Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ming Zise Pergi


__ADS_3

Ming Zise mau tidak mau memasang array di sekitar tenda agar pihak lain tidak mendengar apa yang keduanya lakukan saat ini. Dia melepaskan pakaian yang masih tertanggal di tubuh Xiu Jimei dengan gerakan agak tergesa-gesa.


“Guru …” Xiu Jimei memerah dan tidak berdaya di tangannya.


“Tidak apa-apa,” bisiknya. Ming Zise memeluk tubuh tanpa busananya sedikit lebih erat. Tubuhnya bergerak lebih gelisah dari sebelumnya.


Ming Zise menarik tubuh gadis itu dan duduk di pangkuannya. Xiu Jimei hampir tidak memiliki tenaga untuk bergerak bebas dan pikirannya berkabut setiap kali pria itu bergerak. Gadis itu menyentuh dada bidang Ming Zise yang terlihat kencang. Tubuh gurunya sangat bagus.


Tak lama setelah itu, perasaan yang kuat mendorong pikirannya untuk meledak. Ming Zise bahkan lebih tidak bermoral dan memeluk pinggangnya di dorongan terakhir. Gadis itu akhirnya merengek di pelukannya dengan tubuh menegang untuk menikmati pelepasan yang luar biasa. Suara gadis itu seperti rengekan anak kucing di telinga Ming Zise.


“Mei’er,” gumam Ming Zise penuh kelembutan.


Xiu Jimei mungkin tidak sadar jika dirinya menggaruk tubuh Ming Zise dengan kukunya yang sedikit panjang. Ada bekas merah yang terlihat di bahu Ming Zise. Namun pria itu sama sekali tidak peduli. Baginya, itu bukan luka yang serius.


Tubuh Xiu Jimei ambruk di tubuh Ming Zise, matanya terpejam, wajahnya memerah tapi tubuhnya masih sedikit menegang. Ming Zise penasaran, kenapa wanita memiliki ledakan musim semi lebih panjang daripada pria.


Wajah Xiu Jimei menunjukkan jika dirinya begitu menikmatinya cukup lama dan enggan meninggalkan tubuhnya. Ming Zise memiliki pencapaian tersendiri untuk masalah ini. Melihat gadis itu tidur di pelukannya, Ming Zise mau tidak mau mendengkus.


“Gadis tanpa hati nurani, tidur setelah dipuaskan,” gumamnya.


Ming Zise membaringkan gadis itu dan membersihkan tubuhnya sebelum memakai kembali pakaian. Melihatnya tidur karena kelelahan, Ming Zise mencium kening Xiu Jimei dan berbaring di sampingnya.


......................


Keesokan paginya saat Xiu Jimei terbangun, Ming Zise sudah tidak ada di tempat. Tubuhnya juga sudah berpakaian lengkap seperti sebelumnya. Memikirkan Ming Zise yang kemungkinan besar membantunya berpakaian, wajahnya memerah.

__ADS_1


Saat keluar tenda, matahari sudah terbit. Dia melihat wajah Xiu Jikai yang sedikit gelap dan suram.


“Kakak, apakah kamu dalam suasana hati yang buruk akhir-akhir ini?”


Xiu Jikai menatapnya dengan sedikit kebencian. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya kembali.


“Aku tidak bisa membaca hatimu. Jangan bermain misteri!” Xiu Jimei kesal.


“…” Jika bukan karena kamu, memangnya siapa lagi? Batin kembarannya.


Xiu Jikai tidak bisa tidur nyenyak semalam karena tahu jika pria itu diam-diam menyelinap ke tenda adiknya lagi dan membuat gerakan lain.


“Lupakan saja,” kata Xiu Jikai harus membiasakan diri dengan adiknya yang telah dewasa.


Tidak, tidak! Xiu Jikai segera menepis pikiran mesumnya dan menggelengkan kepala. Kenapa dia tiba-tiba memikirkan rubah kecil itu?


Semua orang sudah bangun dan membuat api unggun serta menelan pil kenyang. Mereka terbiasa menelan pil kenyang jika tidak memiliki waktu untuk membuat makanan.


Namun Xiu Jimei tidak terbiasa menelan pil kenyang dan membuat makanan sendiri. Tuit Tuit juga keluar dari ruang spiritual bawaan dan membantu gadis itu demi mendapatkan sarapan enak.


“Jimei, kami mungkin harus pergi lebih awal. Apakah tidak apa-apa jika kami meninggalkan kalian di sini?” Meng Meng sudah bersiap untuk pergi.


“Tidak apa-apa. Kalian bisa pergi dengan tenang. Hati-hati di jalan,” jawab gadis itu.


“Kamu juga.” Meng Meng mengangguk dan pergi dengan rekan kelompoknya yang lain.

__ADS_1


Kelompok Huang Fu Shi tidak langsung pergi. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi dan ingin bergabung dengan kelompok Xiu Jimei untuk melaporkan tugas. Saat ini, dia dan yang lainnya mengisi perut dengan makanan yang dibuat oleh Xiu Jimei.


“Ke mana guru pendamping kalian? Apakah belum kembali sejak semalam?” tanya guru pendamping kelompok Huang Fu Shi.


Xiu Jimei segera menjawab, "Guru berkata ada urusan mendadak di tempatnya dan pergi selama beberapa hari."


"Begitu lama? Lalu bagaimana dengan kalian?" Guru pendamping kelompok Huang Fu Shi sedikit terkejut dan khawatir.


"Kami bisa menjaga diri," jawabnya lagi.


Melihat kemampuan Xiu Jimei sebelumnya, kelompok Huang Fu Shi tidak khawatir. Namun guru pendamping bertugas untuk menjaga setiap perjalanan kelompok ujian demi menjaga keamanan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.


Mengingat jika ujian sulit kali ini sudah selesai, guru pendamping kelompok Huang Fu Shi menghela napas.


"Kalau begitu, tetaplah bersama kami sampai guru pendamping kalian kembali. Tidak nyaman bepergian sendiri."


"Bukankah itu merepotkan?"


"Tidak, tidak. Mungkin kami yang akan merepotkan kalian di masa depan." Guru pendamping kelompok Huang Fu Shi mengembuskan napas tidak berdaya.


Xiu Jimei sudah kuat dan mereka bisa mati hanya dengan sekali tamparan. Bagaimana mungkin merepotkan mereka.


"Kalau begitu merepotkan kalian," kata Xiu Jikai bijaksana.


Wang Xuyue akhirnua mengubah topik. "Omong-omong, apa kira-kiranya tugas kelompok lain?"

__ADS_1


__ADS_2