jadi dia tidak ragu untuk menyerang.


Karena itu, Xiu Jichen tanpa ragu memotong salah satu tanduk putrinya. Naga putih Xiu Jimei meraung kesakitan ketika salah satu tanduknya terpotong. Pada saat yang sama, Xiu Jichen menggunakan ekornya, memukul kepala naga putih Xiu Jimei.


Pukulan yang keras membuat Xiu Jimei jatuh membentur tanah. Terjadi sedikit getaran di tanah saat benturan terjadi. Dan itu langsung membuat Lu Zheng dan Ning Siyu berhenti bertengkar. Keduanya menjauh agar tidak terkena serpihan batu.

__ADS_1


“Gila!” Ning Siyu tidak bisa menahan diri untuk menggigil. Energi spiritual milik Xiu Jimei sangat menekan kultivasinya.


Di langit, naga hitam kemerahan Xiu Jichen turun dan melilit tubuh naga putih Xiu Jimei tanpa ragu. Terdengar rintihan dari naga putih itu. Tubuhnya tak bisa bergerak bebas.


“Tidakkah Xiu Jichen takut membunuh putrinya?” Ning Siyu mengerutkan kening.


“Bodoh! Dia sedang berusaha menyadarkannya.”


Ning Siyu kesal karena sering dibilang bodoh oleh Lu Zheng. Pria itu sangat meremehkannya.


Di saat pertarungan dua naga itu terus berlanjut, mereka tidak sadar jika array spiritual misterius telah menyelimuti Alam Neraka. Mereka baru menyadarinya di saat langit Alam Neraka berubah. Namun Xiu Jimei dan Xiu Jichen tidak menyadarinya.


Lu Zheng dan Ning Siyu terkejut. Sebelum Lu Zheng sadar apa yang terjadi, tatapannya tiba-tiba saja kosong.


“Tidak mungkin. Ini array mimpi—!” Dia tak melanjutkan kata-katanya karena pikirannya langsung ditarik ke alam mimpi.


Dari udara kosong, sosok Ming Zise dengan pakaian serba putihnya muncul. Bukan hanya dia, tapi juga sosok Dewa Mimpi yang menghilang sebelumnya.


“Xiu Jichen, kamu bisa berhenti sekarang.” Dewa Mimpi sudah mengendalikan Alam Neraka untuk sementara waktu.


Tidak mudah membuat array mimpi yang besar. Apa lagi bukan hanya satu atau dua makhluk saja yang ditarik ke alam mimpi. Oleh karena itu, efek arraynya hanya bertahan kurang dari sebatang dupa. Setidaknya cukup untuk menyeimbangkan kondisi di luar rencana mereka.


“Kalian … apakah ini sudah direncanakan?” tanya Xiu Jichen yang sudah melepaskan Xiu Jimei yang terlilit olehnya.


Dewa Mimpi merasa sedikit tidak berdaya. “Ya. Tapi kemunculan kalian berdua sungguh tidak dalam rencana. Terutama putrimu. Jika aku tidak menghentikan Ming Zise untuk muncul saat gadis itu masuk kediaman esensi delapan dewa-dewi, mungkin situasinya berbeda. Aku hanya bisa minta maaf untuk putrimu,” jelasnya.


Naga hitam Xiu Jichen menyipitkan mata dan merendahkan posisi kepalanya agar sejajar dengan mereka. Lalu mendengus. Embusan angin dari hidungnya membuat pakaian dan rambut keduanya berkibar.


“Sungguh,” ejek Xiu Jichen, tidak terlalu marah. Segala sesuatu di dunia ini memang tidak dalam kendalinya. Dia kembali ke wujud manusianya.

__ADS_1


“Aku akan menenangkannya.” Ming Zise melihat naga putih Xiu Jimei mencoba bangkit dari tanah.


Salah satu tanduk naga gadis itu sudah terpotong, tidak jelek tapi agak kurang cantik. Ming Zise menghampirinya dan menyentuh moncong naga putih itu.


“Mei’er, ini aku. Aku baik-baik saja. Maaf, aku baru kembali sekarang. Tenanglah, aku baik-baik saja.” Ming Zise mencoba untuk menyalurkan energi spiritualnya untuk membuat pikiran gadis itu tenang kembali.


Xiu Jimei sepertinya bisa mendengar suara itu dan menatap Ming Zise yang ada di depannya. awalnya dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian sentuhan di hidungnya terasa lebih nyata.


Perlahan, tubuhnya sedikit bercahaya dan kemudian Xiu Jimei kembali ke bentuk manusianya. Dia tampak sedikit pucat tapi selebihnya pusing.


“Kenapa tubuhku sakit sekali, seperti diremukan sesuatu?” gumam gadis itu sebelum akhirnya melihat sosok Ming Zise. “Mingming?”


“Ya, ini aku.” Ming Zise tersenyum lembut.


Xiu Jimei ingin memeluknya tapi ketika bergerak, suara tulang retak di tubuhnya langsung menimbulkan rasa sakit.


“Ahhh!! Pinggangku sakit!” teriaknya seraya menyentuh pinggangnya.


Untungnya Ming Zise segera menahan tubuhnya. “Jangan khawatir, kamu baik-baik saja.”


Xiu Jichen sebagai pelaku yang melilit tubuhnya tadi, jelas pura-pura tidak tahu. Ming Zise membawa Xiu Jimei keluar dari Alam Neraka lebih dulu. Xiu Jichen dan Dewa Mimpi masih di tempat awal, menunggu pria itu kembali.


Istana Minglan mengalami kerusakan saat ini. Ming Zise membawa Xiu Jimei ke Istana Golden Lotus. Dia tidak langsung pergi setelah membaringkan nya di tempat tidur. Gadis itu memeluknya dengan erat.


“Mingming, ke mana kamu pergi? Kenapa kamu tidak memberitahuku jika yang ada bola array mimpi adalah palsu?”


Ming Zise mengelus kepalanya. “Maaf. Aku memikirkan semuanya setelah kamu cerita. Aku tidak mau mengambil langkah yang sama seperti yang ada dalam mimpinya. Patuhlah di sini, semuanya akan baik-baik saja ketika kamu bangun tidur nanti,” jelasnya.


Keduanya telah berpisah selama lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana mungkin Ming Zise tidak merindukannya?

__ADS_1


__ADS_2