
Xiu Jimei tidak keberatan untuk beristirahat. Ia juga minum segelas air dan mengeluarkan beberapa makanan ringan lainnya. Elder Chi serta kelompoknya tidak pernah mencoba camilan tersebut sehingga Xiu Jimei membaginya dengan penuh ketulusan.
“Perjalanan ini benar-benar melelahkan." Salah satu rekan Elder Chi memilih untuk duduk di rumput hijau dan memakan keripik kentang. “Kenapa kita tidak melihat satu pun binatang roh terbang selama perjalanan? Apakah semua burung besar bermigrasi?” tebaknya.
Yang lainnya menggelengkan kepala. Mereka juga tidak tahu tentang ini dan hanya bisa mengeluh diam-diam.
Sementara Xiu Jimei sendiri merasa sedikit bersalah dalam hatinya. Mungkin semua burung roh raksasa putar balik saat hendak melewati hutan. Bagaimana pun juga, aura esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya masih bisa dirasakan oleh binatang roh.
Xiu Jikai sepertinya memahami kegelisahan adiknya, mau tidak mau memikirkan cara lain. “Aku akan pergi sebentar. Kalian tunggu di sini.” Ia melirik adiknya. “Kamu bisa mengatasi mereka ‘kan?” tanyanya.
Xiu Jimei tahu siapa yang dimaksudnya, lalu mengangguk. “Tentu saja. Bukan masalah besar.”
Jangan bercanda. Ia bisa membuat Luo Chan mundur, apa lagi jika anak buahnya saja. Apa yang harus dikhawatirkan?
Xiu Jikai yakin jika adiknya tidak akan menderita lalu pergi meninggalkan mereka. Elder Chi penasaran dengan kepergiannya.
“Nona Xiu, ke mana dia akan pergi?” tanyanya.
__ADS_1
“Oh, mungkin dia mencari burung.” Xiu Jimei tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan kakaknya setelah pergi. Tapi pasti bukan melakukan sesuatu yang tidak pasti. Kakaknya tidak suka membuang-buang waktu. “Tunggu saja, seharusnya tidak akan lama.”
Mencari burung? Mereka saling melirik dan tanda tanya besar seperti muncul di atas kepala mereka.
Tapi mereka tidak banyak bertanya. Mereka istirahat dengan baik, membuat minuman dan memanggang ikan untuk mengganjal lapar.
Anehnya, mereka enggan untuk menelan pil kenyang setelah mencoba masakan Xiu Jimei. Padahal selama di alam liar, mereka lebih suka menelan pil kenyang untuk mencegah lapar. Sebagai kultivator, mereka tidak akan mati meski tidak makan selama tiga hari.
Selama kepergian Xiu Jikai, tentu saja ada dua kultivator asing yang memperhatikan mereka dari kegelapan. Keduanya menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Setelah kembaran Xiu Jimei pergi, rasanya mungkin tepat untuk menyerang mereka.
Kedua bawahan Luo Chan di atas salah satu pohon saling melirik dan memberi kode. Salah satu dari keduanya mengangguk lalu mengeluarkan beberapa bom asap seukuran pil. Pil bom asap itu segera dilemparkan ke arah mereka.
“Berhati-hati, ini bom asap!”
Setelah berkata demikian, pil bom asap sudah jatuh ke tanah dan mengeluarkan bunyi ledakan kecil. Tak lama setelah itu, asap hitam pekat seketika menghalangi pandangan mereka. Meskipun kultivator bisa melihat dalam gelap, namun mereka tidak bisa melihat dalam jangkauan bom asap.
Elder Chi serta yang lainnya langsung berdiri dan berjaga-jaga. Xiu Jimei sepertinya masih santai-santai saja saat dua bawahan Luo Chan memasuki asap hitam pekat untuk menyerang mereka.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, terdengar suara pedang yang saling beradu. Xiu Jimei segera keluar dari jangkauan asap hitam dan memperhatikan dari salah satu pohon tak jauh dari sana. Melalui penglihatannya, ia bisa melihat apa saja yang terjadi dalam asap hitam pekat tersebut.
Asap hitam tak berbau itu tidak akan membuat penglihatan perih atau sesak pernapasan, tapi hanya membutakan penglihatan saja.
Elder Chi kesulitan untuk melihat sekitar. Ia hanya bisa merasakan dari mana napas musuh di udara dan segera menyerang mereka. Ia khawatir dengan orang-orangnya bahkan hampir lupa dengan adanya Xiu Jimei.
“Siapa kalian?!” Elder Chi berteriak di dalam asap hitam pekat.
Dua bawahan Luo Chan tidak mengatakan apa-apa dan fokus untuk menyerang mereka. Tentu saja untuk membunuh kelompok Elder Chi. Tapi setelah bertarung beberapa saat, mereka masih belum menemukan keberadaan Xiu Jimei.
“Di mana gadis itu?” tanya salah satu bawahan Luo Chan seraya mengerutkan kening.
“Cari, jangan sampai dia kabur! Aku akan mengurus orang-orang ini,” jawab rekannya dengan napas berat dan penuh rasa permusuhan yang kuat.
“Ya!”
Elder Chi mendengar percakapan mereka, mau tidak mau mengerutkan kening. Kedua orang misterius itu bukan hanya menargetkan mereka tapi juga ingin membunuh Xiu Jimei. Elder Chi merasakan embusan angin di belakangnya, mau tidak mau langsung menghindar. Ternyata ia hampir saja tertusuk pedang salah satu bawahan Luo Chan.
__ADS_1
“Huh! Benar-benar pria tua yang merepotkan!” gumamnya.
Elder Chi langsung berwajah gelap. “Anak muda, kamu sangat sombong di usia muda. Bukankah itu hanya seorang suruhan seseorang?” cibirnya.